Doktor Baru ITS Rancang Inovasi Model Daur Ulang Terpadu

Terbit pada

Selasa, 13 Oktober 2026

Dr Hilyatun Nuha ST MT saat menjelaskan penelitian dalam disertasinya pada sidang promosi doktor di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS

Kampus ITS, ITS News — Timbulan sampah plastik, khususnya jenis Polyethylene Terephthalate (PET) dari botol minuman, masih menjadi tantangan ekologis dan ekonomi yang serius di Pulau Jawa. Menjawab permasalahan ini, Dr Hilyatun Nuha ST MT, lulusan Program Doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menginovasikan model Reverse Logistics Network berbasis kolaborasi.

Doktor yang menjadi dosen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini mengungkapkan bahwa sekitar 88,17 persen sampah plastik di Pulau Jawa masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa proses daur ulang. Padahal, pengelolaan sampah botol PET memiliki potensi besar untuk mendukung rantai pasok berkelanjutan dan ekonomi sirkular. “Masalah penumpukan ini dipicu oleh lemahnya integrasi pengumpulan dari skala rumah tangga,” terangnya.

Dr Hilyatun Nuha ST MT (kiri) di sela diskusi dengan promotor Prof Nurhadi Siswanto ST MSIE PhD (dua dari kanan) dan Prof Ruhul A Sarker dari University of New South Wales, Australia (dua dari kiri)

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Gresik yang akrab disapa Hilya ini merancang dan membandingkan tiga skema pemodelan matematika kuantitatif secara bertahap. Tiga skema tersebut meliputi model konvensional, model integrasi masyarakat dan pemerintah, hingga puncaknya melahirkan skema kolaborasi antar-kolektor sampah melalui konsep endogenous cost sharing. “Kebaharuan skema ketiga terletak pada pembagian biaya simpan antara bank sampah dan dinas lingkungan,” paparnya.

Perbandingan antar-skema dalam riset yang dibimbing oleh Prof Nurhadi Siswanto ST MSIE PhD dan Dr Eng Erwin Widodo ST MEng ini membuktikan keunggulan skema kolaborasi tersebut. Pada skema integrasi tanpa kolaborasi, sampah PET yang tak terangkut masih berada di angka 21 persen, sedangkan pada skema kolaborasi angka tersebut berhasil ditekan menjadi nol persen. “Penerapan skema kolaborasi ini juga memangkas biaya lingkungan dari Rp 1,813 miliar menjadi Rp 0,182 miliar,” tambahnya.

Dr Hilyatun Nuha ST MT bersama para peserta kegiatan Seminar Nasional dan Kongres ISLI 2022 saat melakukan kunjungan lapangan ke salah satu tempat pengelolaan PVC

Kualitas dan kebaharuan disertasi milik perempuan yang menghabiskan masa studinya di ITS ini juga berhasil menembus jurnal internasional bereputasi tinggi Supply Chain Analytics terbitan Elsevier. Selain dekat dengan kondisi praktis di lapangan, model matematika yang dibangun menggunakan software yang mudah diakses. “Seluruh proses optimasi kami jalankan menggunakan perangkat lunak yang bisa diakses siapa saja,” bebernya.

Melalui pencapaian ini, Hilya berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dapat terus memperbanyak fasilitas pengumpulan sampah terpadu serta memberikan insentif langsung bagi industri daur ulang. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. (HUMAS ITS)

 

Reporter: Nur Anisa Alya Eriska

×