ITS News

Kamis, 06 Oktober 2022
12 Oktober 2021, 03:10

Indonesia Mesti Berbenah: Buka Mata akan Nyatanya Perubahan Iklim

Oleh : itsram | | Source : ITS Online

Banjir parah di Perancis pada Februari 2021 (Foto oleh Stephane Mahe)

Kampus ITS, Opini – Kian hari perubahan iklim kian terasa dampaknya di kehidupan sehari-hari. Mulai dari ekstrimnya curah hujan hingga maraknya kasus bencana hidrometeorologis yang rasanya sudah menjadi bagian dari kehidup sehari-hari. Salah satu pekerjaan rumah terberat bagi Indonesia ialah belajar memperkuat sistem hidrologi . Mulai dari negara-negara lain, Indonesia bisa berbenah untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih berketahanan.

Rekam jejak kondisi bencana adalah modal awal bagi Indonesia untuk mempelajari kondisi dan tren kebencanaannya. Data-data tersebut jika diolah dengan tepat akan melahirkan sintesa rencana yang relevan bagi kondisi Indonesia. Namun menurut Dosen Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Bambang Winarta ST MT PhD, bahwa dalam proses analisis Indonesia masih cukup tidak optimal. Dibandingkan dengan proses analisis yang ada di Malaysia, Bambang menjelaskan Malaysia memiliki panduan jelas untuk membantu proses analisis hidrologinya. “Pedoman tersebut bernama Urban Stormwater Management Manual for Malaysia,” ungkapnya.

Bambang membagikan pengalamannya menjadi bagian dalam projek pengairan di Malaysia dimana proses yang Ia lalu sangat dimudahkan dengan adanya pedoman tersebut. Pedoman yang dalam bahasa melayu disebut Manual Saliran Mesra Alam ini mencantumkan informasi mulai dari data angka intensitas, durasi, dan frekuensi, faktor perubahan iklim, hingga formula yang digunakan untuk memodelkan kondisi pengairan di setiap negara bagian di Malaysia.

Tersedianya data-data tersebut membuat perencanaan pengairan di suatu wilayah pada Malaysia akan sama meskipun dipegang oleh tim berbeda. Hal ini berkebalikan dari kondisi Indonesia dimana data-data yang digunakan masih perlu dilakukan analisis dari awal. Tak ayal kondisi tersebut menyebabkan adanya perbedaan hasil jika proyek dilakukan oleh pihak yang berbeda.

Pedoman yang sering disebut MASMA ini selain menjadi standarisasi untuk menghindari perbedaan hasil juga memiliki keunggulan dengan adanya data faktor perubahan iklim (climate change factor). Bambang mengungkapkan di tiap proyek yang Ia jalani di Malaysia, permodelan yang dihasilkan harus tersedia dalam dua format yakni perencanaan dengan pertimbangan dan tanpa pertimbangan akan perubahan iklim. “Hal ini sangat penting karena hasil yang muncul ternyata cukup signifikan perbedaannya,” jelas doktor teknik sipil lulusan Tohoku University ini.

Bencana akibat perubahan iklim sudah menjadi hal yang tak terhindarkan. Tidak bijak jika manusia menyalahkan peningkatan curah hujan yang menjadi dalang dari segala bencana hidrometeorologis yang terjadi. Padahal jika ditilik lebih dalam, peningkatan curah hujan ini terjadi akibat peningkatan emisi karbon dari kegiatan manusia. Indonesia mesti berbenah, dan pedoman perencanaan pengairan dapat menjadi langkah awal yang baik untuk membuka mata akan nyatanya  perubahan iklim dan langkah strategis menciptakan lingkungan hidup yang berketahanan.

Gita Rama Mahardhika

Mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota

Reporter ITS Online

Berita Terkait