Terbit pada
Selasa, 13 Oktober 2026

NTT, ITS News – Sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat, tenun menawarkan peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk budaya yang bernilai ekonomi. Menilik potensi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lakukan Pendampingan Pengembangan Produk dan Model Pemasaran Digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Ponu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pendampingan yang dirancang dalam bentuk Forum Group Discussion (FGD) diinisiasi sebagai langkah awal memperluas wawasan para perajin akan potensi pengembangan kain tenun yang lebih beragam dan fungsional. Dengan demikian, 40 perajin tenun di Kabupaten Timor Tengah Utara ini akhirnya dapat menghasilkan tenun yang bernilai jual lebih tinggi dari sebelumnya.
Ketua TEP 23 ITS di Ponu Dr Waluyohadi SDs MDs mengungkapkan bahwa selama ini, aktivitas menenun telah menjadi alternatif kegiatan ekonomi masyarakat. Terutama saat kondisi cuaca tidak mendukung aktivitas pertanian di kawasan. “Jadi, sebagian dari masyarakat akan menenun saat musim penghujan berakhir, sebab aktivitas pertanian menjadi lebih terbatas,” terang Waluyo.

Produk tenun yang umum dihasilkan berupa Tais, yaitu kain tenun berukuran besar untuk perempuan, dan Beti untuk laki-laki. Harga keduanya berkisar antara 1 juta hingga 1,5 juta rupiah, tergantung pada motif dan karakteristik kain. Sementara itu, kain tenun berukuran lebih kecil seperti selempang umumnya dijual sekitar 150 ribu hingga 250 ribu rupiah.
Akan tetapi, Waluyo dan tim menemukan bahwa hasil tenun yang diproduksi masih sangat minim pemasaran. Penjualan pun cenderung dilakukan ketika perajin benar-benar tidak mendapatkan pemasukan.
Apabila kain tidak terjual, perajin memilih menyimpannya atau bahkan memberikan kepada kerabat untuk kebutuhan acara adat. Selain itu, belum adanya standarisasi harga menjadi permasalahan baru. “Harga kain dapat berbeda antara satu perajin dengan perajinlainnya, sehingga nilai ekonomi produk belum sepenuhnya optimal,” papar Waluyo.

Untuk itu, TEP 23 ITS menggelar pelatihan bertajuk Forum Group Discussion (FGD) dengan mendatangkan seorang pengusaha muda sekaligus pengelola Biboki Art, yakni Robert yang juga merupakan putra dari sang pendiri Maria Yovita Meta-Bastian. Hal tersebut sebagai upaya tim dalam memberikan gambaran akan peluang kain tenun khas Ponu, NTT.
Biboki Art sebagai salah satu perusahaan kerajinan tenun di Timor Tengah Utara telah sukses memberdayakan perajin tenun lokal. Selain itu, dengan pengalaman Biboki Arta dalam mengembangkan kain tenun tradisional menjadi berbagai produk dengan motif yang beragam dinilai Waluyo dapat mendorong masyarakat untuk turut meningkatkan kualitas tenun mereka.
Dalam praktiknya, Biboki Art melatih para perajin untuk memproduksi tenun yang tidak hanya berhenti pada selembaran kain. Lebih dari itu, Biboki Art mendorong pengembangan hasil tenun menjadi berbagai produk, seperti tas, dompet, pakaian, dan berbagai produk desain lainnya. “Produk harus memiliki fungsi dan nilai jual, dan pengembangannya harus tetap menjaga identitas dan karakter tenun yang masyarakat punya,” terang Robert.
Model pengembangan tersebut menjadi contoh nyata bagi para perajin di Ponu bahwa kain tenun dapat memiliki nilai tambah ketika dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan target pasar yang lebih luas.
Melalui sesi inspirasi tersebut, para peserta diperkenalkan pada proses pengembangan produk, mulai dari melihat potensi kain, menentukan bentuk produk, hingga bagaimana produk tersebut dapat dipasarkan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Kegiatan FGD ditutup dengan pengenalan peluang pengembangan produk dan penjajakan kerja sama antara kelompok tenun Ponu dengan Biboki Art. Para perajin mendapatkan gambaran mengenai bagaimana hasil tenun dapat dikembangkan menjadi produk turunan yang lebih bernilai.
Ke depan, setiap kelompok tenun diharapkan memiliki peluang untuk menjalin kerja sama dengan Biboki Art. Khususnya dalam pengembangan desain dan pemanfaatan kain tenun menjadi produk yang lebih siap dipasarkan.

Bagi Waluyo dan tim, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pendampingan pengembangan produk dan model pemasaran digital UMKM di Kawasan Transmigrasi Ponu. FGD pertama ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengubah cara pandang terhadap tenun Ponu dari sekadar kain menjadi produk budaya yang dapat dikembangkan secara kreatif, memiliki nilai ekonomi, serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Pengembangan produk budaya yang bernilai ekonomi serta pemberdayaan masyarakat transmigran dengan potensi daerahnya turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama SDGs ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kolaborasi antara perajin, pemerintah, pelaku usaha, dan TEP 23 ITS diharapkan dapat menjadi pondasi bagi pengembangan ekosistem tenun yang lebih berkelanjutan di kawasan transmigrasi Ponu.
Reporter: Syifa Rahmadina