ITS News

Senin, 20 Mei 2024
12 Mei 2024, 18:05

Hadapi Dinamika Inflasi, Pakar Ekonomi ITS Bagikan Pandangannya

Oleh : itsqil | | Source : ITS Onlline

Transaski pembeli dan pedagang pasar tradisional (sumber: Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia)

Kampus ITS, ITS News — Konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah turut mengguncang kestabilan perekonomian di beberapa negara, tak terkecuali Indonesia. Menghadapi tantangan tersebut, pakar demografi dan ekonomi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Sonny Harry Budiutomo Harmadi SE ME membagikan pandangannya terkait dinamika inflasi yang terjadi di Tanah Air saat ini.

Dinamika ketegangan geopolitik yang terjadi antara Israel dan Iran saat ini turut menekan perekonomian dunia. Hal ini disebabkan karena konflik yang terjadi memicu kenaikan harga minyak global. Pasalnya, di Iran bagian selatan, membentang Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi  perdagangan minyak dunia.  “Kondisi tersebut berimbas pada harga minyak dunia yang semakin tinggi,” ungkap penulis buku Population Policy tersebut.

Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS ini mengungkapkan, dampak secara tidak langsung turut dirasakan Indonesia berupa inflasi yang memicu kenaikan harga barang. Kondisi ini tercermin dari naiknya tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sejak April 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa IHK secara bulanan mencapai 0,25 persen dan 3,00 persen secara tahunan.

Namun, Sonny menjelaskan, dinamika inflasi tak hanya dipengaruhi oleh geopolitik panas saja. Menurutnya, anomali iklim akibat dampak El-Nino juga berperan dalam kemerosotan ekonomi di Indonesia. Fenomena El-Nino menyebabkan mundurnya periode musim hujan di berbagai daerah di Indonesia. “Cuaca buruk yang beriringan dengan musim panen menyebabkan Inflasi komponen bergejolak atau volatile food,” tuturnya.

Dilansir dari laman resmi Bank Indonesia, volatile food merupakan inflasi yang dipengaruhi oleh kejutan dalam kelompok bahan makanan. Komoditas yang menjadi penyumbang utama volatile food ialah cabai merah, beras, telur ayam ras, dan cabai rawit. BPS mencatat, kelompok volatile food pada April 2024 mengalami penurunan harga sebesar 0,31 persen secara bulanan, di mana angka ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 2,16 persen.

Gambar Sonny Harry B Harmadi SE ME

Pakar demografi dan ekonomi ITS Dr Sonny Harry Budiutomo Harmadi SE ME

Tak tinggal diam, pemerintah terus berupaya untuk memitigasi kondisi inflasi ini dengan pengendalian harga barang konsumsi. Upaya tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan operasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan menyalurkan bantuan pangan beras. “Solusi ini untuk mencegah harga komoditas pangan semakin melonjak,” terang mantan Ketua Bidang Perubahan dan Perilaku Satgas Covid-19 ini.

Selain upaya pengendalian oleh pemerintah, masyarakat juga diharapkan bijak dalam mengalokasikan pendapatannya. Ketua Umum Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) itu menekankan, pentingnya menentukan skala prioritas terhadap konsumsi barang yang akan dibelanjakan. “Prioritas utama adalah pembelanjaan barang pangan atau kebutuhan mendesak lainnya seperti pendidikan,” tambahnya.

Sonny melanjutkan, masyarakat juga perlu meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja. Misalnya saja, masyarakat mencari sumber penghasilan tambahan melalui bisnis sampingan ataupun investasi. Investasi jangka panjang dapat dilakukan dengan mengalokasikan pendapatan pada aset yang berpotensi tumbuh nilainya, seperti properti, saham, atau reksadana. “Investasi bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi inflasi,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Hani Aqilah Safitri
Redaktur: Frecia Elrivia Mardianto

Berita Terkait