Kisah Estafet Ilmu, Ayah dan Anak Wisuda Bareng di ITS

Terbit pada

Sabtu, 3 Oktober 2026

Tularkan jiwa insinyur dalam keluarga, ayah dan anak berbagi panggung wisuda bersama di gelaran Wisuda ke-134 ITS
Tularkan jiwa insinyur dalam keluarga, ayah dan anak berbagi panggung wisuda bersama di gelaran Wisuda ke-134 ITS

Kampus ITS, ITS News — Gelaran upacara Wisuda ke-134 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi momen sangat berkesan bagi dua wisudawan dari Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS). Keduanya adalah Dr Ir Suroso ST MM IPM dan Najwan Raditya Abiyoga ST sebagai ayah dan anak yang diwisuda bersama dari Departemen Teknik Mesin ITS pada gelaran hari pertama Wisuda ke-134 ITS di Grha Sepuluh Nopember ITS, Sabtu (3/10).

Pada tahun 1989, Suroso yang merupakan Direktur Utama PT Sinergi Solusi Utama (Dapen PLN Group) itu juga menempuh pendidikan sarjananya di departemen yang sama di ITS. Lulus pada tahun 1994, Suroso menceritakan bahwa Departemen Teknik Mesin ITS merupakan almamater yang melatarbelakangi perjalanan karirnya di dunia rekayasa dan industri ketenagalistrikan.

Tak berhenti di sana, tahun 2006 lelaki kelahiran Karanganyar itu pun telah menuntaskan studi magister di salah satu kampus swasta. Di tengah puncak karirnya, Suroso akhirnya kembali ke kampus ITS untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Departemen Teknik Mesin. “Keputusan yang berat, namun saya berambisi untuk mendalami teknologi baterai sekaligus menjadi teladan bagi anak dan pegawai di lingkungan kerja saya,” ungkapnya.

Dr Ir Suroso ST saat usai menjalani sidang disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor di Departemen Teknik Mesin ITS
Dr Ir Suroso ST saat usai menjalani sidang disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor di Departemen Teknik Mesin ITS

Menurut lelaki kelahiran 1 Desember 1969 tersebut, ITS bukan hanya sekadar kampus, namun juga merupakan ruang baginya untuk membentuk pola pikir sebagai seorang insinyur. Fondasi tersebut rupanya berhasil ia cerminkan dalam perannya sebagai seorang ayah yang menginspirasi sang anak, Najwan.

Suroso menjelaskan bahwa dalam bimbingannya ia tidak pernah memaksakan, namun juga tidak menyembunyikan betapa dirinya mencintai bidang tersebut. Dengan konsistensi dan keberhasilan karir yang ditempuhnya, Suroso menilai bahwa hal itulah yang akhirnya menular pada sang anak. “Bukan dari instruksi, tapi dari apa yang dilihat olehnya sehari-hari di rumah, kantor, organisasi, atau lingkungan saya berkiprah,” cerita Suroso.

Hal tersebut pun turut diungkapkan oleh Najwan tentang bagaimana ayahnya menjadi teladan yang menginspirasi dirinya untuk berkuliah juga di almamater yang sama, Teknik Mesin ITS. Sejak kecil, ia telah terbiasa memperhatikan aktivitas sang ayah ketika mengerjakan hal-hal teknis. “Jadi ayah senang mengajari saya memperbaiki dan mengakali sesuatu di rumah, mengajak ke tempat kerja untuk memperlihatkan apa yang dikerjakannya,” tutur pemuda kelahiran Batam, 26 September 2002 tersebut.

Melalui kebiasaan kecil tersebut rupanya menumbuhkan rasa ketertarikan dan penasarannya terhadap dunia engineering. Hingga akhirnya, anak lelaki pertama itu melabuhkan ITS sebagai tempatnya menempuh pendidikan tinggi yang sama seperti ayahnya. “Meski mengikuti jejak ayah, saya juga ingin membuktikan bahwa saya bisa membangun jejak sendiri di bidang yang sama,” imbuh Najwan optimistis.

Najwan Raditya Abiyoga ST setelah tuntaskan sidang Tugas Akhir (TA) di Departemen Teknik Mesin ITS
Najwan Raditya Abiyoga ST setelah tuntaskan sidang Tugas Akhir (TA) di Departemen Teknik Mesin ITS

Pemikiran tersebut ternyata juga telah ditanamkan oleh Suroso kepada anaknya, bahwa jalan yang ditempuh tidak harus sama dengan apa yang telah dilaluinya. “Yang saya tekankan adalah konsistensi, disiplin, kreativitas dan rasa ingin tahu sebagai satu pedoman penting,” tegas Suroso meyakinkan.

Suatu kebanggaan tersendiri diungkapkan oleh Najwan ketika melihat dedikasi orang tuanya dalam pendidikan. Di tengah kesibukan dan usia yang tidak lagi muda, Suroso berhasil menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam menuntaskan disertasi sebagai tanggung jawab akademik.

Hal tersebut pun berhasil membuka cara pandang Najwan soal pendidikan. Dari ayahnya, ia melihat bagaimana belajar bukan sekadar mencari gelar, namun rasa ingin tahu yang tak boleh habis untuk ditimba. “Selain itu, kegigihan, kerja keras, dan komitmen untuk selalu menuntaskan apa yang sudah dimulai berhasil tertanam dalam benak saya,” tuturnya.

Keduanya juga membagikan kebersamaan selama proses pengerjaan tugas akhir (TA) ataupun disertasi. Momen tersebut jadi cerita tak terlupakan saat keduanya duduk di meja yang sama dan begadang menghadapi tenggat waktu mengerjakan TA dan disertasi. “Sering kali laptop Najwan jadi lelet dan laptop saya sering galat karena sama-sama mengolah data-data yang besar,” papar Suroso menceritakan momen berkesan tersebut.

Dr Ir Suroso ST (kiri) yang diwisuda bersama sang putra Najwan Raditya Abiyoga ST (kanan) dari Departemen Teknik Mesin ITS pada gelaran Wisuda ke-134 ITS
Dr Ir Suroso ST (kiri) yang diwisuda bersama sang putra Najwan Raditya Abiyoga ST (kanan) dari Departemen Teknik Mesin ITS pada gelaran Wisuda ke-134 ITS

Dengan pengalaman panjangnya, Suroso berupaya untuk selalu jadi teman diskusi bagi Najwan, bukan sebagai seorang guru yang selalu memiliki jawaban. “Rasanya seperti kembali jadi mahasiswa bersama anak sendiri yang sedang berjibaku menyelesaikan tugas, bukan seperti orang tua dan anak,” ungkapnya.

Berkat hal tersebut, momen wisuda bersama yang sebelumnya tak pernah terbayangkan pun menjadi kenyataan di depan mata. Bukan sekadar kebetulan, Suroso dan Najwan ternyata juga telah sepakat untuk mengejar momen wisuda bersama saat masa studi keduanya tersisa satu semester.

Lebih lanjut, kebahagiaan tak terhingga menantikan bagaimana momen wisuda kali ini akan berbagi bersama anaknya di panggung dan hari yang sama. Hal tersebut, menurut Suroso, jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. “Rasanya seperti dua babak perjalanan pendidikan dalam satu keluarga berakhir dan dimulai pada hari yang sama,” tuturnya bahagia.

Melalui kisah wisuda bersama ini, Suroso ingin Najwan dan anak-anaknya melihat bahwa belajar tidak kenal batas usia, dan mengejar ilmu adalah sebuah perjalanan seumur hidup. “Selain itu, kuliah juga bukanlah sekadar kewajiban masa muda yang selesai begitu wisuda,” tekan Suroso mengingatkan.

Kisah keduanya turut mencerminkan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam membangun pendidikan yang berkualitas di dalam keluarga (SDG 4). Nilai-nilai inspiratif membuktikan bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat demi mencetak generasi unggul yang berkarakter untuk kehidupan yang sejahtera (SDG 3). (HUMAS ITS)

×