ITS News

Sabtu, 12 Juni 2021
22 Oktober 2019, 08:10

Empat Departemen di ITS Bersinergi Mengkaji Potensi Gempa di Surabaya

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Pakar Geologi ITS, Dr Ir Amien Widodo MSi

Kampus ITS, ITS News – Adanya potensi gempa yang mengancam Kota Surabaya, menuntut institusi pendidikan melakukan kajian terhadap potensi gempa bumi tersebut. Empat departemen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang diwakili oleh Departemen Teknik Geofisika, Departemen Teknik Sipil, Departemen Teknik Geomatika, dan Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) saling bersinergi meneliti patahan lempeng bumi yang melewati Kota Surabaya dan mengkaji potensi gempa yang mungkin terjadi.

Berdasarkan keterangan pakar Geologi ITS, Dr Ir Amien Widodo MSi, penelitian mengenai patahan atau sesar aktif ini merujuk pada peta gempa yang dikeluarkan oleh Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (PuSGeN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Pembangunan Rakyat (PUPR) pada tahun 2017.

Terdapat dua sesar aktif yang melalui Kota Surabaya, yaitu Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Sesar tersebut berpotensi menyebabkan gempa dengan kekuatan 6.5 Skala Richter (SR). Skala 6.5 SR tersebut sudah cukup besar untuk menghancurkan area yang berada dalam radius 160 km dari pusat gempa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa dengan kekuatan 6.0-6.9 SR mampu mengakibatkan runtuhnya bangunan, retakan tanah, dan lumpuhnya infrastruktur. Sehingga, perlu ada kajian mengenai dampak potensi gempa yang ada.

Dalam hal ini, empat departemen di ITS akan memiliki peran dan fungsi masing-masing untuk menyukseskan kajian potensi gempa tersebut. “Kami sudah menentukan peran dari masing-masing departemen dalam mengkaji potensi gempa ini,” ungkap Dosen Departemen Teknik Geofisika tersebut.

Amien, sapaan akrabnya, menjelaskan peran dari Departemen Teknik Geofisika yaitu menentukan sifat penyusun tanah yang ada di Surabaya. Menurut Amien, sifat penyusun tanah dinilai berpengaruh terhadap kekuatan gempa. “Tanah yang tersusun atas batuan memiliki daya hantar gempa yang kecil dan kerusakan bisa diminimalisir,” terangnya.

Dalam menentukan sifat penyusun tanah, dilakukan pengujian dengan cara pengambilan sampel tanah. Nantinya sampel yang sudah diambil akan dilakukan uji coba di Laboratorium Fisik. Dari uji coba tersebut dihasilkan sebuah peta yang berkaitan dengan kecepatan maksimum gelombang gempa yang melewati batuan.

“Penelitian ini lebih ke arah scanner (pemindaian) sehingga cenderung menggunakan alat-alat geofisik seperti geolistrik, geoseismik, mikrotremor, geomagnet, dan sebagainya,” ujar ahli mitigasi bencana tersebut.

Selain itu, Departemen Teknik Geofisika juga mencari tahu fakta-fakta mengenai bidang patahan yang lewat. “Contohnya yaitu dengan mencari posisi patahannya ada di mana, miringnya ke arah mana, dan sebagainya,” tutur Amien.

 

Dua patahan lempeng yang melewati Kota Surabaya yaitu Sesar Surabaya dan Sesar Waru

Selanjutnya, Amien menjelaskan mengenai peran dari Departemen Teknik Sipil. Departemen ini berkontribusi dalam menguji ketahanan bangunan. Amien menyebutkan bahwa pada tahun pertama penelitian, Departemen Teknik Sipil melakukan uji coba terhadap ketahanan bangunan sekolah. “Hal itu dilakukan untuk menilai seberapa besar kerusakan yang dialami bangunan apabila diguncang gempa 6.5 SR,” jelas alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut.

Setelah melakukan pengujian terhadap bangunan sekolah, pengujian tersebut mulai dilakukan untuk melihat kekuatan bangunan tinggi. Bangunan tinggi yang diuji adalah bangunan dengan ketinggian lebih dari 23 meter. “Dari hasil penelitian tersebut, diperkirakan jumlah bangunan yang kemungkinan rusak akibat adanya gempa mencapai 30 persen ke atas,” ungkap Kepala Laboratorium Geofisika tersebut.

Sementara peran dari Departemen Teknik Geomatika, lanjutnya, berfokus pada deformasi permukaan. Hal itu dilakukan dengan melihat wujud perubahan permukaan bumi yang sewaktu-waktu terjadi, seperti melihat naik turunnya permukaan bumi. “Dari situ bisa ketahuan ada beberapa tempat yang statusnya naik terus walaupun hanya dalam satuan mili dan ada juga tempat yang turunnya kencang dibandingkan yang lain,” jelasnya.

Terakhir, peneliti di Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS itu menjelaskan tentang peran dari Departemen PWK. Departemen PWK bertugas untuk menggandeng para pemangku kepentingan, seperti Dinas Cipta Karya dan Penataan Ruang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan sebagainya untuk melakukan kerja sama terkait kajian potensi gempa bumi yang dilakukan.

Kedepannya, Amien berharap hasil kajianya ini akan mendapat tindak lanjut dari Pemerintah Kota Surabaya. Selain itu, ia juga meminta supaya edukasi terkait mitigasi bencana dapat dilakukan di Kota Surabaya untuk mencerdaskan masyarakat tentang adanya potensi gempa bumi. “Pengeluaran Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di sekitar sesar, pencerdasan masyarakat, dan perencanaan mitigasi non-struktural perlu dipertimbangkan,” pungkasnya. (ion32/bel)

Berita Terkait