ITS News

Selasa, 28 September 2021
28 Oktober 2020, 03:10

Menjadi Generasi Pemungkin Ala Ketua MWA

Oleh : itsai | | Source : ITS Online

Potret Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh DEA saat memberikan wejangan di gelaran Wisuda ke-122 ITS.

Kampus ITS, ITS News — Sudah sepatutnya alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi generasi pemungkin. Maknanya, generasi yang dapat mengubah kemustahilan menjadi hal yang dapat dilakukan. Wejangan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA. Nuh, sapaannya, membagikan pesan tersebut dalam prosesi Wisuda ke-122, Minggu (25/10), yang digelar secara daring.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menjelaskan, kemustahilan dapat diubah menjadi mungkin dengan cara menghilangkan penghambatnya. Alih-alih dari eksternal, hambatan cenderung berasal dari diri sendiri. “Oleh karena itu, kekuatan mengubahnya ialah dengan melihat ke dalam dan berhenti menyalahkan pihak lain,” tegas Nuh yakin.

Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh DEA mengajak para wisudawan untuk mengubah kemustahilan menjadi hal yang dapat dilakukan.

Setelah itu, mantan Rektor ITS ini menyebutkan bahwa alumni ITS harus mampu adaptif seiring berkembangnya zaman. Hal ini lantaran, banyak perubahan yang terjadi di dunia pasca kampus seperti jenis pekerjaan yang kian variatif, tempat bekerja yang mulai merambah dunia digital, hingga pekerja yang dituntut multi talenta. “Peran ITS di sini ialah sebagai mesin pencetak alumni yang siap akan perubahan tersebut,” ucapnya.

Nuh mengungkapkan, Indonesia memiliki tiga modal utama untuk menghadapi tren perubahan, yakni bonus demografi, bonus digital, dan nilai-nilai kebangsaan. Untuk merajut ketiganya, setiap individu perlu mengasah kecerdasan kognitif (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) mereka. “Tidak luput, kita juga harus memerhatikan kecerdasan digital dan kecerdasan luhur kebangsaan,” tuturnya.

Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh DEA menyampaikan pentingnya mengembangkan kecerdasan kognitif (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dalam menyongsong generasi emas 2045.

Alumnus Departemen Teknik Elektro ITS ini menganggap, menjadi generasi pemungkin yang merajut tiga modal tadi merupakan wujud nyata persiapan diri dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Sehingga, pada momen satu abad Indonesia itu, rakyat mampu berjaya dan melunasi janji kemerdekaan. “Janji kepada bangsa ini adalah hal utama yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945,” ujarnya bersemangat.

Di samping itu, profesor ini juga membagikan beberapa tips lain untuk sukses di dunia pasca kampus. Di antaranya ialah senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, rutin bersedekah, selalu bekerja keras, dan memperbanyak amal ibadah. “Jika hal-hal ini dilakukan, maka di kemudian hari akan membuahkan kebaikan bagi diri kita,” pungkas lelaki kelahiran Surabaya ini. (ai/dik) 

Berita Terkait