Terbit pada
Selasa, 13 Oktober 2026

MANOKWARI SELATAN, ITS News — Di Oransbari, Manokwari Selatan hingga kini masyarakatnya kerap kali menghadapi keterbatasan akses bahan bakar rumah tangga. Tanggapi kondisi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 8 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembangkan pemanfaatan biomassa menjadi gas di Manokwari Selatan, Papua Barat.
Ketua TEP 8 Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT memaparkan bahwa saat ini, minyak tanah subsidi yang beredar berkisar pada harga dua puluh ribu per lima liter. Kemudian, di tengah pasokan yang terbatas, harga elpiji 12 kilogram dapat mencapai Rp500.000 hingga Rp800.000 ketika terjadi kelangkaan.
Akhirnya, masyarakat terpacu untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih terjangkau dan berbasis potensi lokal. Untuk itu, tim patriot ITS di Manokwari Selatan itu berhasil ciptakan kompor gas dengan sumber energi dari limbah kotoran sapi warga.
Arief menjelaskan bahwa reaktor tersebut memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama produksi biogas. Menurutnya, Distrik Oransbari memiliki potensi pemanfaatan biomassa menjadi sumber energi yang cukup besar. “Hal itu didukung aktivitas peternakan dan pertanian yang berkembang di kawasan ini,” ujar Arief.

Dosen Teknik Instrumentasi itu menjelaskan, dari kandang sapi, kotoran sapi dikumpulkan untuk dimasukkan ke dalam pengaduk dengan perbandingan dengan air 1 banding 1. Setelah kekentalan sesuai, campuran akan dialirkan masuk ke reaktor biogas, hingga berlangsungnya proses fermentasi anaerob (tanpa oksigen) oleh bakteri.
Proses supply biomassa ke reaktor berlangsung setiap hari secara berkelanjutan tanpa terputus. Begitupun dengan fermentasi anaerob pada kompor biogas yang berlangsung selama kurang-lebih tiga minggu.
Setelah 3 minggu, Arief melanjutkan, valve yang ada di atas reaktor biogas akan dibuka agar bisa menyalurkan gas ke kompor biogas. “Begitupun valve yang ada di dekat kompor akan dibuka agar dapat menyalurkan gas ke kompor, hingga kompor dapat digunakan untuk memasak,” terangnya.
Namun Arief juga menekankan batas aman tekanan gas harus memperhatikan manometer selama pemanfaatan kompor biogas ini. Karenanya, saluran gas turut dilengkapi dengan manometer yang juga dapat mengukur durasi pemakaian untuk memasak. “Durasi memasak bergantung pada tekanan yang ada di manometer, normalnya selama satu jam dan tidak boleh sampai di bawah 3 kilopascal (kpa),” papar Dosen Lab Instrumentasi Pengukuran itu.
Arief juga menyebutkan bahwa tidak ada keterbatasan masakan, sebab tidak ada perbedaan pada kompor pada umumnya. Dengan itu, kehadiran kompor biogas dinilai dapat menekan ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan minyak tanah yang sulit untuk didapatkan.

Pengembangan biogas tersebut turut mendapat perhatian Menteri Transmigrasi RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. Bersama dengan tim dari Kementerian Transmigrasi, Ia telah melakukan peninjauan langsung.
Iftitah menilai bahwa teknologi yang telah ada perlu dikembangkan hingga mampu menghasilkan energi listrik. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan setelah TEP ITS menyelesaikan penugasan. “Potensi lokal harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat secara berkelanjutan,” tegas Iftitah.
Untuk menjaga keberlanjutan, TEP 8 ITS membentuk tim kader patriot bersama masyarakat dan unsur lokal. Kader tersebut melibatkan penerima manfaat, pemuda, serta BUMDes Margorukun.
Para kader mendapat pembekalan mengenai operasional, perawatan, pemeliharaan reaktor, dan pemanenan produk. Mereka juga memperoleh Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pedoman pengelolaan teknologi secara mandiri.
Keterlibatan BUMDes sekaligus memperkuat rantai ekonomi melalui pengelolaan bio-slurry menjadi pupuk organik. Skema tersebut diharapkan menghubungkan peternakan, energi, pertanian, dan ekonomi desa dalam satu ekosistem.
Pengembangan biogas di Manokwari Selatan ini turut mendukung cita-cita Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDGs ke-7 melalui energi bersih dan terjangkau. Selain itu, melalui dukungan dan kolaborasi antara Kementrans dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seperti ITS juga selaras dengan SDGS ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)
Reporter: Syifa Rahmadina