ITS News

Selasa, 30 November 2021
25 Oktober 2021, 15:10

Kupas Tuntas Anatomi Singkat Pembuatan Kapal Tanker

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

I Gusti Ngurah Handiyana saat menjelaskan materi mengenai Anatomi Kapal Tanker dan Gas pada Jumat (22/10)

Kampus ITS, ITS News – Ada banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kapal tanker. Menanggapi hal tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Maritime Online Course, Jumat (22/10). I Gusti Ngurah Handiyana selaku Manajer Fleet-4 di Pertamina International Shipping didapuk sebagai pemateri yang mengupas secara singkat mengenai anatomi kapal tanker dan gas.

Dalam acara yang bertema Anatomi Kapal Tanker dan Gas, pria yang akrab disapa Rei ini mengungkapkan untuk mendesain dasar pembuatan kapal tanker terdapat beberapa pertimbangan. Diantaranya yaitu kondisi perairan dan kolam pelabuhan, kapasitas produksi kilang, fasilitas tangki timbun di darat, serta jumlah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). “Selain itu, kondisi daerah setempat, peraturan yang telah dan akan berlaku, kapasitas galangan, tren desain serta teknologi perkapalan, juga menjadi pertimbangan,” terangnya.

Lebih lanjut, Rei menjelaskan bahwa dalam pembuatan kapal selalu berhubungan dengan Light Weight Ton (LWT) dan Dead Weight Ton (DWT) dengan satuan Displacement yaitu jumlah air yang dipindahkan oleh berat, bentuk dan kulit badan kapal. Adapun komponen LWT adalah bagian-bagian kapal yang tidak bisa bergerak, misalnya seperti baja kapal, outfit, akomodasi dan instalasi permesinan. Sedangkan komponen DWT adalah bagian kapal yang memiliki berat berubah-ubah, seperti makanan atau logistik, kargo, bahan bakar, air tawar, kru kapal, dan bagasi kapal.

Penting untuk memperhatikan desain kapal tanker di perairan Indonesia, menurut Rei karena pelabuhan migas dan ladang minyak di Indonesia berada pada perairan dangkal. Selain itu, kapal yang tersedia di pasar tidak hanya didesain hanya berdasarkan salah satu lokasi spesifik saja, tetapi didesain untuk beroperasional di seluruh perairan belahan bumi. “Jika kapal tanker pasar digunakan di perairan Indonesia, maka kapasitas kargo tidak terpakai secara maksimal atau akan mengalami dead freight,” terangnya.

Dead freight merupakan jumlah muatan kapal yang tidak bisa diangkut karena sarat kapal lebih tinggi dari perairan pelabuhan. Adapun faktor penyebabnya, yaitu sarat atau draft kapal yang terlalu tinggi, kondisi kedalaman pelabuhan yang dangkal, penumpukan muatan yang berlebihan, dan desain kapal yang tidak sesuai dengan daerah pelayaran. Kondisi inilah yang mendasari perlu adanya desain khusus untuk keperluan transportasi, muat, dan bongkar di pelabuhan migas Indonesia. 

I Gusti Ngurah Handiyana saat menjelaskan materi mengenai double bottom

Maka dari itu, desainer kapal menciptakan kapal shallow draft yang memiliki desain khusus untuk perairan di Indonesia. Misalnya seperti untuk kapal dengan ukuran 6500 DWT itu biasanya menggunakan draft 6 hingga 7 meter, namun untuk di Indonesia didesain hanya 4 sampai 4,5 meter. Dengan keuntungan dapat mengurangi kemungkinan dead freight, manuver gerak kapal yang lebih bagus, dan lebih mudah memilih dan memanfaatkan kapasitas dok. Namun memiliki keterbatasan, stabilitas kapal yang kurang sempurna dibandingkan dengan desain tanker normal yang sejenis dan memerlukan aspek desain yang lebih untuk diperoleh hasil yang maksimal.

Selain itu, Rei menjelaskan bahwa ada beberapa regulasi yang ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO). Misalnya seperti kapal oil tanker 5000 DWT keatas diharuskan menggunakan konstruksi double hull atau lambung ganda. Kemudian, untuk kapal oil tanker 500 hingga 5000 DWT harus menggunakan konstruksi double bottom atau alas ganda. “Hal tersebut bertujuan untuk menghindari dan mengurangi kemungkinan terjadinya pencemaran minyak apabila tanker mengalami tabrakan di laut,” jelasnya.

Pada sesi akhir materi, Rei menerangkan bahwa tangki kapal perlu dibagi menjadi beberapa sekat agar kapal tetap stabil ketika beroperasional. Meskipun pengecatan kapal hanya memakan anggaran sebesar lima persen, namun pengecatan kapal tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena cat tersebut akan melindungi kapal hingga beberapa puluh tahun kedepan. Beberapa bagian kapal yang memerlukan cat khusus yaitu lambung kapal, tangki kargo, tangki ballast, tangki air minum dan weather deck atau engine room. “Adapun syarat jenis cat untuk kapal adalah anti korosif, anti fouling, anti ultraviolet, dan anti gesekan,” terangnya. (*)

Reporter : ion29

Redaktur : Najla Lailin Nikmah

Berita Terkait