ITS News

Jumat, 22 Januari 2021
25 November 2020, 13:11

Menelisik Kabar Terkini Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh : itsbob | | Source : ITS Online

Sosok Bu Muslimah (Laskar Pelangi) Ilustrasi Dedikasi Guru di Pedalaman (Sumber: Google Image)

 

Kampus ITS, Opini – Guru, “digugu lan ditiru”, akronim dalam tradisi Jawa ini mengingatkan kita akan tanggung jawab besar seorang guru sebagai orang yang dipercaya dan ditiru. Bahkan, di masa pandemi ini guru masih terus semangat tuk memberi ilmu kepada anak didiknya. Namun, apakah guru sudah diperlakukan baik?

Dedikasi guru terhadap negara seakan tak pernah lekang dimakan zaman. Namun, seiring berjalan waktu, kisah guru zaman dulu dan sekarang tentu sudah berbeda. Dulu, murid senantiasa menjunjung tinggi gurunya. Mereka menempatkan posisi guru sejajar dengan orang tuanya. Karena itulah, guru selalu diibaratkan sebagai orang tua kedua di sekolah.

Bagaimana dengan masa kini? Sangat miris, menurut data yang dihimpun dari republika.co.id dan cnnindonesia.com, banyak sekali kasus guru yang diperlakukan tanpa asas kemanusiaan. Sebut saja tragedi pembunuhan guru di Sampang, Madura yang dilakukan oleh muridnya sendiri. Berawal dari murid yang tidak terima akan teguran sang guru, kasus ini malah merembet menjadi pembunuhan.

Lain lagi dengan kasus yang menimpa Malayanti, seorang guru SMA Negeri 3 Wajo, Sulawesi Selatan. Ia dilaporkan ke polisi atas tuntutan telah mencubit muridnya pada 6 November 2017. Meski sedikit lebih beruntung, kasus Malayanti menunjukkan bahwa beberapa orang tua saat ini sudah tidak memaklumi kemarahan guru sebagai bagian dari pendidikan. Atas nama hak asasi manusia, Tak ada lagi kata sungkan ataupun sekedar bentuk penghormatan.

Belum lagi menyoal tentang upah guru yang diberikan. Artikel dari fin.co.id membeberkan bahwa upah guru di Indonesia termasuk yang paling rendah di Asia Tenggara. Dilaporkan, gaji guru di Singapura  mencapai 57 juta per bulan sedangkan Malaysia menggaji gurunya pada angka 22 juta per bulan. 

Hal ini kontras dengan gaji guru di Indonesia. Data yang dihimpun finance.detik.com mengungkapkan bahwa gaji tertinggi bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di tanah air hanya menyentuh angka lima jutaan. Kondisi miris juga harus dirasakan oleh guru honorer yang harus bersyukur dengan gaji ratusan ribu saja. Inikah yang dinamakan kesejahteraan?

Padahal, sudah terlalu banyak perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan seorang guru. Banyak dari mereka yang rela berjuang antara hidup dan mati di pedalaman demi menghidupi secercah harapan murid-murid di sana. Meski berkawan medan hingga tunjangan yang tak bersahabat, mereka tetap mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa.

Tentu kita tahu bersama bahwa menjadi guru bukan perkara mudah. Menjadi seorang guru artinya harus memiliki kesabaran tak terbatas. Mereka selalu mengajarkan makna kehidupan meski harus meredam emosi terhadap kenakalan anak didiknya. Mereka juga senantiasa mencurahkan pengetahuan dan bimbingan meski siswanya tak kunjung paham. 

Belum lagi, di masa sekarang guru dituntut melek ilmu teknologi. Kondisi pembelajaran yang dilakukan daring memaksa mereka untuk akrab dengan teknologi dalam mempersiapkan pengajaran. Tantangan berat sudah pasti, tapi seorang guru tetap berusaha sampai batas kemampuannya demi pendidikan sang murid.

Bangsa ini besar juga berkat peran guru yang berjuang dalam membangun bangsa, terutama dalam membangun karakter bangsa. Sehingga sebutan pahlawan tanpa tanda jasa sudah sepatutnya berganti menjadi pahlawan dengan jasa paling besar. Sebab, sebutan pahlawan tanpa tanda jasa seakan membuat citra guru sebagai sosok yang tak perlu diberi perhatian khusus. Nyatanya, mereka tetaplah manusia biasa yang kesejahteraannya perlu dijamin.

Oleh karena itu, momen Hari Guru Nasional yang jatuh pada Rabu (25/11) ini sudah selayaknya jadi pengingat kita untuk selalu memberikan rasa hormat setinggi-tingginya kepada pengajar yang tak pernah lelah memberikan ilmunya kepada kita. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan, salah satunya dengarkan dan perhatikan saat mereka mengajar, karena itu adalah penghargaan tertinggi bagi mereka.

Di sisi lain, pemerintah perlu menjamin terpenuhinya hak-hak para guru. Pemerintah perlu memprioritaskan kesejahteraan guru dalam rancangan anggaran dan belanja negara (RAPBN/APBN). Tentunya hal tersebut diharapkan mampu memacu kinerja guru dan menyelamatkan masa depan bangsa.

Sebab, tugas guru bukan hanya menjejalkan pelajaran, tetapi juga menghidupkan pengetahuan. Karena hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan. Dengan demikian, kita sebagai generasi pencipta yang menghargai seorang guru akan bisa mengharumkan Indonesia dengan karya. 

Sekilas hiruk pikuk perjuangan guru di masa kini, sekarang inilah momen paling tepat untuk kita mengapresiasi kerja guru setinggi-tingginya. Memberinya penghormatan atas segala usaha dan kerja keras nan tulus dalam melaksanakan kewajiban. Hingga pada akhirnya Hari Guru Nasional semestinya jadi momen tuk mentadaburi lirik terakhir lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

“Engkau patriot pahlawan bangsa, bangun insan cendekia”

Ditulis oleh:

Mukhammad Akbar Makhbubi

Mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS

Angkatan 2019

Reporter ITS Online

Berita Terkait