ITS News

Sabtu, 26 November 2022
19 Oktober 2022, 09:10

Menilik Relevansi Pramuka di Perguruan Tinggi

Oleh : itsthi | | Source : ITS Online

Ilustrasi kegiatan jelajah alam yang biasa dilakukan oleh Gerakan Pramuka (sumber:https://www.freepik.com/)

Kampus ITS, Opini – Praja Muda Karana (Pramuka) merupakan gerakan kepanduan yang sudah dikenalkan kepada siswa sejak tingkat sekolah dasar. Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 yang mewajibkan kegiatan pramuka, kegiatan ini terus dibekalkan kepada siswa pada tingkat SMP dan SMA sederajat. Lantas, bagaimana kabar Pramuka pada jenjang pendidikan tinggi?

Melalui opininya yang dimuat di laman majalahsora.com, Rektor Universitas Bale Bandung, Dr Ir H Ibrahim Danuwikarsa MS mengatakan bahwa banyak perguruan tinggi di Indonesia tidak memiliki unit kegiatan pramuka. Menurutnya, hal tersebut perlu dicari tahu penyebabnya. Apakah karena perguruan tinggi merasa pramuka tak lagi dibutuhkan mahasiswa? Ataukah memang hanya sedikit jumlah mahasiswa yang tertarik dengan pramuka?

Keberadaan organisasi Pramuka pada perguruan tinggi tentunya berbeda dengan organisasi Pramuka di tingkat sekolah. Seperti yang kita ketahui bersama, Pramuka pada jenjang sekolah merupakan kegiatan wajib bagi seluruh siswa. Berbeda dengan Pramuka pada jenjang perguruan tinggi yang merupakan sebuah kegiatan non akademik pilihan bagi peserta didiknya.

Perbedaan di atas menjadi sedikit gambaran tentang bagaimana perguruan tinggi memandang organisasi Pramuka. Kedudukan Pramuka dinilai sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang lain. Mahasiswa bebas mau bergabung atau tidak. Masalahnya, apabila tidak ada mahasiswa yang berminat untuk bergabung, bagaimana organisasi Pramuka perguruan tinggi dapat berjalan sebagaimana mestinya? 

Di sisi lain, jumlah mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan gerakan Pramuka semakin sedikit. Alasan utamanya, banyak mahasiswa yang menganggap Pramuka tidak lagi relevan dengan kehidupan kampus. Sebagai gantinya, mahasiswa cenderung memilih organisasi yang dirasa lebih relevan seperti himpunan mahasiswa departemen (HMD) atau badan eksekutif mahasiswa (BEM).

Ilustrasi pembelajaran tali-temali yang biasa diilakukan oleh gerakan Pramuka (sumber: https://www.freepik.com/)

Keterampilan tali-temali, berkemah, pelatihan pertolongan pertama, dan pelatihan baris berbaris dirasa tak lagi diperlukan bagi mahasiswa. Anggapan-anggapan lalu tersebut sangat disayangkan. Padahal apabila ditilik lebih lanjut, kegiatan Pramuka tidak melulu soal petualangan dan berkemah. 

Pasalnya, Pramuka saat ini telah meluaskan lingkup kegiatan untuk meningkatkan kemampuan anggotanya. Kegiatan tersebut seperti, pelatihan public speaking, menulis ilmiah hingga publikasinya, pelatihan desain, dan kegiatan-kegiatan lain yang masih sejalan dengan kehidupan mahasiswa. 

Memang, sejak didirikan pada 1961 lalu, gerakan Pramuka telah bertekad untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Pramuka adalah tentang kemandirian, kesederhanaan, loyalitas, gotong royong, hingga kepemimpinan dalam menghadapi setiap permasalahan. Tidak dapat dipungkiri, nilai-nilai ini memang harus dimiliki oleh para pemuda calon pemimpin bangsa. 

Pramuka merupakan satu-satunya organisasi yang tidak memiliki batasan umur untuk anggotanya. Seluruh kelompok usia dapat aktif berkegiatan di dalam gerakan kepanduan ini. Tak terkecuali mahasiswa. Walaupun tak lagi diwajibkan, gerakan Pramuka di perguruan tinggi tetap relevan untuk diikuti. Para mahasiswa tak perlu ragu untuk mengikuti gerakan Pramuka. Karena sejatinya, Pramuka ada untuk menguatkan karakter anak bangsa.

 

Ditulis oleh:
Nurul Lathifah
Mahasiswa S-1 Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan 2021
Reporter ITS Online

Berita Terkait