ITS News

Sabtu, 12 Juni 2021
23 Desember 2019, 21:12

Tumbuhkan Budaya Ramah Lingkungan dengan Eco-Shift

Oleh : itsai | | Source : ITS Online

Prof Dato’ Seri Ir Dr Zaini Ujang saat memberikan materi pada kuliah tamu

Kampus ITS, ITS News — Kondisi lingkungan akan selalu menjadi sorotan masyarakat dan perlu aksi nyata untuk menyelamatkannya, salah satunya dengan cara Shift yang digagas Prof Dato’ Seri Ir Dr Zaini Ujang. Hal itu disampaikannya pada kuliah tamu bertajuk Sustainable Environmental Development yang digelar oleh Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kamis (19/12).

Melalui pemaparannya dengan tema ECOSHIFT: From Climate Action to “Climate Culture”, Prof Dato’ Seri Ir Dr Zaini Ujang mengenalkan peserta tentang bagaimana mengatasi permasalahan lingkungan yang kini semakin tidak terkendali. Suatu gerakan perubahan yang disebutnya shift itu menjadi gagasan utama bagi guru besar Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini.

Sama-sama memiliki arti perubahan, Zaini Ujang memaparkan bahwa terdapat perbedaan antara Change, Transform , dan Shift. Change merupakan perubahan dengan skala terkecil yakni 50 persen. Transform memiliki skala perubahan yakni 75 persen, dan Shift berarti perubahan dengan skala lebih dari seratus persen. “Membenahi trotoar yang rusak adalah change, kalau membuat seluruh orang sadar dan menggunakan trotoar adalah Shift,” ungkapnya memberi contoh.

Mantan sekretaris jenderal Kementerian Tenaga, Sains, Teknologi, Alam Sekitar & Perubahan Iklim Malaysia itu melanjutkan bahwa Shift tersebut dapat diimplementasikan melalui penanaman nilai-nilai budaya ramah lingkungan. Budaya itu bisa muncul apabila kebiasaan (habit) dan tingkah laku (behavior) telah dipupuk sedari awal. “Habit dan behavior itu akan bermasalah apabila bertentangan dengan konsep ramah lingkungan,” jelasnya.

Profesor yang sudah menerbitkan 40 buku ini mengungkapkan bahwa ada banyak cara menumbuhkan budaya ramah lingkungan. Pembentukan regulasi yang mengikat adalah salah satunya. Seiring masyarakat terbiasa dengan budaya ramah lingkungan, akan terbentuk suatu sistem yang terus berulang, hingga tiba masa di mana sistem itu menjadi gaya hidup dan tanpa ada keterpaksaan. “Gaya hidup yang ramah lingkungan itu sebagai bentuk peduli mereka terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Menurut mantan Rektor UTM tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi parameter tercapainya budaya ramah lingkungan. Diantaranya rendah dalam penggunaan karbon, gerakan hijau, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, ekonomi yang berputar, juga penanaman pohon. “Dari semua itu, penggunaan karbon adalah yang paling penting,” imbuhnya.

Pun bagi Zaini Ujang, sipapun bisa membawa perubahan masif dengan apa yang ia sebut sebagai shift. Tidak terikat pada jabatan, kekayaan, maupun profesi yang dimiliki seseorang. Zaini memberi contoh beberapa pemuda yang hanya bermodalkan tekad, dapat merubah keadaan lingkungannya. “Mereka adalah Greta Thunberg dan Afroz Shah,” terangnya.

Berkaca pada kedua orang tersebut, Zaini berharap mahasiswa dapat melakukan segala perubahan terhadap lingkungan. Dimulai dengan menjadi polisi lingkungan dengan mengontrol hal-hal kecil seperti mencegah membuang sampah sembarangan. “Siapapun bisa berkontribusi pada lingkungan, kuncinya adalah tekad,” pungkasnya. (ai/id)

Potret Prof Dato’ Seri Ir Dr Zaini Ujang bersama para dosen dan beberapa peserta kuliah tamu

Berita Terkait