ITS News

Jumat, 02 Desember 2022
03 Oktober 2022, 20:10

Memaknai Pertambahan Umur bagi Naufal di Momen Wisuda

Oleh : itszah | | Source : ITS Online

Wisudawan magister Departemen Kimia ITS, Mohammad Naufal Alief

Kampus ITS, ITS News – Momen wisuda menyorot kisah unik dari Mohammad Naufal Alief. Pancaran senyumnya memancarkan kesan yang berbeda dengan wisudawan lainnya. Alumnus Magister (S2) Departemen Kimia ini merayakan hari wisuda bersamaan dengan momen ulang tahunnya yang ke-25, Sabtu (24/9). 

Bertambahnya umur di momen wisuda, menurut Naufal, memberikan makna tersendiri. Meskipun kedua peristiwa di satu hari tersebut menghadirkan kebahagiaan, selebrasi Naufal juga diiringi kisah haru. “Ayah saya berpulang beberapa saat setelah proses riset S2 saya selesai,” ujarnya sedih.

Beberapa waktu sebelum kepergian sang ayah, Slamet Riyanto, Naufal banyak menghabiskan waktu di laboratorium untuk mengerjakan penelitiannya. “Padahal studi S2 ini merupakan keinginan orang tua saya, sehingga kejadian ini masih menorehkan duka hingga sekarang,” jelasnya.

Momen ini membuat Naufal membangun ulang rencana masa depannya. Menurutnya, ia dulu sangat ingin bekerja jauh dan merantau untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, sekarang orientasinya berubah jadi untuk bekerja dekat dengan ibu. “Saya bungsu dan ibu saya sudah berumur, saya ingin menjaga beliau sekaligus lebih sering merawat makam ayah saya,” tuturnya.

Mohammad Naufal Alief bersama kedua orang tuanya

Saat hari wisuda Naufal beberapa waktu lalu, ia mengakui bahwa sepanjang acara hatinya selalu berandai-andai. Menurutnya, jika ia dapat lulus lebih cepat maka sang ayah masih dapat membersamainya di momen wisuda. “Meskipun kemarin lulusnya sudah tepat waktu, saya banyak berandai layaknya manusia yang selalu merasa kurang,” imbuhnya sedih.

Membagikan lebih dalam, ia menyebutkan, hari itu ia tidak sempat mengambil banyak foto di area ITS. Baginya, kebiasaan untuk selalu foto bertiga bersama kedua orang tuanya masih susah untuk dilupakan. “Merasa tidak enak untuk menangis di tempat banyak orang sedang bahagia, lebih baik kami putuskan untuk pulang lebih awal,” paparnya.

Walaupun demikian, Naufal masih sangat memaknai hari wisudanya dengan penuh syukur. Pasalnya, ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81. “Saat itu, saya mendapati ibu saya yang kepribadiannya tegas tampak menangis ketika nama saya ditampilkan dengan predikat cumlaude,” ujarnya penuh haru.

Mohammad Naufal Alief melakukan pengambilan limbah batu bara di PT POMI Paiton untuk kebutuhan risetnya

Naufal mengakui, baginya, momen wisuda ini menjadi checkpoint awal untuk tetap melanjutkan hidup berdasarkan realita. “Seberat apapun hidup, seberat apapun kehilangan, seberat apapun kegagalan, kehilangan orang tua adalah momen yang paling menakutkan,” ungkapnya membagikan isi hati.

Perjalanan bak roller coaster yang ia lewati selama studi menyisakan kesan yang sangat mendalam baginya. Namun, hal tersebut berhasil ia lalui berkat dukungan orang tua yang siap membangkitkan ketika jatuh dan keberadaan rekan peneliti. “Saya sudah berdamai dengan momen yang sudah lewat dan siap menjalani kehidupan ke depan,” pungkas Naufal. (*)

 

Reporter: Faadhillah Syhab Azzahra
Redaktur: Muhammad Faris Mahardika

Berita Terkait