ITS News

Selasa, 13 April 2021
05 Maret 2021, 20:03

Kupas Tuntas Bencana Hidrometeorologis Bersama Kepala BMKG

Oleh : itsram | | Source : ITS Online

Pemaparan Kepala BMKG mengenai kondisi iklim Indonesia pada seminar daring antisipasi bencana meteorologis.

Kampus ITS, ITS News — Sebagai negara yang terletak di antara dua benua, Indonesia memiliki iklim dengan potensi terdampak bencana hidrometeorologis yang tinggi. Fakta tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam seminar bertajuk Antisipasi Bencana Hidrometeorologis: Quo Vadis Kerusakan Lingkungan dan Dampaknya, Sabtu (27/2). Tak hanya membahas faktor yang mempengaruhinya, strategi mitigasi guna mengatasi kemalangan ini pun turut dikupas.

Mengantongi undangan dari Pusat Penelitian Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai pembicara, Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD menyampaikan bahwa banyaknya fenomena bencana yang disebabkan oleh dinamisnya perubahan iklim di Indonesia tersebut tak hanya karena faktor geografis saja melainkan juga topografi.

“Memiliki topografi yang bergunung-gunung, angin monsun, fenomena dipole mode, gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), dan siklon tropis mendorong interaksi yang dinamis antara atmosfer dan samudera di Indonesia,” papar ahli geologi yang akrab disapa Rita ini.

Fenomena iklim ini kemudian mengalami anomali akibat adanya peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan peningkatan suhu bumi. Lebih lanjut, Rita membeberkan bahwa lebih dari 400.000 tahun lamanya, konsentrasi CO2 di bumi rata-rata hanya 280 ppm. Namun, semenjak revolusi industri, konsentrasi CO2 di bumi terus meroket hingga 2020.

“Bahkan BMKG mendapati konsentrasi CO2 kini rata-rata sebesar 408 ppm di titik-titik yang cenderung tidak tercemar,” papar Rita.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyebutkan bahwa peningkatan kadar salah satu gas rumah kaca ini menyebabkan energi matahari yang terserap tidak bisa dipantulkan karena terjerat. Sehingga, energi itu berubah menjadi panas sehingga meningkatkan siklon tropis, putih beliung, dan gelombang di laut. Perubahan suhu ini juga berpengaruh pada kadar air yang dibawa oleh angin monsun sehingga menyebabkan peningkatan atau penurunan curah hujan.

Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD menjadi pembicara pada seminar daring mengenai antisipasi bencana meteorologis

Lebih lanjut, Rita menunjukkan data bahwa pada beberapa tahun belakangan, perubahan suhu ini berdampak pada peningkatan curah hujan yang dibawa angin monsun sebanyak 40 persen dari curah hujan rata-rata tiga puluh tahun terakhir. Akibatnya risiko banjir yang semula hanya naik 50 tahun sekali, kini meningkat menjadi sekitar 5 tahun. “Sehingga tidak mengherankan jika banyak bencana banjir dan longsor terjadi akhir-akhir ini,” imbuhnya.

Melihat berbagai fakta tersebut, Rita mengaku khawatir jika kondisi perubahan iklim di Indonesia ini bisa menjadi kenormalan baru di masa mendatang jika tidak ada upaya perbaikan. Agar tidak semakin buruk, perempuan berhijab ini memaparkan beberapa solusi yang bisa digencarkan, mulai dari monitoring kondisi iklim di Indonesia dan menggunakan datanya sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat bagi pemerintah.

Selain itu, perlu adanya pengendalian dan pengurangan pada hal-hal yang menyumbangkan gas rumah kaca serta peralihan menuju green economy dengan memaksimalkan penggunaan energi terbarukan. Penanaman secara tepat, masif, dan berkelanjutan juga menjadi hal krusial karena peran vegetasi yang besar dalam penyerapan CO2. Langkah strategis lain yang perlu disiapkan Indonesia adalah perbaikan infrastruktur yang berorientasi pada perubahan iklim global.

Alumnus Leeds University ini menyampaikan bahwa harus ada perombakan karena infrastruktur Indonesia. Hal tersebut Ia sampaikan lantaran saat ini rata-rata infrastruktur dibangun pada 1970 sehingga belum memperkirakan dampak perubahan iklim global. Dengan adanya sinergi dari semua lapisan, bukan tak mungkin permasalahan iklim ini bisa ditangani dan menjamin keselamatan penduduk di Indonesia, bahkan di seluruh bumi ini.

“Dan yang paling penting untuk diterapkan pada seluruh lapisan masyarakat adalah revolusi perilaku menuju budaya ramah lingkungan dan edukasi serta literasi mengenai keberlanjutan alam,” tegar Rita mengakhiri pemaparannya.(*)

Reporter: Gita Rama Mahardhika
Redaktur: Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi

Berita Terkait