ITS News

Senin, 20 Mei 2024
07 Februari 2023, 16:02

Nahdlatul Ulama, Pilar Penting Nasionalisme di Indonesia

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Ilustrasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu pilar nasionalisme bangsa Indonesia (Sumber: NU Online)

Kampus ITS, Opini — Nasionalisme merupakan elemen penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Tentunya, seluruh lapisan masyarakat memiliki peran yang sama dalam membangun rasa nasionalisme, tak terkecuali Nahdlatul Ulama (NU). Setelah seabad berdiri, NU terus menjadi pilar penting bagi semangat kebangsaan masyarakat khususnya muslim Indonesia.

Sebagai organisasi Islam yang berpengaruh besar kepada masyarakat Indonesia, NU meletakkan nasionalisme sebagai salah satu pondasi keislaman mereka. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA pada Muktamar ke-34 NU. Dilansir dari laman Detik, Said mengungkapkan bahwa nasionalisme dan agama harusnya saling menguatkan. 

Eks ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai bahwa walaupun sama-sama muslim, karakteristik bangsa Arab Saudi dengan di Indonesia berbeda. Menurutnya bangsa Indonesia mempunyai rasa nasionalis yang lebih tinggi. Terbukti dalam sejarah, KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu tokoh NU yang mencerminkan semangat nasionalis yang juga merupakan seorang ulama.

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari (Sumber : NU Online)

Pada masa upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Hasyim Asy’ari pernah mengumandangkan resolusi jihad. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, kala itu KH Hasyim Asy’ari mewajibkan setiap muslim di Indonesia berjuang membela tanah air. Hal tersebut menjadi pengobar semangat para santri dan ulama untuk berjuang mengusir pasukan kolonial saat pertempuran di Surabaya pada November 1945. 

NU tidak akan mengubah pandangannya mengenai nasionalisme walaupun telah mencapai usia yang ke-100. Berkat slogannya yang terkenal, yakni hubbul wathon minal iman, NU berhasil membangkitkan semangat nasionalisme muslim Indonesia. Slogan yang berarti cinta tanah air sebagian dari iman tersebut merupakan wujud kesadaran pendiri NU tentang pentingnya cinta tanah air bagi seorang muslim. 

Seiring dengan maraknya radikalisme dan intoleransi, NU juga terus mengajarkan Islam yang berlandaskan cinta kasih dan nasionalisme. Mereka akan terus menampilkan Islam yang menghargai pluralisme dan menjunjung tinggi kemanusiaan. 

Ketua umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa adanya pesta demokrasi 2024 yang akan berlangsung ke depan, NU menolak keras segala bentuk politik identitas. Menurutnya, hal tersebut dapat menyebabkan perpecahan bangsa Indonesia. Sebagai organisasi yang memiliki pengaruh besar, sudah sepatutnya NU berkontribusi meningkatkan nasionalisme guna menghindari perpecahan bangsa akibat politik identitas. 

Perkembangan teknologi yang ada pada saat ini tak jarang mengakibatkan lunturnya rasa nasionalisme para generasi muda. Dalam hal ini, diharapkan NU terus berupaya untuk membangkitkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia serta terus menjadi pilar penting nasionalisme di masa yang akan datang. (*) 

 

Ditulis oleh:
Mohammad Febryan Khamim
Departemen Matematika
Angkatan 2022
Reporter ITS Online

Berita Terkait