ITS News

Rabu, 01 Februari 2023
04 Januari 2023, 21:01

Cegah Myopia Boom pada Anak Akibat Pandemi Covid-19

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Epidemi Miopia atau rabun jauh yang peningkatannya mulai memprihatinkan (Sumber: drbleonard.com)

Kampus ITS, Opini — Menyeruaknya Covid-19 hingga menjadi sebuah pandemi menyebabkan berbagai perubahan pada berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Dialihkannya kegiatan belajar di sekolah menjadi daring berimbas pada lahirnya fenomena peningkatan rabun jauh  pada anak-anak (Myopia Boom).

Miopia atau rabun jauh merupakan penyakit yang urgensinya masih belum begitu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, utamanya para orang tua. Padahal, data telah menunjukkan bahwa 80 persen masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara mengidap miopia. Bahkan, dengan prevalensi angka kasus dua kali lipat dibandingkan Eropa.

Meskipun masyarakat masih menganggap remeh miopia, peningkatan kasus yang terus terjadi secara signifikan ternyata mulai meresahkan berbagai pihak. Penelitian yang dilangsungkan secara konsisten juga menunjukkan kesimpulan yang ironis. 

Penelitian Holden pada tahun 2016 menyebutkan, prevalensi miopia di dunia pada saat itu adalah 28 persen penduduk dunia atau sekitar dua miliar. Kemudian, ia memperkirakan pada tahun 2050 akan mencapai 50 persen atau sekitar lima miliar.

Kondisi mata yang mengalami miopia dengan kondisi mata yang sehat (Sumber: Encyclopedia Britannica)Mendukung penelitian sebelumnya, seorang peneliti bernama Wang dan segenap tim penelitiannya menemukan bahwa pada tahun 2020 prevalensi miopia anak-anak terus meningkat. Di mana terjadi peningkatan tiga kali lipat pada usia enam tahun, dua kali lipat pada anak usia tujuh tahun, dan satu setengah kali lipat pada usia delapan tahun. Dapat disimpulkan bahwa anak dengan usia lebih muda lebih terdampak dibandingkan anak yang usianya lebih tua.

Jika ditelisik lebih lanjut, gaya hidup mengambil andil yang besar dalam mencetak kasus miopia pada anak. Gaya hidup dikatakan menyumbang sebesar 45 persen populasi miopia selama kurun waktu beberapa tahun terakhir. Dalam hal ini, pandemi Covid-19 menjadi penyumbang terbesar meroketnya angka miopia di Indonesia, khususnya pada anak.   

Perubahan dan pemindahan segala aktivitas yang dahulu dilakukan secara luring, kini mau tidak mau harus dilakukan secara daring. Transisi dari luring ke daring ini menyebabkan banyak sekali perubahan yang sangat signifikan, yaitu meningkatnya intensitas penggunaan alat elektronik seperti ponsel dan laptop.

Kegiatan belajar yang dilangsungkan melalui perantara alat elektronik mengharuskan anak-anak meningkatkan intensitasnya terhadap layar. Mata terus diforsir untuk bekerja menatap layar tanpa disertai istirahat yang cukup. Hal inilah yang mengakibatkan timbulnya kelainan refraksi pada mata. 

Prevalensi angka pengidap miopia dari tahun ke tahun (Sumber: nerdist.com)

Jika tidak segera diberi penanganan, miopia dapat berkembang menjadi komplikasi penyakit yang semakin membahayakan. Antara lain glaukoma, ablasi retina, katarak, dan makulopati. Selain itu, berisiko pula mengganggu perkembangan fungsi visual dan menyebabkan penderita mata malas, ambliopia.

Untuk mencegah mewabahnya miopia, mengintensifkan aktivitas di luar rumah adalah salah satu jawaban yang amat tepat. Menghabiskan waktu di luar rumah, di bawah paparan sinar matahari, terbukti dapat mengurangi risiko progresivitas miopia. Para orang tua juga bisa memberikan pengawasan dengan mengurangi screen time anak dalam menggunakan alat elektronik.

Selain mengoptimalkan kegiatan di luar rumah, konsumsi makanan yang kaya akan vitamin A dan penuh gizi, rajin berolahraga, dan rutin mengistirahatkan mata juga bisa diterapkan untuk menjaga kondisi mata tetap prima. Harapannya, masyarakat dapat bersama-sama memutus rantai miopia dan menyadari betapa pentingnya kondisi mata yang sehat. (*)

 

Ditulis oleh:
Hibar Buana Puspa
Mahasiswa S-1 Teknik Transportasi Laut
Reporter ITS Online
Angkatan 2022

Berita Terkait