ITS News

Rabu, 29 Mei 2024
31 Januari 2023, 18:01

Menilik Hustle Culture, Lupa Tidur namun Banyak Mimpi

Oleh : itsric | | Source : ITS Online

Terkadang kita sibuk untuk mengejar hal yang kita impikan, namun lupa memegang apa yang kita punya (sumber: Boston University)

Kampus ITS, Opini —  Kerja keras dapat menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam berbagai hal dalam hidup. Kendati esensinya yang penting, terkadang kita terbuai di dalamnya hingga melupakan berbagai hal-hal dasar lainnya. Lantas, apa yang akan terlewatkan bila kita hanyut dalam kerja keras berlebih atau hustle culture?

Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture merupakan sebuah anggapan bahwa kesuksesan didapatkan lewat dedikasi hidup untuk pekerjaan dan penempatan pekerjaan tersebut di atas segalanya. Tak jarang, jam kerja dan waktu produktif makin ditambahkan dengan tujuan untuk mencapai satu titik kesuksesan.

Peribahasa seperti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian atau besi harus ditempa agar menjadi kuat dan kokoh menunjukkan bahwa dibutuhkannya sebuah penderitaan untuk mencapai sesuatu. Hal ini menunjukkan terdapat ekspektasi bahwa akan ada masa depan yang lebih baik bilamana kita mengorbankan rasa nyaman di saat ini. 

Dilansir dari Badan Pusat Statistika (BPS) pada Februari 2022, persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja atau Tingkat Pengangguran Terbuka mencatatkan nilai 5,83 persen. Angka ini menjadi bukti persaingan di dunia pekerjaan makin ketat di tiap tahunnya apalagi mengingat jumlah lulusan-lulusan instansi pendidikan yang selalu bertambah.

Apalagi di era yang makin terhubung ini, seringkali kita menjadi terpapar dengan segala informasi yang menghantui hari demi hari. Mulai dari prestasi dan pencapaian teman-teman sebaya, paparan akan kehidupan sosialitas tokoh papan atas, tuntutan keluarga dan dunia kerja yang meningkat, maupun tentang titik kesuksesan dalam karier yang didambakan setiap orang. 

Kesadaran akan hal ini terkadang menjadi bahan bakar yang menjadikan seseorang pekerja lebih keras lagi. Pandangan bahwa ketika kita beristirahat orang lain telah jauh melaju kencang menjadikan kita was-was terhadap progres milik kita dan rasa takut tertinggal. Alhasil, beberapa pengorbanan harus dilakukan seperti kekurangan jam tidur, jarang berolahraga, hingga berkurangnya komunikasi dengan orang terdekat.

Namun, selayaknya jeda turun minum, mungkin kita perlu berhenti sejenak dalam maraton akbar hidup ini dan merenungkan sejenak apa yang telah dilewati. Mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan kecil mengenai perjalanan yang telah terjadi, dapat menjadi awalan. Hal ini dapat menjadi investasi baru sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan jauh sekaligus memberikan ruang untuk mengapresiasi usaha yang ditoreh diri sendiri.

Praktik meditasi sendiri dapat menjadi salah satu pilihan untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia apalagi dengan jaminan khasiat lewat sederet penelitian. Meditasi sendiri tidak hanya terpaku pada duduk diam di suatu tempat sembari merenungkan hal-hal baik yang telah terjadi, beberapa aktivitas seperti sejenak melihat sekitar kita ataupun melakukan pekerjaan rumah dengan penuh kesadaran merupakan salah satu bentuk kegiatan ini.

Selain meditasi, melakukan hal-hal yang kita sukai juga dapat mengurangi stres dan mengisi kembali tenaga untuk kembali produktif. Untuk tetap menjaga dalam kadar yang tepat, kedisiplinan dan kemampuan untuk merasa cukup masing-masing pribadi diuji dalam menentukan kurun waktunya. 

Terakhir, janganlah lupa untuk melihat orang-orang yang telah membantu dan berjasa selama perjalanan panjang ini. Karena, hasil-hasil spektakuler yang berhasil ditorehkan tidak mungkin lepas dari dampingan orang sekitar kita. Jangan lupa untuk merasakan kehadirannya dan bersyukur atas apa yang ada, guna mencegah penyesalan ketika hal tersebut menghilang. (*)

 

Ditulis oleh:
Ricardo Hokky Wibisono
Reporter ITS Online
Mahasiswa Departemen Teknik Sistem Perkapalan
Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 

Berita Terkait