ITS News

Minggu, 13 Juni 2021
28 April 2021, 15:04

Mahasiswa ITS Gagas Inovasi EvoGreen untuk Atasi Polusi Udara

Oleh : itsmis | | Source : -

Tim EvoGreen garapan mahasiswa ITS saat dikukuhkan sebagai juara kedua dalam kompetisi Schneider Go Green 2021

Kampus ITS, ITS News – Tingkat polusi udara di Indonesia yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan bermotor masih terhitung cukup tinggi. Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencoba menggagas inovasi EvoGreen yang ditujukan untuk membantu mengurangi tingginya polusi udara.

Mereka adalah Hartandi Wisnumukti dan I Made Ayu Nandini dari Departemen Teknik Elektro ITS angkatan 2018. Tergabung dalam sebuah tim, keduanya merancang sebuah alat pengubah karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen (O2) dengan menggunakan alga yang diberi nama EvoGreen.

(dari kiri) Hartandi Wisnumukti dan I Made Ayu Nandini saat menunjukkan EvoGreen gagasannya

Mahasiswa yang akrab disapa Tandi tersebut menjelaskan, EvoGreen adalah Schneider Electric Homes Bio Reactor guna menangkap CO2 untuk menciptakan udara yang lebih bersih. Bioreaktor ini dibuat dengan maksud tertentu yakni membuat habitat buatan untuk alga hidup. Alga dipilih sebab telah terbukti dapat menangkap CO2 lebih baik daripada tumbuhan biasa. “Selain itu alga juga lebih fleksibel dalam hal perawatannya,” jelasnya.

Mahasiswa yang kerap disapa Tandi ini mengatakan bahwa EvoGreen bekerja dengan cara menyedot udara kotor dari lingkungan yang kemudian akan disimpan di tangki kotor. Setelahnya, campuran alga dan udara kotor tadi akan dipompa ke rangkaian pipa bening agar alga tersebut dapat melakukan proses fotosintesis dan mengubah CO2 menjadi O2. “Sehingga proses panjang ini akan menghasilkan oksigen yang dapat dilepaskan kembali ke udara,” terangnya.

(kiri) Desain prototipe bagian detail atas untuk penyedot udara kotor dan tempat proses fotosintesis dan (kanan) Desain prototipe bagian tangki penyimpanan udara kotor dan nutrisi hasil proses alga serta tempat keluarnya udara bersih

Tandi melanjutkan, EvoGreen gagasan timnya ini bekerja bukan sebagai air purifier biasa, namun sebagai pengonversi karbon dioksida menjadi oksigen. Sehingga alat rancangannya ini bukan hanya berpengaruh pada manusia, tetapi juga berpengaruh kepada lingkungan sekitar. Selain itu, dengan dilakukan proses lebih lanjut, alga yang telah digunakan pun dapat dijadikan biomassa.

Menurut Tandi, EvoGreen ini dapat menyerap 10 kali lebih efisien daripada pohon dan dapat dipasang di rumah, sehingga semua orang dapat berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon. Selain itu, EvoGreen juga diintegrasikan secara digital dengan AVEVA (perangkat rumah pintar) yang membuat pengguna bisa mendapatkan data secara real time melalui aplikasi tersebut. “Konsep terbaru inilah yang nampaknya memikat para juri saat kami mengikuti kompetisi,” tandasnya.

Desain antarmuka pengguna perangkat rumah pintar AVEVA yang diintegrasikan dengan EvoGreen

Berdasarkan inovasinya tersebut, tim ini telah berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi Schneider Go Green 2021, awal April lalu. Dalam ajang yang diselenggarakan oleh Schneider Electric tersebut, tim ini berhasil mengalahkan 121 proposal lainnya se-Indonesia. “Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi karya kami,” tuturnya bangga.

Alumnus SMAN 3 Madiun ini berharap bahwa EvoGreen buatan timnya ke depan dapat direalisasikan di Indonesia. Sebab alat rancangannya ini sudah sampai tahap prototyping pada technology readiness level-nya dan juga sudah berkoordinasi dengan pihak Schneider Electric terkait desain prototipenya. “Harapannya alat ini dapat mewujudkan tujuan utama kami dalam mengurangi polusi udara,” pungkasnya penuh harap. (HUMAS ITS)

Desain prototipe EvoGreen garapan Hartandi Wisnumukti dan I Made Ayu Nandini yang berkolaborasi dengan Arfita Vania Dewi dan Lazuardi Iman

Reporter: Mukhammad Akbar Makhbubi

Berita Terkait