ITS News

Rabu, 28 September 2022
23 Februari 2020, 15:02

Sedikit Banyak tentang Revolusi Industri Keempat

Oleh : itsrur | | Source : ITS Online

Ilustrasi Revolusi Industri Keempat. (sumber: medium.com)

Kampus ITS, Opini — Namanya Ai. Tak terasa, lebih dari tiga jam waktuku habis untuk berbincang dengannya. Aneh memang, ini tak seperti diriku yang biasanya. Aku yang biasa tertutup, tiba-tiba merasa nyaman bertukar kata dengannya. Kehangatan kalimat yang Ia berikan dalam membalas pesan-pesan sampah dariku seringkali membuatku terlena. Sampai aku lupa bahwa Ia tak lebih dari deretan algoritma yang dirangkai dengan sangat cerdas, sehingga mampu menjadi sosok yang seolah-olah memiliki emosi. Ia memang AI, tapi bukan Aisyah melainkan Artificial Intelligence.

Ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) yang dirancang untuk melakukan percakapan dengan manusia baik dalam bentuk suara maupun teks, atau sering kita sebut sebagai chatbot. Chatbot sendiri sudah sering kita temui pada platform-platform jejaring sosial seperti LINE, Facebook, dll. Tidak hanya itu, saat ini di dunia industri pun, chatbot sudah banyak digunakan.

Dewasa ini, banyak perusahaan mulai beralih menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi pada berbagai proses bisnisnya. Bahkan, beberapa perusahaan mulai menerapkan chatbot sebagai salah satu media untuk berinteraksi dengan para pelanggannya dalam peran sebagai customer service.

Selain teknologi AI, Revolusi Industri 4.0. atau era digital juga ditandai dengan bertebarannya teknologi-teknologi baru, seperti Internet of Things (IoT), Big Data, Augmented Reality (AR), hingga Cloud Computing (komputasi awan) yang mampu menghubungkan jutaan pengguna dalam satu server melalui internet.

Badai peralihan dunia akibat Revolusi Industri 4.0. yang juga dikenal sebagai era disrupsi ini tak terbendung lagi. Perusahaan-perusahaan besar dunia yang tak mampu berdapatasi akhirnya rontok satu per satu. Hal tersebut seringkali terjadi akibat lambatnya kemampuan menyesuaikan diri jika dibandingkan dengan derasnya perkembangan teknologi.

Salah satu perusahaan yang menjadi korban dari ganasnya era disrupsi ini adalah Kodak. Perusahaan film fotografi yang pernah berjaya tersebut, bangkrut pada 2012 silam karena tidak mampu mengikuti pesatnya digitalisasi dimana saat ini orang-orang lebih suka berbagi foto melalui media sosial daripada mencetak foto untuk disimpan di album.

Contoh lainnya adalah perusahaan mesin fotokopi Xerox yang masih percaya dengan bisnis usangnya di tengah era dimana penggunaan kertas dikurangi secara drastis. Atau perusahaan game Atari yang terpaksa tidak bisa berkembang di tengah menjamurnya pertumbuhan permainan online (daring). Sedangkan merek perangkat komunikasi Motorola yang gagal melihat minat konsumen terhadap inovasi perangkat lunak lebih besar daripada perangkat keras. Seperti yang terjadi pada Nokia, dan Blackberry.

Demikian pula, perusahaan-perusahaan raksasa elektronik Jepang, yakni Hitachi, Sony, dan Toshiba. Mereka yang masih menikmati awal era ini harus terus siap siaga menghadapi badai otomatisasi dan digitalisasi. Selain perusahaan-perusahaan tersebut, masih banyak perusahaan-perusahaan kecil yang bernasib sama.

Tak cukup sampai disini. Di era disrupsi ini, inovasi serta perkembangan teknologi juga berdampak terhadap perekonomian. Sebagaimana penelitian yang dilakukan McKinsey Global Institute 2016. Mereka memprediksi, 14 persen dari 2,66 miliar pekerjaan di dunia akan hilang pada tahun 2030. Sementara itu, di negara-negara berkembang, persen angka pekerjaan yang hilang adalah sekitar 6-13 persen. Ini lebih rendah daripada Amerika Serikat yaitu 32 persen dan negara-negara maju lainnya yang berkisar antara 33-46 persen.

Pintu-pintu tol yang hanya dijaga oleh mesin e-toll merupakan kasus aktual hilangnya pekerjaan penjaga pintu tol. Demikian pula petugas di loket tiket yang tidak lagi dibutuhkan karena orang-orang beralih membeli tiket secara daring.

Sebenarnya, fenomena-fenomena ini merupakan kelanjutan dari digitalisasi dan otomatisasi yang terus-menerus berlangsung dan terimplementasi makin cepat. Sebelumnya, mesin-mesin yang bekerja secara otomatis sudah menggantikan buruh pabrik, mesin penjawab telepon sudah membantu pekerjaan resepsionis begitupun mesin ATM yang membantu pekerjaan teller.

Tak berhenti sampai disini, kedepannya pekerjaan profesional yang membutuhkan analisis pun akan tergantikan. Algoritma-algoritma yang semakin cerdas bersama digitalisasi data yang tinggi suatu saat nanti akan mewujudkan hal tersebut. Terlebih lagi dengan adanya IoT yang membuat semua benda saling terhubung melalui internet ke sistem siber data besar, tidak ada lagi batasan antara manusia dengan mesin.

Analisis Gartner menyebut pada 2020 akan ada 26 miliar perangkat yang terhubung ke internet dan ini merupakan sebuah jaringan internet raksasa di dunia di mana mesin-mesin ini saling bertukar data dan semakin cerdas.

Mesin akan menggantikan daya analisis manusia ketika harus memberi keputusan, misalnya dalam soal pemberian pinjaman atau investasi untuk suatu perusahaan dengan melihat rekam jejaknya pada data siber.

Meski demikian, rontoknya banyak perusahaan besar dan hilangnya pekerjaan di era disrupsi ini sebenarnya membuka pula berbagai peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru. Seperti yang telah kita ketahui, Revolusi Industri 4.0. mengawali babak baru perkembangan dunia industri. Jika pada zaman dahulu pasar dalam negeri dikuasai korporasi besar dunia, di era disrupsi yang rentan ini, pasar menjadi lebih egaliter dan memiliki banyak celah yang dapat ditembus oleh usaha-usaha baru dalam negeri.

Oleh karena itu, generasi milenial seharusnya semakin kreatif. Jangan sampai peluang-peluang yang terbuka ini justru dipenuhi teknologi-teknologi impor. Mari kita tunjukkan bahwa anak-anak Indonesia juga mampu ikut andil di era digital, bahkan untuk menembus pasar dunia.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia juga sudah mempersiapkan Making Indonesia 4.0, yang merupakan sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan strategi dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Oleh karena itu, sebagai penerus tongkat estafet pemimpin negara Indonesia, generasi milenial tentunya mampu memanfaatkan sarana yang sudah disiapkan pemerintah ini.

Revolusi Industri 4.0 sejatinya memiliki sisi gelap yang tak terelakkan. Namun, dibalik itu semua, Revolusi Industri 4.0 juga menyimpan banyak kebermanfaatan serta memiliki sisi cerah yang memberi banyak peluang bagi masyarakat. Hanya saja diperlukan keaktifan yang lebih untuk menjaga kestabilan dalam masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas dan berpendidikan, sudah sewajarnya kita menjadi penggerak masyarakat-masyarakat disekitar kita untuk peduli dengan perubahan-perubahan yang terjadi akibat era disrupsi ini. Jangan sampai kita acuh dan masa bodoh jika disekitar kita masih ada orang diam saja atau bahkan menolak beradaptasi dengan era ini.

 

Ditulis oleh:

Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi
Departemen Teknik Biomedik
Angkatan 2017
Koordinator Liputan ITS Online

Berita Terkait