Terbit pada
Jumat, 11 September 2026

Surabaya, ITS News — Upaya mengurangi sampah dapat dimulai dari hal sederhana, salah satunya dengan mengenali potensi bahan yang selama ini dianggap tidak berguna. Berangkat dari hal tersebut, tim kuliah kerja nyata (KKN) Kampung Binaan Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) Fakultas Vokasi (FV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengajak masyarakat Kenjeran, Kecamatan Bulak, Surabaya untuk mengolah sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 9, 22, dan 23 Agustus 2026 tersebut dirancang tidak hanya dalam bentuk penyuluhan, tetapi juga melalui praktik langsung dan aktivitas interaktif. Warga diajak memahami pengelolaan sampah sekaligus mencoba mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pertama diawali dengan pengenalan jenis-jenis sampah serta pentingnya pemilahan dari sumbernya. Warga diperkenalkan pada perbedaan karakteristik sampah organik dan anorganik sebagai langkah awal sebelum masuk ke praktik pemanfaatan sampah. Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah penggunaan tong fermentasi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair (POC). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dan warga bersama-sama menyiapkan dua tong fermentasi. Setelah proses pembuatan selesai, kedua tong tersebut kemudian dibiarkan menjalani proses fermentasi selama kurang lebih dua minggu.
Kegiatan tidak berhenti pada pengolahan sampah. Mahasiswa kembali mengajak warga melakukan praktik dengan memanfaatkan bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar pada Sabtu, (22/8). Kali ini, kegiatan difokuskan pada pembuatan pengharum ruangan, dengan pandan sebagai salah satu bahan yang digunakan. Warga terlibat secara langsung dalam proses pembuatan hingga menghasilkan pengharum ruangan yang dapat dibawa pulang. Praktik tersebut sekaligus memperkenalkan pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif untuk menghasilkan produk sederhana yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Sehari setelahnya, perhatian kembali diarahkan pada dua tong fermentasi yang telah dibuat pada kegiatan pertama. Setelah melalui proses fermentasi selama kurang lebih dua minggu, tong tersebut diperiksa kembali untuk melihat perkembangan hasil pengolahannya. Untuk mengetahui sejauh mana materi yang diberikan telah dipahami, tim KKN kemudian mengadakan kuis singkat bersama warga. Evaluasi dibuat dalam suasana yang lebih santai dan interaktif sehingga masyarakat dapat kembali mengingat materi mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sampah yang telah disampaikan sebelumnya.
Selain kuis, tim juga mengadakan tantangan pengumpulan sampah organik. Sampah yang dikumpulkan warga ditimbang dan bobotnya menjadi salah satu komponen penilaian untuk menentukan pemenang, bersama dengan hasil kuis. Aktivitas tersebut membuat proses evaluasi sekaligus menjadi kegiatan yang mendorong keterlibatan warga dalam mengumpulkan sampah organik dari lingkungan sekitar.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng dan pengumuman pemenang. Penutupan tersebut menjadi momen sederhana untuk merayakan seluruh rangkaian aktivitas yang telah dilakukan mahasiswa bersama masyarakat selama program KKN Kampung Binaan berlangsung.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa DTKI ITS berupaya memperkenalkan pengelolaan sampah dengan pendekatan yang lebih praktis dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Edukasi tidak hanya diberikan melalui penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan pengalaman langsung melalui proses membuat, mengamati, dan memanfaatkan hasilnya.
Dari pengolahan sampah organik menggunakan tong fermentasi hingga pembuatan pengharum ruangan berbahan alami, kegiatan KKN Kampung Binaan ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bersama-sama mengeksplorasi pemanfaatan bahan di sekitar. Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat membuka pandangan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sendiri dan dilakukan melalui praktik yang mudah dipahami serta diterapkan. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terutama pada poin ke-11 tentang Kota dan Pemukiman Berkelanjutan. (*)