ITS News

Senin, 26 September 2022
25 November 2021, 19:11

Bantu Petani Kurangi Pestisida, ITS Rancang Light Trap

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online
Alternatif pestisida

Kunjungan Tim KKN Abmas ITS di Lembeyan Kulon, Lembeyan, Magetan sekaligus pemasangan Light Trap Lampu LED.

Kampus ITS, ITS News – Penggunaan pestisida secara berlebihan untuk membunuh hama padi berisiko merusak ekosistem dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan manusia. Guna membantu petani membasmi hama padi, sekaligus mengurangi penggunaan pestisida, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan Light Trap Lampu LED, alat perangkap hama padi berbasis energi surya.

Ketika diwawancara kru ITS Online, Nurrisma Puspitasari M Si selaku perwakilan tim menyampaikan bahwa Lembeyan Kulon, Lembeyan, Magetan dipilih sebagai tempat dilakukannya kegiatan KKN karena daerah tersebut dihuni oleh mayoritas penduduk dengan pekerjaan petani padi. Selain itu, desa tersebut juga mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang hari sehingga dapat mengoptimalkan penerapan sel surya yang terdapat pada alat yang mereka ciptakan.

Berdasarkan keterangan Sudarsono M Si selaku salah satu anggota tim, selain dirancang dengan panel surya alat yang dibuat di Sidoarjo tersebut juga terdiri dari kontrol lampu LED, kerucut penjebak hama, wadah air, dan tiang penyangga yang dapat dirakit ulang. Panel surya bertugas mengisi baterai secara mandiri menggunakan energi cahaya yang dihasilkan oleh matahari pada siang hari dan digunakan sebagai sumber energi dari alat mereka. “Karena menggunakan panel surya, petani tidak perlu mengeluarkan biaya listrik,” tutur dosen yang akrab disapa Sudar ini.

Kerangka alat perangkap hama dibuat secara terpisah sebelum dirangkai di Desa Lembeyan Kulon.

Selanjutnya, Sudar juga menjelaskan cara kerja alat perangkap hama yang mereka ciptakan. Menurut penjelasan dosen asal Magetan ini, lampu LED yang terdapat pada alat akan menyala pada malam hari, cahaya tersebut akan menarik serangga hama sehingga akan jatuh ke dalam wadah melalui kerucut yang berada tepat di bawah lampu. Kemudian, air di dalam wadah akan membuat serangga terperangkap.

“Sejauh ini, alat bekerja cukup efektif dan jenis serangga yang paling banyak terperangkap adalah wereng,” klaim Sudar sembari memaparkan hasil kerja dari alat yang mereka ciptakan.

Monitoring alat perangkap hama yang menyimpan energi surya pada siang hari dan otomatis menyala pada malam hari.

Untuk melakukan kerjanya, Light Trap yang diciptakan selama dua bulan ini membutuhkan tambahan berupa tiang dan bagian penjebak yang dibuat secara terpisah. Beberapa komponen tambahan tersebut nantinya akan dirangkai di tempat beserta alatnya. “Karena alat didesain dengan konsep yang sederhana dan efisien, alat ini memungkinkan untuk dibongkar setelah panen dan dipasang kembali saat mulai masa tanam,” ujarnya.

Walaupun sempat terkendala akibat adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),  Tim Abmas ITS ini akhirnya berhasil memasang lima alat perangkap hama di Desa Lembeyan Kulon pada tanggal 25 September lalu. Sudar menyebutkan banyaknya petani yang enggan mengurangi penggunaan pestisida juga menjadi hambatan tersendiri. “Mengingat inovasi ini masih baru, masyarakat masih sulit menerima karena belum ada hasil nyata,” tutur Sudar.

Terlepas dari hambatan yang ada, Sudar dan timnya berharap alat perangkap hama buatan mereka dapat digunakan di banyak tempat. Sudar juga berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai ketertarikan serangga hama terhadap spektrum cahaya tertentu agar alat perangkap hama menjadi lebih efektif. “Akan baik jika teknologi ini menjadi alternatif pembasmi hama padi yang terjangkau dan ramah lingkungan,” pungkasnya penuh harap. (*)

Reporter: Nurul Lathifah
Redaktur: Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi

Berita Terkait