ITS News

Selasa, 27 September 2022
28 Oktober 2021, 16:10

Langkah Nyata Atasi Perubahan Iklim lewat Daur Ulang Sampah

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Profil Robries, inovasi alumnus ITS untuk menekan dampak perubahan iklim melalaui pengolahan limbah plastik

Kampus ITS, ITS News – Suhu panas yang dirasa terus meningkat beberapa hari terakhir ini mengindikasikan semakin parahnya dampak perubahan iklim. Membahas penanganan masalah tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengadakan webinar bertajuk Disaster Education, Sabtu (23/10).

Salah satu pembicara dalam acara ini, Syukriatun Niamah, menjelaskan bahwa terdapat penumpukan sampah plastik sebanyak 490 ton yang ada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) pada tahun 2020. Hal ini memperkuat fakta terus meningkatnya jumlah sampah plastik per tahunnya di Indonesia. “Sehingga perlu adanya 290 ribu kegiatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dalam 10 tahun mendatang,” ucapnya.

Perempuan yang akrab disapa Niam ini menambahkan, diperlukan juga peran pemuda dengan sudut pandang baru dalam menyikapi sampah di lingkungan sekitar. Salah satunya adalah dengan memperhatikan dampak keberlanjutan dalam suatu kegiatan. “Meskipun berupa kegiatan sederhana, akan sangat berarti bagi keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Ia mencontohkan saat menyelenggarakan acara atau membangun sebuah bisnis, tentu hal yang diinginkan adalah keuntungan. Namun yang juga perlu diperhatikan adalah dampak keberlanjutan bagi lingkungan yang dihasilkan dari kegiatan itu. “Diperlukan inovasi kreatif untuk membuat bisnis berdampak baik bagi konsumen, masyarakat sekitar, serta alam,” tambah alumnus Departemen Desain Produk Industri ITS ini.

Contoh inovasi dan kerjasama Robries dalam mengolah limbah plastik menjadi produk dekorasi berkualitas

Berusaha ikut berperan, Niam bersama beberapa rekannya pun membentuk usaha yang berfokus pada pengolahan sampah menjadi produk daur ulang bernama Robries. Produk yang dihasilkan berupa barang dekorasi berkualitas seperti bangku, cermin, alat makan, hingga dekorasi dinding yang semuanya diolah dari sampah plastik.

Robries sendiri juga bekerjasama dengan berbagai lapisan masyarakat untuk mengampanyekan kepedulian terhadap sampah. Memiliki moto ‘Rethink, Recreate, Recycle’, Robries berkolaborasi dengan bank sampah bahkan kafe di sekitar Surabaya untuk pengolahan limbah plastik. “Kami juga menerima sampah plastik rumahan yang telah dibersihkan,” ujarnya.

Ia pun mengakui, menjaga konsistensi untuk menjaga lingkungan tidaklah mudah. Niam mengaku sering mengalami kesulitan dalam mengolah limbah plastik yang sudah tercampur dengan limbah lainnya. Satu hal yang membuat produk hasil daur ulang terkesan eksklusif dengan harga jual yang lebih tinggi adalah karena proses pengolahannya. “Padahal pemisahan sampah berdasarkan jenisnya sangat membantu mengurangi pencemaran,” urai Niam.

Syukriatun Niamah saat menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Disaster EduIa berujar bahwa mengurangi sampah sejatinya tidak harus dengan daur ulang saja. Pemisahan sampah plastik dan organik sejak dari tempat tinggal sendiri dan mengurangi penggunaan produk yang tidak berkelanjutan juga dapat menjadi opsi. “Hal ini akan membantu dalam pengolahan sampah sehingga tidak menumpuk secara percuma di TPA,” tegas wanita berkerudung ini.

Di akhir penuturannya, Niam menyampaikan harapannya kepada para mahasiswa ITS untuk dapat mengambil peran dalam menekan dampak perubahan iklim. Dimulai dari yang sederhana hingga dapat menghasilkan inovasi berupa teknologi untuk menyelamatkan lingkungan. “Merupakan tanggung jawab kita sebagai intelektual untuk dapat berbuat baik bagi banyak orang,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Ion 14

Redaktur: Septian Chandra Susanto

Berita Terkait