ITS News

Senin, 28 November 2022
30 Oktober 2022, 22:10

Manfaatkan Asap Kendaraan guna Mengurangi Polusi

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Muhammad Habib Tanwirul Ulum dan timnya menjuarainperlombaan P3M UKM penalaran ITS, 2 Oktober lalu

Kampus ITS, ITS News – Manfaatkan asap kendaraan, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember gagas ide untuk mengurangi polusi. Asap sisa kendaraan dimanfaatkan menjadi dasar pembuatan kalsium karbonat (CaCO3) dalam kompetisi di UKM Penalaran ITS, 2 Oktober lalu.

Ketua tim, Muhammad Habib Tanwirul menjelaskan bahwa ide ini lahir dari hal kecil di lingkungan sekitarnya. Kendaraan mengeluarkan karbon monoksida (CO) dan membahayakan lingkungan. “Oleh karenanya, tim kami coba untuk mengurangi masalah ini. 

Habib dan tim menggunakan air kapur sirih untuk mengubah asap kendaraan menjadi CaCO3. “Asap tersebut kami salurkan dengan sebuah pipa menuju air kapur sirih,” ujar mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, air kapur sirih mengandung kalsium yang dapat direaksikan dengan karbon monoksida (CO). Kalsium akan mengikat karbon monoksida sehingga terbentuk kalsium karbonat (CaCO3). “Kalsium karbonat itu berupa bubuk yang dapat digunakan sebagai batako dan bahan bangunan lainnya dalam skala besar,” jelasnya.

Muhammad Habib Tanwirul Ulum dan timnya saat menerima hadiah lomba P3M UKM penalaran ITS

Lebih lanjut, ia menjelaskan, air kapur sirih mengandung kalsium yang dapat direaksikan dengan karbon monoksida (CO). Kalsium akan mengikat karbon monoksida sehingga terbentuk kalsium karbonat (CaCO3). “Kalsium karbonat itu berupa bubuk yang dapat digunakan sebagai batako dan bahan bangunan lainnya dalam skala besar,” jelasnya.

Mahasiswa angkatan 2022 ini menambahkan bahwa, pada rancangan inovasi mereka, terdapat alat penampung khusus untuk kalsium karbonat (CaCO3) yang terbentuk. “Nantinya, kalsium karbonat (CaCO3) dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kapan saja,” imbuhnya.

Tidak hanya dalam skala kecil, inovasi mereka juga dapat dikembangkan dalam skala besar. Habib dan tim berharap agar ide mereka dapat diaplikasikan secara nyata. “Target kami pabrik yang menghasilkan karbon dioksida lebih banyak dan bersifat toksik,” pungkas lelaki asal Lamongan ini. (*)

 

Reporter: ion30
Redaktur: Muhammad Faris Mahardika

Berita Terkait