Tuna Melimpah, TEP 19 ITS Tingkatan Kapasitas Produksi Abon Ikan

Terbit pada

Jumat, 25 September 2026

Oleh
itshafidz
220

Anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 ITS saat menjelaskan rencana rantai usaha pengolahan abon ikan tuna di Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat

Manokwari Selatan, ITS News – Melimpahnya hasil tangkapan ikan tuna di Kampung Abreso, Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat, menyimpan peluang ekonomi sekaligus tantangan bagi masyarakat. Ketika hasil tangkapan melebihi daya beli masyarakat, ikan segar berisiko tidak terserap dan terbuang. Melihat kondisi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendorong peningkatan kapasitas produksi olahan ikan tuna menjadi produk bernilai tambah berupa abon.

Aisyah, anggota TEP 19, menjelaskan bahwa masyarakat Kampung Abreso telah memiliki kemampuan mengolah tuna menjadi abon. Namun, proses produksi masih dilakukan dalam skala rumahan menggunakan peralatan dapur sederhana. Kondisi tersebut membatasi kapasitas produksi sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar. Padahal, selama ini produk olahan ikan tuna berupa abon selalu habis terjual. “Artinya, permintaan sudah ada, tetapi kapasitas produksinya masih terbatas,” jelasnya.

Karena itu, TEP 19 dipimpin Dr Fahmi ST dari Departemen Teknik Kimia ITS ini memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kapasitas melalui mekanisasi proses produksi. Peralatan yang disiapkan meliputi steamer, pencacah ikan, rotary cooker dan agitator vessel, spinner peniris minyak, hingga vacuum sealer. Penggunaan peralatan tersebut diharapkan membuat proses produksi lebih higienis, efisien, dan mampu menghasilkan produk dalam jumlah lebih besar dengan kualitas yang lebih konsisten.

Tak hanya tuna, teknologi pengolahan yang dikembangkan juga dapat dimanfaatkan untuk ikan pelagis dan cakalang. Diversifikasi bahan baku ini membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak bergantung pada satu jenis komoditas sekaligus memperluas pilihan produk olahan ketika hasil tangkapan ikan melimpah.

Peningkatan nilai produk juga dilakukan melalui pengembangan desain kemasan. Fungsi kemasan tidak sekadar untuk menjaga produk, tetapi juga bisa meningkatkan daya tarik dan nilai jual abon untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Tantangan lain muncul dari kondisi pasokan energi di Manokwari Selatan yang masih menghadapi pemadaman listrik. Untuk memastikan proses produksi tetap berjalan, peralatan yang dikembangkan dirancang agar dapat menggunakan dua alternatif sumber energi, yakni listrik dan bahan bakar minyak (BBM).

Pendekatan tersebut diharapkan membuat usaha pengolahan ikan lebih adaptif terhadap kondisi setempat. Ketika listrik tersedia, peralatan dapat dioperasikan menggunakan energi listrik. Sementara saat terjadi pemadaman, sumber energi alternatif dapat digunakan sehingga aktivitas produksi tidak harus berhenti.

Anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 19 Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih jauh, TEP 19 tidak hanya menargetkan peningkatan kapasitas produksi abon. Program ini diarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari nelayan sebagai penyedia bahan baku, Kelompok Usaha Bersama (KUB) sebagai pengolah, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai penguat kelembagaan usaha, hingga masyarakat Ransiki sebagai bagian dari rantai ekonomi lokal.

Dengan demikian, ikan yang sebelumnya berisiko tidak terserap pasar kini memiliki masa simpan lebih panjang sekaligus nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pengolahan menjadi abon juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengubah potensi sumber daya laut menjadi produk usaha yang dapat dipasarkan lebih luas. Hal ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) terutama poin ke-8 tentang Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. (*)

×