ITS News

Rabu, 17 Agustus 2022
26 Juli 2022, 10:07

Kisah Inspiratif Dosen ITS yang Hobi Bersekolah

Oleh : itszar | | Source : ITS Online

Prof Dr Ir Dra Danawati Hari Prajitno SE MPd, sosok dosen inspiratif yang gemar bersekolah.

Kampus ITS, ITS News – Tuntutlah ilmu sepanjang hayatmu, sebuah petuah yang amat menggambarkan perjalanan Prof Dr Ir Dra Danawati Hari Prajitno SE MPd. Dosen Departemen Teknik Kimia Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini telah mengantongi berbagai gelar dari rumpun ilmu yang berbeda. Baginya, kecintaan menimba ilmu sejak muda seakan tak pernah lekang seiring bertambahnya usia.

Dana, begitu biasa ia disapa, merampungkan studi sarjananya di Departemen Teknik Kimia ITS pada tahun 1978. Perjalanan karirnya dimulai dengan terjun ke sebuah industri cat hingga mengantarkannya menjadi kepala pabrik dari tahun 1981 hingga 1985. Selang satu tahun kemudian untuk meraih mimpinya bersekolah kembali, suami Dana menyarankan untuk alih profesi sebagai dosen pengajar di ITS untuk mendapatkan beasiswa pendidikan lanjutan.

Setelahnya, hari-hari Dana pun diliputi dengan peningkatan kompetensi akademik yang terus ia gencarkan. Dana yang sedari kecil memang menyukai bahasa Inggris pun mengambil pendidikan S1 Bahasa Inggris di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya dan lulus di tahun 1992. Kegemarannya pada bahasa Inggris berawal dari masa kecilnya yang rutin mendengarkan siaran radio BBC Australia sebelum berangkat ke sekolah. “Demi mendengarkan siaran itu, saya harus terburu-buru berangkat ke sekolah karena siaran baru berakhir pukul 6.45 pagi,” imbuh perempuan tujuh bersaudara ini.

Pendidikan bahasa Inggris tersebut Dana tempuh bersama sang suami. Dana mengungkapkan bahwa suaminyalah yang mengajak karena mengetahui dirinya suka bahasa Inggris. Tak cukup bergumul dengan satu bidang, ia turut berhasil menamatkan pendidikan S1 Ekonomi Pembangunan di Universitas Terbuka (UT) pada tahun 1994. “Biasanya selepas pulang kerja adalah waktu saya kuliah bahasa inggris, lalu untuk kuliah di UT masih bisa disambi karena lebih fleksibel,” tuturnya mengenang kesehariannya kala itu. 

Seiring waktu berjalan, dengan bekal pengalamannya di dunia industri dan besarnya semangat belajar dalam diri, Dana tergiur untuk melanjutkan jenjang akademik keteknikkimiaannya melalui program beasiswa magister di luar negeri. “Pasalnya peluang beasiswa lebih besar dan mudah, didukung dengan banyaknya hubungan kerjasama. Akhirnya saya meninggalkan pekerjaan di pabrik dan memilih jadi dosen,” terang istri dari Prof Kusno Budhikarjono yang merupakan purna dosen Departemen Teknik Kimia ITS ini.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, perburuan beasiswa yang diharapkan Dana pun berbuah manis. Pada tahun 1995, ia berhasil mendapatkan beasiswa program under special regulation. Dana menjelaskan bahwa program tersebut memiliki dua tipe, yakni ada program S2 saja dan program S3 yang bisa diambil tanpa melalui pendidikan S2 terlebih dahulu. “Karena saya suka sesuatu yang susah dan menantang, tentu saya memilih program S3 yang bertempat di University of Birmingham Inggris,” ujarnya sambil tertawa ringan.

Prof Dr Ir Dra Danawati Hari Prajitno SE MPd saat mengajar kursus TOEFL.

Ternyata, menyukai sesuatu yang susah dan menantang memang sudah terpatri dalam hidup Dana sedari kecil. Dahulu, Dana selalu menjadi siswi berprestasi di sekolahnya yang tergolong favorit di kota tempat tinggalnya. Dana mengaku, ia selalu mempelajari materi yang akan diajarkan sebelum kelas dimulai. Ia pun kerap mengerjakan latihan soal lebih dari yang diberikan oleh gurunya di sekolah. “Selain untuk menambah keterampilan, hal ini juga yang membuat saya terbiasa dengan soal-soal yang diujikan,” terang perempuan kelahiran 29 Juli ini.

Tentunya, Dana menjalani kebiasaannya tersebut dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang besar. Ibu tiga anak ini meyakini bahwa jika seseorang ingin sukses atau mendapatkan hasil yang memuaskan, maka harus melakukan usaha dan kerja keras yang maksimal. Setahun berlalu, pasca menyandang gelar PhD pada tahun 1999, ia sempat mencicipi D1 Ilmu Komputer PIKTI ITS. Berlanjut pada tahun 2003, Dana melanjutkan studi S2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM). Pada tahun yang sama, Dana dilantik menjadi Kepala Prodi (Kaprodi) D3 Teknik Kimia ITS.

Pada masanya sebagai Kaprodi, Dana melihat beberapa mahasiswanya mengalami kesusahan dalam bahasa Inggris. Apalagi saat itu ITS mulai memberlakukan nilai Test of English as a Foreign Language (TOEFL) sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa. Hal tersebut membuatnya tergerak untuk membantu mahasiswanya. Sehingga, Dana membuka kursus gratis di kampus mulai tahun 2005. “Syukurnya, program ini berhasil membuat mahasiswa saya lolos tes TOEFL,” kenangnya.

Program tersebut membuat Dana merasa bahagia karena selain bermanfaat mengisi selingan waktu di tengah kesibukannya menjadi dosen, mengajar les menjadi penambah semangatnya dalam menjalani hari. Dalam seminggu, ia bisa mengisi kelas dari Senin hingga Jumat dengan alokasi waktu setiap pertemuan selama 3,5 jam.  “Tahun 2007 sempat berhenti mengajar les, lalu lanjut mendirikan secara pribadi di luar kampus dengan penarikan biaya yang masih tergolong murah,”jelas perempuan yang gemar olahraga jogging ini.

Seiring waktu berlalu, keseriusannya dalam mengabdikan diri menjadi dosen terus dimaksimalkan. Terbukti, pada tahun 2008, Dana dikukuhkan sebagai Guru Besar ITS bidang mixing dan desain reaktor. Uniknya, saat itu ia dikukuhkan bersamaan dengan suami tercintanya karena SK pengangkatan guru besar mereka turun bersamaan. “Istimewanya lagi, angka kredit mereka pun sama persis yakni 1010. Sementara untuk memenuhi jabatan sebagai guru besar, hanya diperlukan 850 poin,” jelas dosen yang setelah pensiun berencana mengambil program S3 Bahasa Inggris ini.

Sebagai sosok yang digugu lan ditiru, Dana berpesan untuk hendaknya memaksimalkan waktu dan mulai disiplin atas diri sendiri. Jangan pedulikan teman yang mengolok apabila melihat orang sedang serius belajar atau menjadi lebih rajin karena setiap orang punya target dan tujuan masing-masing yang harus dicapai. “Jika di usia 70 tahun saya masih semangat belajar, mahasiswa harusnya mempunyai semangat tiga kali lipat dong daripada saya,” pungkasnya sambil terkekeh mengingatkan. (*)

Reporter: Fatima Az Zahra
Redaktur: Astri Nawwar Kusumaningtyas

 

Berita Terkait