Terbit pada
Kamis, 10 November 2016
Itulah pandangan Prof Ir Soegiono, rektor ITS periode 1995-2003 di hari jadi ITS ke 56. Ditemui di kediamannya, guru besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ini berpendapat bahwa kemerdekaan dalam mengelola institusi pendidikan adalah sesuatu yang harus ITS perjuangkan.
Menurut pria yang akrab disapa Soegiono ini, ITS akan menjadi lebih baik jika fokus dalam pengembangan secara akademis. "Tentu saja tanpa disibukkan dengan persoalan administratif untuk keperluan pemerintahan," celetuk pria yang dikenal masyarakat dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos ini.
Malah, menurutnya ITS harus menjaga jarak dari pemerintah dan politik. Pernyataan ini bukan ada tanpa alasan. Menurut jebolan generasi pertama Departemen Teknik Perkapalan ITS ini, administrasi pemerintah membuat penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi persoalan yang cukup pelik.
Ia juga mengingatkan, meskipun memiliki otonomi pada saat menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) kelak, bukan berarti ITS harus mengupayakan sendiri semua pendanaan untuk memenuhi kebutuhannya. "Karena otonomi PTN sama sekali bukan soal privatisasi (pengalihan kepemilikan dari umum ke milik pribadi, red). Apalagi kalau kebijakan itu sampai memberatkan mahasiswa," ingatnya.
Pemerintah harus tetap bertanggung jawab dalam pengadaan dana guna berjalannya proses pendidikan yang bersih, murni untuk tujuan pendidikan. Pasalnya, PTN bukan hanya sekedar pencetak ijazah sarjana. "Namun juga ujung tombak dalam mengawal moral bangsa," tegasnya.
Kekuatan Terbesar ITS Adalah Mahasiswa