ITS News

Senin, 26 September 2022
16 Juni 2020, 23:06

Jerman dan Perancis, Rekomendasi Alumni Lanjutkan Studi dan Karir

Oleh : itsmad | | Source : www.its.ac.id
Jerman-dan-Perancis-Rekomendasi-Alumni-Lanjutkan-Studi-dan-Karir

Irfan Fachrudin MSc (atas) dan Rachmat Gunawan MSc (bawah), dua narasumber Fast Sharing Session : Studi dan Meniti Karir di Eropa

Kampus ITS, ITS News – Termasuk dalam jajaran negara maju di Eropa, tentunya membuat Jerman dan Perancis menjadi incaran bagi sebagian besar mahasiswa sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan maupun berkarir. Pandangan tersebut disampaikan oleh dua anggota Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Luar Negeri (IKA ITS LN) pada sharing session yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (13/6).

Adalah Irfan Fachrudin MSc dan Rachmat Gunawan MSc, dua alumni ITS yang telah melanglang buana dalam menjajaki pendidikan maupun berkarir di Jerman dan Perancis. Masing-masing dari Irfan dan Rachmat pada kesempatan tersebut menjelaskan mengenai sektor pendidikan dan sektor profesional di Jerman dan Perancis.

Jerman-dan-Perancis-Rekomendasi-Alumni-Lanjutkan-Studi-dan-Karir

Irfan Fachrudin MSc saat mempresentasikan materinya dalam Fast Sharing Session Studi dan Meniti Karir di Eropa

Pendidikan dan Karir di Jerman

Irfan menjelaskan, dalam hal pendidikan, Jerman menduduki posisi kelima ditinjau dari segi Pengeluaran Penelitian dan Pengembangan (Research and Development Expenditure) di Eropa, yakni sebesar 104 juta Euro. “Angka ini setara dengan 3,1 persen dari GDP (Gross Domestic Product, red) Jerman,” terang alumnus Teknik Elektro ITS ini.

Meskipun begitu, sambung pria berkacamata ini, biaya perkuliahan di Jerman pun digratiskan. Hanya saja, mahasiswa wajib membayar sebesar 150-400 Euro tiap semester untuk layanan transportasi publik dan biaya kontribusi lain. “Disamping murah, pendidikan Jerman juga berkualitas tinggi. Terbukti pada 2011 Jerman menjadi inisiator Revolusi Industri 4.0,” jelas alumnus Rostock University Jerman ini.

Menurut Irfan, cara mendaftar kuliah di Jerman cukup mudah. Pendaftar hanya perlu mencari informasi kampus yang ingin dituju melalui laman https://www2.daad.de/deutschland/studienangebote/international-prgrammes/en/, https://www.tu9-universities.de/, laman masing-masing perguruan tinggi, atau list dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Indonesia (LPDP). “Selanjutnya silahkan dipenuhi dokumen yang disyaratkan dan tunggu dua sampai lima bulan untuk konfirmasi penerimaan,” imbuhnya.

Mengenai sektor profesional, tambah Irfan, Jerman merupakan negara yang tepat untuk dituju pelamar kerja. Sebab, hingga 2020 ini, Jerman merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Eropa sekaligus peringkat keempat dunia dengan GDP sebesar 3,84 triliun United States Dollar (USD). “Software Market Jerman juga terbesar di Eropa dengan pendapatan sebesar 27.6 juta Euro pada 2020,” ucapnya.

Menurut Irfan, budaya kerja di Jerman pun sangat baik. Masyarakat Jerman memiliki budaya produktif dan efisien, terencana dan berorientasi pada hasil, disiplin serta komunikasi yang langsung menuju inti. “Makanya meskipun durasi kerja masyarakat Jerman rendah, tapi produktivitasnya peringkat ketiga di dunia,” pungkasnya.

Jerman-dan-Perancis-Rekomendasi-Alumni-Lanjutkan-Studi-dan-Karir

Rachmat Gunawan MSc saat mempresentasikan materinya dalam Fast Sharing Session Studi dan Meniti Karir di Eropa

Pendidikan dan Karir di Perancis

Kemudian, Rachmat sebagai alumnus ITS angkatan 2013 yang juga meniti karir dan pendidikan di Perancis mengatakan, di samping Jerman, Perancis juga merupakan salah satu negara Eropa dengan kualitas pendidikan yang tinggi. Diluar negara berbahasa inggris, Perancis merupakan negara paling populer bagi mahasiswa internasional.

“Kepopuleran ini mestinya ada prestasi di belakangnya,” jelas pria yang kerap disapa Rachmat ini.

Benar saja, sambung Rachmat kembali, Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) yang merupakan Lembaga Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis adalah organisasi penelitian terbesar di Eropa. “Pun dalam bidang matematik, Perancis mendapat posisi kedua negara peraih Field Medals setelah Amerika Serikat,” papar alumnus Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS ini.

Berbeda dengan negara lain, lanjut Rachmat, pendidikan tinggi di Perancis terbagi menjadi dua jenis, yakni Université dan Grande École. Dua tipe ini nantinya juga akan terkait dengan besar biaya perkuliahan, yakni untuk Université sebesar 170-380 Euro bagi mahasiswa lokal, dan 2.700-3.700 Euro bagi mahasiswa asing. Sedangkan untuk Grande École sebesar 5.000-24.000 Euro bagi seluruh mahasiswa.

Tak berbeda jauh dengan perguruan tinggi Jerman, ujar Rachmat, bagi pelajar yang ingin mendaftar berkuliah di Perancis cukup mencari informasi kampus tujuan di laman https://www.indonesie.campusfrance.org/id, laman masing-masing kampus, atau daftar kampus tujuan yang disediakan oleh LPDP. “Sama saja, cukup memenuhi dokumen yang disyaratkan, melamar dan menunggu konfirmasi kira-kira 2 bulan,” sambung salah satu anggota IKA ITS LN Perancis ini.

Mengenai dunia profesional, papar Rachmat, Perancis merupakan negara yang sangat menjanjikan untuk dijajal. Sebab, negara ini merupakan negara paling atraktif di Eropa untuk ditanami modal asing (Foreign Direct Invesment). Dalam hal finansial pun, Bank Perancis merupakan bank terbesar di Eropa.

“Di antara 10 bank terbesar di Eropa, empat sampai lima di antaranya adalah bank-bank di Perancis,” tambah tamatan École Centrale de Nantes, Perancis ini.

Mengenai budaya kerja masyarakat Perancis, menurut Rachmat yang juga mengacu pada data, pekerja Perancis lebih unggul dibanding Amerika Serikat dan Jerman dalam hal hirarki di dunia kerja dan keakuratan kerja. “Disini (Perancis, red) juga tidak ada sama sekali rasisme dan perbedaan gender. Semua diperlakukan sama, sekalipun dalam komunikasi,” pungkasnya.

Usai dijelaskan mengenai sistem pendidikan dan sektor profesional di Jerman dan Perancis, Irfan berharap kegiatan yang bertujuan sebagai sumbangsih dari alumni yang melanjutkan pendidikan di luar negeri kepada ITS ini dapat mengedukasi mahasiswa ITS yang hendak melanjutkan studi dan karir di luar negeri. (*)

Reporter: mad
Redaktur: Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi

Berita Terkait