ITS News

Selasa, 09 Maret 2021
09 November 2019, 12:11

Mencintai Rasul Lewat Tindak Kasih Kepada Keturunannya

Oleh : itsmad | | Source : ITS Online

Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, salah seorang Ulama kharismatik dunia dari kalangan Ahlul Bait

Kampus ITS, Opini – Sebagai salah satu tinggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya, keturunannya sudah selayaknya mendapat penghormatan dan rasa cinta seperti yang beliau terima. Sebagaimana anjuran dari sahabat termulia Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq  yang mengatakan, “Cintailah Muhammad melalui cinta kepada para keturunannya (Ahlul Bait).”

Dalam Islam sendiri, Allah SWT dan Rasul-Nya telah mewajibkan seorang muslim untuk hormat dan cinta kepada Ahlul Bait. Namun khusus bagi Rasulullah, penentuan keturunannya diambil dari putri kesayanganya yakni Fathimah Az-Zahro. Hal ini ditegaskan oleh hadis yang memiliki arti, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dalam sulbinya. Dan Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib.”

Lebih lanjutnya, perintah terkait Ahlul Bait ini kemudian dijelaskan sebagai salah satu dari dua hal yang mesti dipegang teguh oleh umat Rasulullah. Seperti bunyi hadis berikut, Aku tinggalkan dua perkara yang sangat berharga pada kalian. Yang pertama adalah kitab Allah, yang kedua adalah Ahlul Bait-ku,” riwayat Imam Muslim. Meskipun dalam riwayat Hakim disebutkan, “Yang kedua adalah sunnahku.” Namun riwayat Imam Muslim diakui lebih kuat dalam periwayatannya.

Tak hanya itu, Alquran melalui surah Asy-Syura ayat 23 pun mengatur perintah untuk mencintai Ahlul Bait. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada  kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku.” Dengan demikian, telah jelas bahwa perintah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait juga merupakan perintah langsung dari Allah yang wajib dipatuhi.

Namun, meski telah kuat dasarannya, ternyata masih terdapat pihak yang tidak dapat menerimanya perintah tersebut. Mereka yang demikian berpandangan bahwa semua manusia itu sejatinya sama, hanya amal dan takwalah yang membedakannya di hadapan Allah. Dan ungkapan tersebut tidaklah keliru, hanya saja perlu diingat kembali bahwa selain hubungan manusia dengan Tuhan yang harus dijaga. Ada pula hubungan manusia dengan manusia yang juga perlu dipupuk dengan baik. Yang salah satu contohnya adalah bersikap lebih baik terhadap orang tertentu, dengan melihat faktor-faktor seperti usia, kedudukan, nasab, dan juga yang termasuk Ahlul Bait.

Mesti digarisbawahi pula, pemuliaan terhadap Ahlul Bait ini lantas jangan dijadikan sebagai alasan untuk merendahkan mereka yang ahwal (bukan Ahlul Bait). Sebab para Ahlul Bait sendiri tidak dididik untuk gila akan sikap hormat dari para pencitanya (muhibbin). Sebagaimana yang dicontohkan oleh salah satu kakek moyang Ahlul Bait, Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Dimana tidak pernah ditaruhnya rasa benci kepada Umar bin Sa’ad, pembunuh ayahnya di Padang Karbala. Pembalasan setimpal dalam syariat Islam (qishas) pun tidak dilakukannya.

Hal inilah yang kemudian turut diajarkan kepada anak cucu Ahlul Bait, sehingga menjadi akhlak khasnya. Dan hingga saat ini, sikap hangat para Ahlul Bait kepada muhibbin-nya pun dapat berupa apa saja. Mulai dari sambutan yang hangat beserta jamuan yang memuaskan kala mendapat kunjungan, hingga bantuan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Pada akhirnya, hal inilah yang menjadikan masyarakat mudah menerima dakwah dan keberadaan Ahlul Bait, terutama di negeri muslim seperti Indonesia ini.

 

Ditulis oleh :

Akhmad Rizqi Shafrizal

Mahasiswa Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS

Angkatan 2018

Reporter ITS Online

Berita Terkait