Bangun Kesiapsiagaan Bencana, ITS Edukasi Siswa Lewat Simulasi Interaktif

Terbit pada

Jumat, 9 Oktober 2026

Penjelasan mekanisme terjadinya likuifaksi tanah menggunakan perangkat simulasi oleh Aan Fauzi ST MT, dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS

Kampus ITS, ITS News — Upaya meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan bencana di kalangan generasi muda terus dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas), tim dosen dan mahasiswa dari Departemen Teknik Infrastruktur Sipil (DTIS), Fakultas Vokasi ITS memberikan edukasi mengenai fenomena likuifaksi dan tanah longsor kepada siswa sekolah menengah melalui pembelajaran interaktif dan simulasi sederhana.

 

Kegiatan dilaksanakan di dua lokasi. Kegiatan pertama dilaksanakan di SMKN 1 Lengkong dengan melibatkan sebanyak 50 siswa pada Selasa, (15/9). Selanjutnya, kegiatan serupa dilaksanakan di MA Al-Amien Prenduan dengan melibatkan 80 siswa pada Rabu, (30/9). Program edukasi kebencanaan ini menjangkau total 130 siswa SMA/SMK.

 

Berbeda dengan penyampaian materi kebencanaan secara konvensional, kegiatan ini memadukan penjelasan konsep, diskusi interaktif, dan demonstrasi langsung. Para siswa diajak memahami bagaimana proses terjadinya likuifaksi dan tanah longsor, faktor-faktor yang memengaruhinya, dampak yang ditimbulkan, hingga langkah mitigasi yang dapat dilakukan.

 

Edukasi dilakukan secara interaktif disertai demonstrasi langsung menggunakan perangkat simulasi sederhana

Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, tim ITS merancang perangkat simulasi sederhana berupa pasir, air, model bangunan dan kendaraan, serta alat getar. Melalui simulasi tersebut, siswa dapat mengamati secara langsung perubahan perilaku tanah ketika menerima getaran serta dampaknya terhadap bangunan yang berada di atas permukaan tanah. Pendekatan simulasi dipilih karena dapat membantu siswa memahami fenomena likuifaksi secara lebih aplikatif.

 

Selanjutnya, dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS, Aaan Fauzi ST MT dan Deris Faisa Ralindra ST MT memaparkan mekanisme terjadinya bencana dan mengajak siswa berdiskusi mengenai berbagai kejadian likuifaksi dan tanah longsor serta pentingnya mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar.

 

Deris selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa program pengabdian masyarakat ini tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan istilah dan fenomena kebencanaan kepada siswa, tetapi juga untuk memahami bagaimana prosesnya dapat terjadi, apa dampaknya, serta bagaimana kita dapat melakukan mitigasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun pola pikir generasi muda yang lebih sadar terhadap risiko bencana. “Melalui simulasi sederhana, konsep yang sebelumnya cukup abstrak diharapkan menjadi lebih mudah dipahami dan diingat oleh siswa,” tutur Deris.

 

Lebih lanjut, Deris menyampaikan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini. Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga dapat disampaikan kembali kepada keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

 

Harapannya, para siswa dapat menjadi bagian dari generasi yang lebih tanggap dan siap menghadapi bencana. Hal tersebut sejalan dengan tujuan program yang mendorong siswa menjadi agen edukasi kebencanaan serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana di lingkungan sekitar. “Mereka juga dapat menjadi agen edukasi yang menyebarkan pengetahuan sederhana mengenai kebencanaan kepada teman, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya,” tambahnya.

 

Prof Ir Dr Chan Chee Ming (depan, ketiga dari kiri) dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) turut menghadiri kegiatan pengabdian masyarakat ITS

 

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Prof Ir Dr Chan Chee Ming dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). Dalam kesempatan tersebut, Chan menekankan pentingnya generasi muda mempelajari berbagai fenomena bencana alam, termasuk tanah longsor dan likuifaksi. Kehadiran akademisi dari UTHM tersebut sekaligus memberikan perspektif lebih luas kepada siswa mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dan rekayasa dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana.

 

Melalui kombinasi edukasi, diskusi, dan simulasi, tim Abmas ITS berharap siswa mampu memahami fenomena kebencanaan dengan cara yang lebih mudah, menarik, dan kontekstual. Pendekatan partisipatif tersebut juga dirancang agar siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

 

Program ini menjadi salah satu wujud kontribusi ITS dalam membawa pengetahuan dari perguruan tinggi lebih dekat kepada masyarakat. Selain memperkuat literasi kebencanaan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar, siap, dan tanggap bencana di lingkungan sekolah sejak dini. Hal ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) terutama poin ke-11 tentang Kota dan Pemukiman Berkelanjutan. (*)

×