ITS News

Kamis, 13 Mei 2021
23 Maret 2021, 07:03

Gus Miftah Ingatkan Pentingnya Toleransi dalam Mencintai Tanah Air

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Pembukaan Ngaji Kebangsaan dengan pembacaan Syair Burdah oleh UKM Rebana ITS

Kampus ITS, ITS News – Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dilakukan dengan mengadakan Ngaji Kebangsaan. Menghadirkan KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah sebagai pembicara, kegiatan ini ikut menggelorakan cinta kepada bangsa dan tanah air dengan mengedepankan sikap toleransi.

Kegiatan yang diadakan melalui kolaborasi antara Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rebana ITS ini menyasar kepada generasi milenial yang akrab dengan perkembangan zaman dan teknologi. Hal itu secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap lunturnya rasa cinta kepada tanah air. “Maka dengan media seni budaya, kita coba untuk meningkatkannya lagi,” ujar Ketua UKM Rebana ITS, Ahmad Baihaqi.

Ia menambahkan bahwa selain memberikan kajian, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan Syair Burdah kepada masyarakat terutama peserta Ngaji Kebangsaan. Alunan syair diiringi tabuhan rebana juga diperdengarkan saat acara berlangsung. “Harapannya selain meningkatkan cinta kepada tanah air, kegiatan ini juga dapat meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW,” tambahnya.

KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah saat menyampaikan materi dalam Ngaji Kebangsaan

Dalam sesi pemaparan materi, Gus Miftah menyampaikan bahwa Indonesia diberkahi sebagai bangsa dengan keberagaman suku, bangsa, dan bahasa. Mahasiswa sebagai salah satu anak bangsa harus turut mengabdikan diri kepada tanah air dengan menjaga keberagaman tersebut. “Caranya adalah dengan menunjukkan identitas kita sebagai mahasiswa yang berpandangan Pancasila,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyaknya perbedaan dan keberagaman lah yang justru membuat Indonesia bersatu. Masyarakat dituntut untuk harus bersikap toleransi dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alat pemecah bangsa. “Membenci perbedaan sejatinya membenci seluruh manusia karena manusia sendiri diciptakan berbeda-beda,” jelas ulama muda Nahdlatul Ulama ini.

Ulama yang dikenal memiliki gaya bicara yang eksentrik ini juga menegaskan bahwa masyarakat harus mampu memposisikan diri dan membedakan kapan harus bertoleransi atau bersikap tegas. Segala hal yang berkaitan dengan interaksi antar manusia haruslah sikap toleransi yang dikedepankan. “Namun terkait melaksanakan perintah agama, kita harus tegas,” tutupnya. (*)

 

Reporter : ion 27

Redaktur : Septian Chandra Susanto

Berita Terkait