ITS News

Minggu, 25 Juli 2021
22 November 2019, 15:11

Bakti Kami untuk Negeri: Pengabdian Masyarakat HMTL, Dari Edukasi Hingga Sanitasi

Oleh : itsfat | | Source : ITS Online

Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS di bawah HMTL ITS saat melakukan pengabdian masyarakat di Desa Lebak Rejo.

Kampus ITS, ITS News — Kewajiban untuk melaksanakan tri dharma perguruan tinggi agaknya telah dipahami betul oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Hal tersebut dibuktikan oleh pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITS. Tak sekedar memberikan edukasi, mereka juga mengimplementasikan ilmu yang mereka miliki untuk meningkatkan sanitasi di desa binaanya.

Adalah Desa Lebak Rejo yang merupakan tempat dimana mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan ITS melakukan pengabdian selama empat tahun terakhir ini. Disampaikan oleh Ketua Divisi Sosial Masyarakat HMTL, Muhammad Awaluddin bahwa desa tersebut berjarak sekitar 70 kilometer dari ITS.

Mahasiswa yang akrab disapa Awaluddin ini mengaku bahwa jika dibandingkan dengan kampung-kampung binaan himpunan lain, desa yang berada di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur tersebut tergolong jauh. “Namun, hal tersebut tak lantas mengurangi niat kami (HMTL ITS, red) untuk menyambangi dan mengimplementasikan ilmu di sana (Desa Lebak Rejo, red),” ujarnya.

Awaluddin menjelaskan bahwa program yang diberi nama Kampung Mitra HMTL ini merupakan program jangka panjang yang dirancang selama empat tahun dan memiliki tahapan dan tujuan berbeda untuk setiap tahunnya. Ia juga menyebutkan bahwa tahun ini, HMTL telah merampungkan kemitraannya dengan Desa Lebak Rejo.

Pada tahun pertama, program pengabdian masyarakat ini berfokus pada penghijauan. Kemudian, pada tahun kedua program ini difokuskan pada pengelolaan sampah. Sedangkan pada tahun ketiga dan keempat, program ini memiliki fokusan untuk melakukan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Bukan tanpa alasan, mahasiswa angkatan 2016 ini mengutarakan bahwa pembangunan IPAL dipilih karena belum tersedianya instalasi pengolahan limbah domestik di sana. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan air terutama untuk menyiram tanaman memantik ide pembangunan IPAL ini tercetuskan.

IPAL yang dibangun ini terdiri dari empat kompartemen. Kompartemen ini yang akan menampung air limbah untuk diproses secara anaerob. Di dalam kompartemen ini pula, padatan limbah akan mengalami pengendapan. Akibatnya, terjadi penurunan polutan organik dalam setiap kompartemen dan air yang dihasilkan pada kompartemen terakhir menjadi lebih bening.

IPAL di Desa Lebak Rejo, hasil pengabdian masyarakat HMTL ITS

Proses pembangunan IPAL ini tidak selalu mulus. Awaluddin bercerita sempat terjadi kendala dengan kontraktor dan protes dari warga karena dinilai hasilnya kurang maksimal. Proses perbaikan dan pemasangan instalasi kemudian senantiasa dilakukan sehingga pembangunan sempat molor hingga satu tahun. Dalam pemeliharaannya, IPAL juga membutuhkan pengecekan berkala terhadap ketinggian lumpur dalam kompartemen. “Kalau sudah tinggi, berarti harus dilakukan penyedotan,” terangnya.

Meskipun demikian, pada akhirnya Ia mengaku IPAL sudah bisa bekerja serta mendapatkan antusiasme  masyarakat desa yang cukup tinggi. “Terutama untuk menyiram tanaman, tidak perlu pakai air PDAM lagi,” terangnya.

Di sisi lain, Winarsih, salah seorang warga RT 1 Desa Lebak Rejo mengungkapkan bahwa warga Lebak Rejo belum pernah menggunakan air dari IPAL yang tersedia. Alasannya, IPAL belum memiliki saluran penghubung ke rumah-rumah warga. Menurutnya, adanya jarak antara rumah warga dan letak IPAL membuat warga kesulitan memanfaatkan IPAL.

Interaksi Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS dengan warga Desa Lebak Rejo

Namun, Ia mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi HMTL ITS ini. Menurutnya, mahasiswa ITS sangat telaten dalam memberikan bimbingan dan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya dengan adanya program ini, masyarakat menjadi lebih paham akan kebersihan lingkungan. Program terkait sampah juga telah mengantarkan Desa Lebak Rejo berada di peringkat 125 besar program Merdeka Dari Sampah tahun 2016. Program ini merupakan inisiasi Pemerintah Surabaya dalam rangka memperbaiki sanitasi Surabaya.

Selain program-program yang difokuskan untuk setiap tahunnya tersebut, ada pula kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh mahasiswa ITS guna mengisi waktu luang saat tidak diperlukan pengecekan IPAL. “Mengingat waktu empat tahun bukanlah waktu yang sebentar, kami juga memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal lain sosialisasi, monitoring, dan pengajaran anak-anak,” pungkasnya. (fat/rur)

Suasana pengajaran dalam pengabdian masyarakat HMTL ITS.

Berita Terkait