Terbit pada
Jumat, 16 Oktober 2026

Kampus ITS, ITS News — Maraknya insiden ledakan liquefied petroleum gas (LPG) menjadi pengingat akan pentingnya waspada dalam menggunakan LPG. Menanggapi insiden tersebut, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Drs R Djarot Sugiarso KS MS membagikan panduan pencegahan kebakaran dan ledakan akibat LPG.
Dosen Departemen Kimia ITS tersebut memaparkan, LPG merupakan campuran hidrokarbon yang diperoleh dari pengolahan gas alam dan penyulingan minyak bumi. Dalam tabung bertekanan, LPG disimpan dalam bentuk cairan dan akan menguap menjadi gas ketika dialirkan untuk penggunaan. “LPG komersil umumnya mengandung propana dan butana sebagai komponen utamanya,” terangnya.
Kedua senyawa tersebut, lanjut Djarot, memiliki karakteristik yang mudah terbakar ketika berinteraksi dengan oksigen di udara. Campuran yang dihasilkan ini rentan memicu pembakaran cepat ketika mencapai batas konsentrasi tertentu dan tersulut pemantik seperti percikan api atau listrik. “Pembakaran cepat ini meningkatkan tekanan hingga menimbulkan ledakan,” tuturnya.
Kendati berpotensi memicu bahaya, kebocoran LPG sebenarnya dapat dideteksi sejak dini oleh masyarakat. Djarot memaparkan, LPG secara alami tidak memiliki bau. Oleh karena itu, produsen menambahkan zat kimia khusus berupa etil merkaptan agar kebocoran gas dapat segera dikenali melalui aroma khasnya yang menyengat.

Djarot melanjutkan bahwa sirkulasi udara yang tidak memadai dapat menyebabkan kebocoran gas menumpuk sehingga meningkatkan risiko ledakan. Penumpukan gas ini dapat dikenali dari aroma khas LPG yang menyengat. “Apabila terjadi kebocoran, segera lepas regulator tabung, buka semua pintu dan jendela, dan bawa tabung ke area terbuka,” pesannya.
Selain penanganan saat terjadi kebocoran, Djarot juga menekankan bahwa penempatan tabung LPG wajib berada di ruangan dengan ventilasi udara dan berjarak aman dari sumber listrik atau api. Selain itu, tabung gas harus selalu disimpan dalam posisi tegak berdiri di atas lantai yang datar dan kering agar tidak mudah terguling.

Selain itu, Djarot mengingatkan, masyarakat perlu memeriksa kondisi tabung, selang, dan regulator secara berkala. Pemeriksaan indikasi kebocoran dapat dilakukan menggunakan air sabun pada sambungan regulator dan selang. Jika muncul gelembung menandakan terdapat indikasi kebocoran sehingga peralatan perlu diperiksa dan ditangani sebelum digunakan kembali.
Melalui panduan ini, edukasi keselamatan dan mitigasi risiko yang digaungkan kian mengukuhkan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Poin yang didukung meliputi poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Diharapkan edukasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan hidup yang aman dan nyaman. (*)
Reporter: Jecklin Chintya Galle Djami
Redaktur: Khaila Bening Amanda Putri