Terbit pada
Selasa, 15 September 2026

Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi dalam pengembangan inovasi energi berkelanjutan. Sebagai wujud komitmen tersebut, ITS berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero) dalam kegiatan Pertamina Goes to Campus (PTGC), di Gedung Robotika, Selasa (15/9).
Mengusung tema Energizing the Future Through Ideas and Action: Inspire Ideas, Drive Action, Create Impact, PGTC menjadi ruang dialog strategis antara industri dengan dunia akademik. Pada kesempatan ini, Pertamina mengajak generasi muda ITS memahami persoalan energi sekaligus mengambil peran dalam menghadirkan solusi untuk Indonesia.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa melalui kesempatan ini, ITS menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem inovasi masa kini. Ia menegaskan bahwa perubahan harus bergerak dari gagasan menjadi karya yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. “Melalui kesempatan ini, mahasiswa harus terdorong untuk berkontribusi melalui inovasi yang memperkuat ketahanan energi nasional,” terang Bambang.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Operasi Kilang PT Pertamina Patra Niaga Didik Bahagia menilai tantangan energi tidak dapat diselesaikan secara mandiri oleh industri. Alumni Teknik Kimia ITS angkatan 1992 itu menyebut solusi masa depan juga dapat lahir dari ruang kelas dan laboratorium melalui kolaborasi lintas sektor.

Menurut Didik, PTGC membuka ruang dialog strategis antara industri dan generasi muda untuk membahas tantangan energi nasional secara lebih dekat. “Pertamina tidak hanya berupaya memastikan ketersediaan energi, tetapi juga terus mendorong transformasi bisnis menuju energi yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, keynote speech disampaikan oleh Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita. Ia menjelaskan bahwa Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda atau dual-growth strategy dalam menghadapi peningkatan kebutuhan energi nasional.
Melalui pertemuan ini, Arya mengarahkan Pertamina dan dunia kampus untuk dapat terus memperkuat sinergi dalam melahirkan inovasi untuk negeri. “Selain itu, kami berikan pembinaan kewirausahaan muda lewat program seperti Pertamuda, serta menjaga ketahanan energi Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Arya mewakili jajaran Direksi PT Pertamina (Persero).

Lebih lanjut, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menyoti bagaimana Pertamina menyikapi trilema energi. Joko Pranoto menjelaskan bahwa tantangan sektor energi di Indonesia berkaitan erat dengan trilema energi yang secara khusus dialami oleh badan usaha milik negara di bidang energi, seperti Pertamina.
Kondisi tersebut menuntut Indonesia untuk menjaga security, affordability, dan sustainability secara bersamaan dalam memenuhi kebutuhan energi kini dan masa depan. Ketiga aspek tersebut memposisikan Pertamina untuk menjamin pasokan energi yang andal, terjangkau, sekaligus berkelanjutan. “Tantangan tersebut semakin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional pada masa mendatang,” sampai Joko.
Untuk itu, Joko menjelaskan bahwa kini Pertamina tengah fokus memaksimalkan bisnis konvensional melalui penguatan kilang dan infrastruktur. Pada saat bersamaan, perusahaan mengembangkan berbagai bisnis rendah karbon sebagai bagian dari transisi energi.
Strategi tersebut diwujudkan melalui pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol seperti Pertamax Green. Pertamina juga tengah mengembangkan diesel hidrokarbon berbasis sawit serta pemanfaatan minyak jelantah.
Joko menegaskan bahwa sinergi industri dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam mempercepat kemandirian energi. “Jadi, kolaborasi riset dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan perkembangan teknologi di kampus,” ajak Joko.

Sejalan dengan semangat tersebut, Guru Besar Teknik Material dan Metalurgi ITS Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc yang mengembangan bensin bio-gasolin berbahan dasar minyak kelapa sawit. Inovasi yang dinamai Benwit tersebut menjadi bukti nyata bagaimana laboratorium kampus dapat melahirkan energi terbarukan yang mendukung kemandirian energi nasional.
Hosta menjelaskan kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber bahan bakar nabati terbarukan. Tanaman tersebut mampu berproduksi cepat dan menghasilkan volume minyak tinggi secara ekonomis. “Sawit juga memiliki ketahanan yang kuat terhadap berbagai iklim, bisa dipanen dalam waktu 3 tahun dan menghasilkan panen hingga 12 kali dalam setahun,” beber Hosta.
Inovasi yang ditawarkan oleh Hosta itu juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya domestik sebagai bahan bakar alternatif. Mengingat bahwa Indonesia saat ini merupakan produsen minyak mentah kelapa sawit tertinggi di dunia. “Potensi tersebut menjadi landasan kuat untuk mengembangkan bahan bakar nabati skala nasional,” ungkap pria kelahiran Bandung itu.
Melalui agenda strategis yang dijalankan oleh PT Pertamina dengan ITS menjadi salah satu wujud dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Pemaparan materi dengan menghadirkan dua narasumber di hadapan para mahasiswa mendukung SDGs poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Semangat dalam menciptakan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan juga sejalan dengan SDGs ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau. Pengembangan Benwit dengan prinsip zero waste juga menjunjung nilai SDGs ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.