Hari Statistik Nasional, Menghubungkan Data dan Realitas Publik

Terbit pada

Sabtu, 26 September 2026

Analisis Data
Proses analisis data untuk kebutuhan kebijakan publik (sumber: NAS Online)

Kampus ITS, Opini — Persoalan validitas data seringkali memunculkan skeptisisme di tengah masyarakat. Data yang palsu dan informasi yang tidak pasti masih menjadi tantangan di tengah peringatan Hari Statistik Nasional. Lantas, akankah perayaan tersebut masih relevan sebagai refleksi akan pentingnya literasi data bagi masyarakat?

Setiap 26 September, masyarakat Indonesia memperingati Hari Statistik Nasional sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran pentingnya statistik dalam kehidupan. Statistik tidak hanya berkaitan dengan angka dan tabel, tetapi juga dasar dalam memahami berbagai kondisi sosial, ekonomi, dan pembangunan. Selain itu, kemampuan membaca serta menilai informasi berbasis data menjadi kebutuhan penting agar masyarakat mampu memahami konteks di baliknya.

Di tengah refleksi pentingnya statistik, masyarakat masih dihadapkan pada tantangan dalam memahami dan memanfaatkan data secara kritis. Salah satunya adalah fenomena lie of statistics, yaitu penyalahgunaan statistik melalui pemilihan angka, indikator, dan visualisasi untuk mendukung kepentingan tertentu. Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika informasi berbasis data tersebar luas melalui berbagai media digital tanpa konteks yang memadai.

Fenomena lie of staistics
Fenomena lie of statistic dalam bentuk bagan garis untuk manipulasi kepercayaan publik (sumber: StatisticEasily.com)

Pemanfaatan statistik pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari cara data tersebut dikomunikasikan kepada publik. Pada Agustus lalu, pembaruan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN)  memicu polemik di tengah masyarakat. Hasil pemeringkatan desil dinilai sebagian masyarakat tidak mencerminkan kondisi ekonomi mereka. Respons tersebut menunjukkan bahwa persoalan statistik tidak berhenti pada angka, tetapi juga bagaimana data dikomunikasikan pada masyarakat.

Lebih lanjut, penggunaan data yang menyesatkan juga berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap publikasi statistik. Jika data yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi riil, maka masyarakat dapat mempertanyakan validitas data sekaligus lembaga desiminasi data. Kondisi ini dapat memperlebar jarak antara informasi statistik dan pengalaman masyarakat dalam memahami realitas sosial.

Penelitian Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI) menunjukkan bahwa skeptisisme terhadap data turut berkaitan dengan cara informasi dikomunikasikan kepada publik. Data yang disajikan tanpa penjelasan mengenai sumber, metode pengumpulan, indikator, maupun keterbatasannya akan lebih sulit dipahami masyarakat. Sebaliknya, keterbukaan dalam memproses penyusunan data dapat membantu publik memahami mengapa suatu angka dihasilkan.

Gencarnya bantuan sosial
Masyarakat yang mendapatkan bantuan sosial melalui publikasi yang kredibel (sumber: BBC News Indonesia)

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap statistik tidak hanya bergantung pada kualitas data, tetapi juga pada tanggung jawab dalam menyampaikan dan menerimanya. Statistisi, akademisi, pemerintah, dan lembaga penyedia data memiliki peran untuk menghadirkan informasi yang transparan, mudah dipahami, serta dapat dipertanggungjawabkan. Penyajian data juga perlu disertai konteks yang memadai agar masyarakat dapat memahami proses dan batasan di baliknya.

Oleh karena itu, Hari Statistik Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Momentum ini dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat budaya literasi data, sekaligus mendorong keterbukaan dalam penyusunan statistik. Dengan kemampuan memahami angka, konteks, dan interpretasi data secara kritis, statistik dapat menjadi jembatan antara informasi dan kepercayaan publik. (*)

Ditulis oleh:
Mohammad Fariz Irwansyah
Mahasiswa Departemen Statistika
Angkatan 2024
Reporter ITS Online

×