Terbit pada
Sabtu, 26 September 2026

Kampus ITS, ITS News — Dua gagasan mahasiswa Departemen Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil meraih juara dalam kategori Questioning Architecture pada Kompetisi Tugas Akhir (KTA) 2026. Mengangkat isu keterbukaan ruang pengadilan dan ketahanan masyarakat terhadap tekanan perkotaan, kedua karya tersebut masing-masing meraih juara pertama dan kedua dalam kompetisi tingkat nasional ini.
Penghargaan tersebut diumumkan pada final KTA 2026 yang berlangsung di Departemen Arsitektur ITS, Jumat (25/9) lalu. Digelar untuk kali ke-22 sejak 2004, KTA menjadi wadah bagi mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempresentasikan gagasan, proses perancangan, dan perspektif arsitektural. Tahun ini, rangkaian KTA berlangsung pada 21–25 September dengan tema Generative.

Juara pertama diraih Nararya Akhtar Kuntadi melalui karya tugas akhir berjudul The Disjunctive Courthouse: Pendekatan Arsitektur Disjungsi pada Perancangan Pengadilan Tinggi. Karya tersebut berangkat dari kritik terhadap desain pengadilan konvensional yang cenderung menampilkan ruang secara statis serta membatasi interaksi antara institusi peradilan dan masyarakat.
Melalui gagasannya, Nararya berupaya menghadirkan ruang pengadilan yang lebih terbuka, sehingga masyarakat dapat memahami dinamika yang berlangsung di dalam institusi peradilan. Pengadilan tidak harus selalu dipahami sebagai bangunan yang tertutup dan eksklusif. “Saya ingin menghadirkan pengalaman ruang yang memungkinkan publik melihat dinamika di dalamnya,” ujarnya.

Sementara itu, Arvinda Cahya Ramadhana meraih juara kedua melalui karya Arsitektur sebagai Antibodi: Ruang Kolektif Salutogenik sebagai Katalis Resiliensi Mental Masyarakat Urban. Karya tersebut mengangkat persoalan tekanan kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan dengan menganalogikan bangunan sebagai sistem antibodi.
Alih-alih sepenuhnya mengisolasi manusia dari panas, kebisingan, kepadatan, dan berbagai stimulus perkotaan, Arvinda merancang arsitektur yang memberikan paparan secara bertahap dan terkendali. Pendekatan tersebut ditujukan agar pengguna dapat membangun kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan perkotaan.
Atas capaian tersebut, Nararya sebagai juara pertama berhak memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp 4 juta, sedangkan Arvinda sebagai juara kedua memperoleh Rp 2 juta. Prestasi keduanya menunjukkan keberagaman gagasan arsitektur mahasiswa ITS dalam merespons persoalan ruang dan kehidupan masyarakat.

Menutup rangkaian KTA 2026, Kepala Departemen Arsitektur ITS Teddy Badai Samodra ST MT PhD berharap agar kompetisi tersebut dapat terus menjadi ruang pengembangan gagasan mahasiswa. “Semoga kompetisi ini terus menjadi wadah mahasiswa mengembangkan gagasan dan karya arsitektur yang relevan dengan perkembangan zaman,” harapnya.
Gagasan kedua mahasiswa tersebut turut mencerminkan kontribusi ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (*)
Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari