ITS News

Senin, 26 September 2022
07 Agustus 2022, 14:08

Physitrack Ajak Masyarakat Sambut Telerehabilitasi di Indonesia

Oleh : itsfa | | Source : ITS Online

Manager Pengembangan Bisnis Physitrack, Opifia Dian Assoc, menjelaskan pentingnya telerehabilitasi di Indonesia

Kampus ITS, ITS News Pandemi Covid-19 sempat menghambat sejumlah kegiatan masyarakat Indonesia, tak terkecuali bagi para pasien rehabilitasi. Akibat terbatasnya akses terapi secara fisik, rehabilitasi digital mulai dipertimbangkan secara serius. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut menyambut perkembangan telerehabilitasi di Indonesia melalui webinar bersama platform kesehatan digital, yaitu Physitrack. 

Manager Pengembangan Bisnis Physitrack, Opifia Dian Assoc menyebut bahwa Indonesia membutuhkan layanan rehabilitasi digital yang mengakomodasi kesembuhan pasien secara lebih efisien. Ide tersebut berangkat dari kondisi pasien di Indonesia cenderung hanya mengandalkan dokter atau fisioterapisnya. “Sangat jarang pasien inisiatif bertanya tentang program apa yang bisa ia lakukan secara mandiri,” terang perempuan dengan sapaan akrab Opi tersebut.

Perempuan yang masih aktif menjadi fisioterapis ini menekankan, pola pikir bahwa pasien adalah pusat dari seluruh pengobatan rehabilitasi harus ditanamkan. Opi menyebut, resep latihan rehabilitasi yang dikemas dalam bentuk video dan dapat diikuti secara mandiri di rumah akan meningkatkan ketertarikan pasien untuk terlibat dalam melakukan perawatan. 

Ilustrasi perkembangan serta ketaatan pasien dalam menjalankan latihan yang terangkum di aplikasi Physitrack (Sumber: Physitrack)

Gagasan ini bisa saja membuat beberapa orang skeptis namun fisioterapis yang praktik di klinik kawasan Jakarta tersebut merincikan bahwa perkembangan serta ketaatan pasien dalam menjalankan latihan dapat dilacak melalui aplikasi. Perkembangan pasien dilihat dari Patient Reported Outcome Measures (PROM) atau detak jantung maksimum jika pasien diresepkan latihan berbasis kardio. “Berarti, dokter memantau pasien setiap saat sehingga pasien terdorong melakukan latihan,” tuturnya.

Opi mengakui bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar telemedisin yang menarik berkat jumlah penduduk yang didominasi generasi muda melek internet. Ditambah lagi, kondisi geografis Indonesia yang terpisah antarpulau membuat penyebaran fasilitas dan tenaga kerja kesehatan tidak merata. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa telemedisin dapat meningkatkan atribut sistem kesehatan.

Berujar optimis, Opi percaya bahwa Physitrack yang sudah lebih dulu berhasil di Eropa bisa menjadi pionir rehabilitasi digital di Indonesia. Dengan sistem yang lebih efisien dan mendukung perawatan kontinu, pihaknya berharap layanan rehabilitasi bisa lebih efisien. “Dukung telemedisin untuk kemajuan bidang kesehatan dalam segi kualitas, efisiensi, ekuitas, pertanggungjawaban, keberlanjutan, dan keterjangkauan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Difa Khoirunisa
Redaktur: Gita Rama Mahardhika

Berita Terkait