ITS News

Senin, 30 Januari 2023
27 November 2022, 20:11

Laki-Laki dan Kekangan dalam Berekspresi

Oleh : itsjev | | Source : ITS Online

Konstruksi sosial yang didikte kepada laki-laki untuk menahan perasaan mereka (sumber: amerix/Rodsa Ghosh)

Kampus ITS, Opini — Laki-laki seringkali dituntut sebagai sosok sempurna, harus selalu terlihat tangguh dan kuat bak figur pemimpin. Namun, asumsi ini menimbulkan dualisme yang menuntut laki-laki untuk mengurangi sensitivitas terhadap perasaan mereka sendiri hingga berujung pada kekangan dalam menunjukkan ekspresi.

“Laki-laki yang kuat tidak boleh menangis.”

Pernyataan tersebut setidaknya pernah terdengar baik melalui ucapan maupun tulisan. Masyarakat, terutama orang tua yang konservatif, menganut nilai-nilai bahwa anak laki-laki harus tegas dan tidak boleh terlihat lemah. Dalam hal ini, menangis menjadi salah satu indikator yang menunjukkan sisi emosional seseorang, termasuk perasaan senang dan sedih. Sayangnya, emosi itulah yang ditilik sebagai kelemahan laki-laki.

Pola pikir tradisional ini muncul akibat didikan turun-temurun yang tidak mengalami rekonstruksi. Utamanya adalah yang berkaitan dengan bagaimana dorongan untuk menuntut agar laki-laki menyembunyikan emosi mereka. Kenyataan ini mengarahkan masyarakat pada sebuah fenomena yang disebut sebagai toxic masculinity, yakni suatu tekanan budaya bagi laki-laki untuk berperilaku dan bersikap dengan cara tertentu berdasarkan standar yang abu-abu.

Ilustrasi yang menunjukkan bahwa laki-laki harus tenang dan menyembunyikan emosi (sumber: Genetic Literacy Project)

Dalam survei The Men’s Project yang dilakukan oleh Jesuit Social Services, peneliti mensurvei 1.000 laki-laki tentang sikap mereka terhadap tujuh pilar yang menggambarkan standar laki-laki secara tradisional. Hasilnya, banyak laki-laki yang masih dipengaruhi oleh pesan-pesan masyarakat tentang apa artinya menjadi seorang pejantan tangguh dan bagaimana definisi laki-laki sesungguhnya seolah mereka hidup dalam sebuah kotak.

Namun, survei tersebut juga menemukan bahwa pandangan tradisional tersebut perlahan mulai menghilang. Laki-laki sedikit demi sedikit memahami bahwa masyarakatlah yang menuntut mereka untuk menggunakan kekerasan demi mendapatkan rasa hormat, menjauhi laki-laki yang menyukai sesama jenis, ajaran untuk tidak boleh belajar memasak dan bersih-bersih, hingga melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Ilustrasi terkait bagaimana maskulinitas tergambar pada laki-laki (sumber: Nathalie Lees)

Dengan demikian, laki-laki seyogyanya memahami bahwa berbagai tolok ukur maskulinitas, salah satunya kekangan dalam menunjukkan ekspresi yang mereka terima hanyalah sebuah konstruksi sosial. Mengesampingkan bagaimana menjaga citra dan anggapan lama tentang bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap, toxic masculinity nyatanya harus segera diberantas terutama karena standar ini justru merugikan laki-laki.

Tidak ada hal baik yang didapatkan dari menekan perasaan diri sendiri, selain rasa gelisah dan kebingungan. Socialconnect.id menyebut, selain berdampak negatif pada kehidupan sosial, menahan emosi juga dapat mengganggu kesehatan psikologis seperti merasa cemas dan menyebabkan depresi yang berujung pada psikopatologi. Kemudian, rasa kesepian yang datang menyergap dapat memicu timbulnya perilaku bunuh diri.

Beberapa kampanye dukungan untuk memutus rantai toxic masculinity (sumber: Narasi TV)

Lebih lanjut, University of Pennsylvania Penn School of Medicine juga mencatat di situs web mereka bahwa mengeluarkan air mata membantu tubuh membersihkan diri dari racun dan hormon yang berkontribusi pada peningkatan tingkat stres. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk membenarkan konstruksi sosial yang tidak tepat tersebut.

“Laki-laki itu harus kuat. Sedalam apa pun dukamu, jangan tunjukan.”

Patahkan ungkapan-ungkapan di atas. Laki-laki boleh berekspresi. Laki-laki bebas berduka hati. Laki-laki boleh bersedih. Konstruksi sosial yang hanya merugikan, tanpa diiringi oleh alasan masuk akal sebaiknya segera diputus saat ini juga. Tidak perlu takut untuk menunjukkan emosi karena setiap orang bebas berekspresi. (*)

 

Ditulis oleh:
Yanwa Evia Java
Mahasiswa S-1 Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan 2019
Redaktur ITS Online

Berita Terkait