ITS News

Selasa, 20 April 2021
23 November 2019, 09:11

Bakti Kami untuk Negeri: Mahasiswa ITS Bantu Nelayan Surabaya Jaga Kualitas Ikan

Oleh : itssep | | Source : ITS Online

Dito Abrar Amanullah dan Reza Aulia Akbar Menunjukkan ES-Port Generasi Pertama di Laboratorium Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja Teknik Industri

Kampus ITS, ITS NewsBerlatar belakang melimpahnya kekayaan sumber daya ikan laut yang dimiliki Indonesia, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan tempat pendingin guna menyimpan ikan bertenaga surya. Dengan membawa konsep ramah lingkungan, produk ini dapat menyelesaikan permasalahan Kampung Nelayan Bulak Surabaya untuk menjaga kualitas hasil tangkapan.

Adalah Reza Aulia Akbar, Edrian Hamidjaya dan Dito Abrar Amanullah, tiga mahasiswa Departemen Teknik Industri ITS yang menciptakan teknologi bernama Eco Storage Portable (ES-PORT). Dito Abrar Amanullah menjelaskan, ES-PORT sendiri merupakan teknologi penyimpanan ikan berkonsep termoelektrik. “Konsep ini mengubah energi listrik yang dapat mengkonversi suhu sehingga menjadi lebih dingin,” ungkap pria yang akrab disapa Dito ini.

Dito memaparkan, ES-PORT ini merupakan alat inovasi untuk menjawab keresahan nelayan, khususnya daerah Bulak. Menurunnya kualitas hasil tangkapan nelayan disebabkan para nelayan masih menggunakan bongkahan es untuk mengawetkan ikan selama berjam-jam. Alhasil kesegaran hasil tangkapan nelayan menurun. “Ini juga sangat berpengaruh terhadap harga jual ikan di pasar,” imbuhnya

Dito yang juga menjabat sebagai Asisten Laboratorium Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja (EPSK) mengatakan, Alat bernama ES-PORT ini sangat ramah lingkungan. Pasalnya alat ini menggunakan panel surya sebagai pembangkit listrik. “Dengan begitu, nelayan dapat membawa alat ini untuk melaut,” papar mahasiswa Departemen Teknik Industri ini.

Mahasiswa asal Sidoarjo ini menambahkan, salah satu komponen yang penting dalam ES-PORT ini adalah Elemen Peltier. Dengan bantuan elemen tersebut, suhu pada tempat penyimpanan ikan dapat diturunkan dengan aliran listrik yang berasal dari panel surya. “Selain itu, kami juga menambahkan Ice Blue untuk memaksimalkan penurunan suhu,” jelasnya.

Dito melanjutkan, dengan kombinasi Ice Blue dan Elemen Peltier, suhu dalam tempat penyimpanan dapat diturunkan hingga minus 20 derajat celcius. Namun jika hanya menggunakan Elemen Peltier, suhu dalam penyimpanan hanya bisa sampai minus sepuluh derajat celcius. “Oleh sebab itu, kami mengkombinasikan keduanya untuk mencapai suhu minus yang maksimal,” imbuhnya.  

Dito juga menegaskan, ES-PORT ini dapat dipastikan ramah lingkungan dari semua komponen pembentuknya. Mulai dari badan ES-PORT yang terbuat dari bahan High-Density Polyethylene (HDPE). Plastik ini terbuat dari minyak bumi dan dapat didaur ulang. Selain itu Elemen Peltier yang digunakan juga tidak menghasilkan Chlorofluorocarbon (CFC). “seperti pendingin ruangan yang dapat beresiko merusak lapisan ozon bumi,” tambahnya.

ES-PORT Generasi Pertama yang Dilombakan pada Ajang Descomfirst 2019

Senada dengan Dito, anggota tim yang bernama Reza Aulia Akbar atau akrab disapa Reza juga menjelaskan, sebenarnya alat ini mampu untuk menggunakan baterai. Namun karena baterai akan menghasilkan limbah ketika energi nya habis, maka digunakan panel surya. “Manfaat panel surya lainnya yakni ketika ES-PORT dibawa melaut pagi hingga siang hari, nelayan tidak takut kehabisan energi listrik,” tegasnya.

Reza melanjutkan, pada awal pembentukan ES-PORT, tim melakukan observasi langsung ke Kenjeran Surabaya. Observasi ini dilakukan untuk menentukan teknologi yang tepat dibutuhkan masyarakat. Selain itu, ditemukan permasalahan belum efektifnya penyimpanan ikan untuk menjaga kualitas kesegarannya. “Selama ini para nelayan hanya menggunakan es batu untuk mendinginkannya,” lanjut mahasiswa kelahiran tahun 1997 ini..

Reza melanjutkan, prinsip kerja pendinginan dengan es batu kurang maksimal. Pasalnya dari keseluruhan ikan yang didinginkan dengan es batu, tujuh persennya membusuk. “menurut kebanyakan masyarakat di Kampung Nelayan Bulak Surabaya, hal ini merugikan,” papar pria yang meraih peringkat dua Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) ITS 2018 ini.

Setelah observasi dilakukan, akhirnya tim merancang ES-PORT generasi pertama yang masih berbahan akrilik. Alasannya adalah karena pada saat itu, HDPE yang direncanakan belum dapat digunakan. “Kami melakukan desain ulang hingga tiga kali untuk memaksimalkan fungsi dari ES-PORT ini,” tegasnya.

Reza melanjutkan, setelah merancang prototype, teknologi tersebut diuji langsung dengan mengikuti kegiatan nelayan saat mengambil ikan. Selain itu, tiga orang mahasiswa Departemen Teknik Industri ini juga bereksperimen dengan hasil tangkapan nelayan. Mereka menguji kesegaran ikan saat dibiarkan lama di tempat biasa, di tempat tertutup dengan es batu, dan di ES-PORT “Alhasil, lanjut Reza ikan yang disimpan di ES-PORT lah yang memiliki kesegaran tahan lama dan tidak ada yang busuk,” imbuhnya.

Reza meneruskan, nelayan yang berada di Kampung Nelayan Bulak Surabaya sangat merasa terbantu dengan hadirnya alat ini. Jika dihitung secara ekonomi, alat ini dapat mengurangi pengeluaran nelayan tiap harinya.Teknologi ES-PORT diestimasikan bernilai 1,5 juta, secara ekonomi, hanya butuh waktu dua minggu agar nelayan balik modal. “Membeli alat Ini akan jauh lebih murah daripada membeli es batu setiap hari,” tambahnya.

M Sanusi, Nelayan Kenjeran menggunakan ES-PORT untuk mengawetkan hasil tangkapan

Saat ini, reza dan timnya sedang mengembangkan ES-PORT generasi kedua yang menggunakan bahan HDPE sesuai rancangan awal tim. Badan dari ES-PORT generasi kedua ini pun bersifat bongkar pasang sehingga dapat disesuaikan besarnya sesuai dengan kebutuhan. “Kami juga mengembangkan model ES-PORT berbentuk tas, sehingga lebih memudahkan ketika dibawa nelayan saat melaut,” paparnya.

Meski masih dalam proses pengembangan, Reza mengungkapkan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah mengajak kerjasama untuk mengembangkan alat ini. oleh sebab itu, pentingnya pengembangan ES-PORT generasi untuk memaksimalkan fungsinya. “Harapan kedepannya teknologi ini dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat Indonesia terutama nelayan dan ikan sebagai kekayaan sumberdaya Indonesia juga terjaga kualitasnya,” tutupnya. (sep/qin)

Berita Terkait