ITS News

Minggu, 11 April 2021
13 November 2019, 10:11

Kemenkes Ajak Mahasiswa ITS Optimalkan Alat kesehatan Lewat FGD

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

(dari kiri) Dr Achmad Arifin MEng, Agung Nugroho Oktavianto ST Msi, dan Dr rer nat Agus Rubiyanto MengSc dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Medical Physics and Biomedical Engineering

Kampus ITS, ITS NewsGuna mengenalkan kegunaan alat kesehatan (alkes) kepada mahasiswa,Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Medical Physics and Biomedical Engineering. Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Departemen Fisika ini dihadiri Agung Nugroho Oktavianto ST Msi dari Direktorat Kementerian Kesehatan, Jumat (8/11).

Acara yang dipimpin Dr rer nat Agus Rubiyanto Meng Sc ini memaparkan Isu penggunaan alkes di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan ha yangl serius. Salah satu aspek utama dalam penggunaan adalah aspek kualitas. Aspek ini menjadi hal utama dalam pemilihan alkes baik alkes dari dalam maupun luar negeri.

Agung, selaku pembicara, menekankan peningkatan kualitas alkes buatan dalam negeri. Karena hingga saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan alkes masih bergantung pada impor. “Oleh sebab itu perlunya peningkatan kualitas dan kemampuan alkes buatan Indonesia,” papar Sekretaris Kompartemen Manajemen Keteknisian Medis dan Keterapian Fisik Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) 2015 – 2018 ini..

Agung memaparkan, Indonesia sendiri memiliki beberapa industri alkes. Dengan memanfaatkan alkes dalam negeri, tentunya dapat meningkatkan perkembangan industri alkes. “Meskipun pengadaan alkes di Indonesia bersifat terbuka, namun perlunya perlakuan khusus seperti di negara Malaysia, China dan Turki,” terangnya.

Tak hanya itu, Agung melanjutkan, preferensi pengguna dan manajemen terhadap penggunaan produk dari luar negeri juga perlu untuk diperhatikan. Pria berkacamata tersebut berharap terdapat peningkatan layanan purna jual produk dalam negeri. “Termasuk ketersediaan suku cadang alkes di perusahaan atau institusi,” ungkapnya.

Agung menjelaskan, pengadaan inkubator di laboratorium dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk  digunakan dan dikembangkan dalam bidang riset. Kondisinya alkes buatan dalam negeri saat ini belum melembaga secara optimal di rumah sakit. “Hal itu disebabkan banyaknya alat kesehatan yang dikembangkan lembaga riset atau industri tidak sesuai dengan kebutuhan rumah sakit,” ujarnya.

Agung menyatakan, sebagai end-user, para dokter dalam negeri terbiasa menggunakan produk impor. Oleh sebab itu, perlu digalakkan untuk menggunakan produk  alkes dalam negeri. “Agar ekosistem industri alkes di indonesia dapat terbangun dengan baik dan seimbang,” imbuhnya.

Agung menambahkan, hal-hal yang perlu ditingkatkan dalam upaya pengembangan bidang kesehatan di ITS adalah dengan menginovasikan alkes. Salah satu cara nya yakni dengan memiliki inkubator sendiri. “Sebagai kampus favorit, sudah seharusnya ITS tidak hanya berfokus pada tatanan melainkan juga pengembangan potensi, termasuk potensi alkes,” tuturnya.

Sebagai Kepala Seksi (Kasie) Peralatan dari Direktorat Kementerian Kesehatan saat ini, Agung menggalangkan mahasiswa untuk mengoptimalkan alkes dalam negeri. ITS yang merupakan institusi bidang teknik sudah seharusnya berada di barisan paling depan dalam pengembangan bidang kesehatan. “Kita harus mengubah paradigma kita. Jika kita tidak bisa mengubah citra diri kita maka kita akan menjadi insan yang terbelakang,” pungkasnya. (chi/qin)

 

Penyerahan plakat oleh Dr rer nat Agus Rubiyanto MengSc kepada Agung Nugroho Oktavianto ST Msi.

Berita Terkait