ITS News

Jumat, 12 Agustus 2022
06 Juli 2022, 08:07

Memaknai Peran Pustakawan di Antara Tantangan Literasi

Oleh : itsjev | | Source : -

Peringatan Hari Pustakawan Nasional setiap 7 Juli (sumber: Liputan6.com)

Kampus ITS, Opini Kebiasaan membaca buku masih menjadi budaya yang terus dirangsang di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Berbicara mengenai buku tidak akan lepas dari surga bagi para penggemarnya yakni perpustakaan. Perpustakaan tidak akan lancar beroperasi tanpa campur tangan pustakawan. Tercanang sejak 1990 silam, peran penting pustakawan dikekalkan dalam Hari Pustakawan Nasional yang dirayakan pada 7 Juli setiap tahunnya.

Buku apa yang kali terakhir kalian baca? Dari mana kalian mengakses buku tersebut? Bagaimana bisa buku-buku tersebut masuk pada kolom lemari yang sesuai dengan tema dari tulisan di dalamnya? Apakah buku tersebut memiliki sayap dan terbang, lalu berkumpul masuk ke dalam deretan rak bertulisan “Sejarah” bersama koleganya yang lain? Jawabannya adalah tidak.

Pustakawan merupakan kunci utama bagi pengorganisasian buku berdasarkan kategori dan data yang termuat di dalamnya. Tanpa adanya pustakawan, segala kegiatan yang terjadi di dalam perpustakaan tidak akan dapat berjalan dengan baik. Sudah tiga dekade lamanya para pustakawan, di bawah naungan Ikatan Pustakawan Indonesia (IKI), mengabdikan diri bagi peningkatan literasi masyarakat Indonesia baik pada masa lalu, kini, dan yang akan datang.

Sebagaimana yang sudah diketahui, berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) dan dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara berdasarkan literasinya. Kenyataan yang cukup memilukan ini lantas mendudukkan Indonesia ke dalam jajaran sepuluh negara yang memiliki tingkat literasi rendah. 

Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai salah satu gudang ilmu

Kebenaran tersebut menyuratkan bagaimana bencana intelektual masih menjadi persoalan yang harus lekas dibenahi, sebab sebagaimana yang selama ini kita dengar, buku adalah jendela dunia. Bangsa yang memiliki minat baca tinggi akan dengan mudah mendorong masyarakat menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan demikian, kehadiran pustakawan menjadi momentum krusial bagi penguatan pengetahuan, pembangunan konektivitas, dan orientasi pada kebutuhan dalam meningkatkan minat baca.

Seiring dengan pengakaran budaya membaca, perpustakaan sebagai wadah pembelajaran sepanjang hayat dan pusat ilmu pengetahuan memerlukan keberadaan pustakawan sebagai garda terdepan dalam penyaluran informasi. Dikutip dari laman Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, pustakawan memiliki peran penting dalam proses transfer ilmu pengetahuan kepada pemustaka dengan pelayanan sepenuh hati. Hal ini membuktikan pentingnya profesi pustakawan bagi pencerdasan bangsa.

Lebih lanjut, profesi pustakawan juga tidak lepas dari adanya perkembangan teknologi. Seorang pustakawan di tengah gempuran zaman dituntut untuk mampu bersinergi dengan era perpustakaan digital (digital library).  Lewat kemudahan akses untuk menjangkau informasi, perpustakaan digital menjadi salah satu ikhtiar pustakawan dalam mengharmonisasi kebutuhan masyarakat. Salah satu contoh dari perpustakaan digital yang sudah ada di Indonesia adalah e-Resources milik Perpusnas.

Perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia

Mengutip Professor Derek Law, seorang pustakawan dari University of Strathclyde, pustakawan merupakan jembatan penghubung masa lalu dan gerbang pengantar masa depan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemajuan perpustakaan masih dijiwai atau diwarnai oleh pengelolaan dari masa lalu yang hingga sekarang masih dianggap relevan dan mampu memahami keinginan pemustaka akan informasi yang sedang dibutuhkan.

Dengan demikian, tugas dan fungsi pokok pustakawan tidak hanya perihal pinjam-meminjam buku atau mencatat siapa saja yang keluar dan masuk dari perpustakaan. Lebih daripada itu, pustakawan merupakan penghubung informasi dan gerbang utama dalam memfasilitasi akses bagi ilmu pengetahuan. Tanpa peran pustakawan, jurnal-jurnal maupun buku-buku yang sukar dicari bisa saja tidak bisa diakses sampai saat ini.

Sebagai organisator dari ilmu pengetahuan, tidak hanya masyarakat luas saja yang diharapkan mampu memahami, tetapi para pustakawan itu sendiri hendaknya mengerti bahwa profesi mereka senantiasa menyumbang kesejahteraan. Mencintai profesi dan menghasilkan prestasi menjadi penutup dari tulisan yang ditujukan untuk menyambut Hari Pustakawan Nasional ini. Selamat Hari Pustakawan kepada seluruh pustakawan di Indonesia, tetaplah berkarya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Salam literasi. (*)

Ditulis oleh:
Yanwa Evia Java
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan 2019
Reporter ITS Online

Berita Terkait