Terbit pada
Sabtu, 26 September 2026

Kampus ITS, Opini — Berada di wilayah Cincin Api Pasifik, Indonesia dihadapkan pada dinamika aktivitas vulkanik. Di perairan Selat Sunda, Kompleks Gunung Krakatau menjadi salah satu pengingat dahsyatnya alam yang dikelilingi keindahan lanskap nusantara. Aktivitas Gunung Anak Krakatau memperlihatkan dua sisi yang berkelindan dengan ancaman bencana sekaligus berkah ekologis.
Erupsi yang berulang turut membayangi aktivitas masyarakat di sekitar Banten dan Lampung. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Juli lalu, Gunung Anak Krakatau berada pada status Level III (Siaga) yang menuntut pembatasan aktivitas di kawasan rawan demi keselamatan masyarakat. Hujan abu yang menyertai erupsi juga dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat.
Melihat ancaman erupsi bencana dapat dilakukan dari kacamata proses alam yang lebih luas. Abu vulkanik membawa mineral yang dapat menjadi sumber unsur hara bagi tanah. Studi ilmiah bertajuk Applying volcanic ash to croplands – The untapped natural solution menunjukkan bahwa pelapukan material vulkanik berpotensi memasok nutrisi bagi tanah sekaligus berkontribusi terhadap penyerapan karbon dari atmosfer.

Potensi tersebut bukan sekadar perkara kesuburan tanah. Material vulkanik termasuk tanah mineral kaya karbon yang mengalami pelapukan berkontribusi pada pembentukan tanah. Di Indonesia, tanah yang berasal dari material vulkanik diperkirakan mencakup sekitar 31,7 juta hektare atau 17 persen dari luas daratan. Pada tahun-tahun dengan aktivitas erupsi signifikan, proses pelapukan material vulkanik bahkan diperkirakan berpotensi menyerap 100–200 juta ton CO₂.
Manfaat ekologis material vulkanik tidak hadir seketika. Abu yang baru mengendap perlu mengalami pelapukan dan berinteraksi dengan tanah serta bahan organik sebelum memberikan manfaat yang optimal. Abu vulkanik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami dengan tetap menyesuaikan pada karakter material dan kondisi tanah.

Pemahaman mengenai karakter material vulkanik menjadi bekal penting dalam memulihkan lahan pascaerupsi. Material vulkanik yang telah mengalami proses pelapukan dapat dikelola bersama tanah dan bahan organik, kemudian disesuaikan dengan kondisi lahan serta kebutuhan tanaman. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menunggu lahan kembali subur secara alami, tetapi dapat berperan dalam mempercepat pemulihan secara terukur.
Kesiapsiagaan menghadapi gunung api pada akhirnya tidak berhenti pada upaya menghindari ancaman. Hidup berdampingan dengan alam perlu dimaknai melalui pemahaman terhadap karakter lingkungan dan kemampuan mengelola dampaknya. Pengetahuan mengenai karakter abu, pengelolaan lahan, serta pemilihan komoditas yang sesuai dapat menjadi dasar dalam memanfaatkan material erupsi secara tepat.
Gunung Anak Krakatau akan terus tumbuh dan beraktivitas sesuai hukum alamnya. Manusia tidak dapat menghentikan gejolak tersebut, tetapi dapat menentukan cara meresponsnya. Hidup berdampingan dengan gunung api berarti mampu membaca setiap jejak yang ditinggalkannya dan mengubah kewaspadaan menjadi kesiapsiagaan dan material erupsi menjadi bagian dari pemulihan kehidupan. (*)
Ditulis oleh:
Nur Anisa Alya Eriska
Departemen Biologi
Angkatan 2025
Reporter ITS Online