ITS News

Sabtu, 16 November 2019
13 Oktober 2019, 06:10

Torehkan Prestasi Hingga ke Turki, Ini Motivasi Bayucaraka

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Rektor ITS menyerahkan trofi penghargaan kepada Tim Bayucaraka dalam acara Launching KRTI di Gedung Pusat Robotika ITS.

Kampus ITS, ITS News –  Satu lagi tim andalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tidak bosan mengukir prestasi. Adalah Bayucaraka, tim yang baru saja menjuarai 2019 Tübitak International Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Competition kategori Fixed Wing di Istanbul, Turki. Termotivasi oleh Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Tim Bayucaraka ITS memposisikan diri sebagai garda terdepan pengembangan teknologi robot terbang.

Di bawah arahan General Manager (GM) Putu Wisnu Bhaskara Putrawan, tim yang bergelut dalam bidang robot terbang ini berhasil mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan dalam kompetisi yang digelar September lalu tersebut.

Mengungkap faktor-faktor pendorong suksesnya Tim Bayucaraka ITS, Ahmad Iqbal Pratama, salah satu anggota tim Bayucaraka ITS mengaku bahwa timnya memiliki motivasi tersendiri dalam membuat dan mengembangkan robot mereka.

Selain untuk mengharumkan nama almamater ITS hingga lingkup internasional, Iqbal menyebutkan jika Ia dan tim juga ingin meneruskan perjuangan BJ Habibie. Hal tersebut lantaran, BJ Habibie merupakan tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam dunia industri pesawat terbang dunia.

“Semangat dari beliau (BJ Habibie, red) untuk terus berkarya dalam dunia teknologi membuat kami ingin mengikuti jejaknya,” Imbuh Iqbal.

Bagi tim Bayucaraka, tokoh yang terkenal dengan sebutan ‘Mr Crack’ ini merupakan panutan dan teladan bagi mereka untuk terus berkarya, menggembleng diri, dan senantiasa menciptakan inovasi dalam dunia robot terbang dengan bimbingan para dosen.

Oleh karena itu, wafatnya presiden ketiga Indonesia tersebut pada 11 September lalu menjadi duka yang mendalam bagi Tim Bayucaraka. Selain kehilangan salah satu putra terbaik bangsa, mereka pun kehilangan sosok yang selama ini menjadi panutan mereka dalam berkarya.

Meski demikian, hal tersebut tak lantas menghentikan langkah mereka untuk terus berkarya. Iqbal mengatakan jika Ia dan tim bertekad untuk meneruskan perjuangan BJ Habibie sebagai generasi penerus bangsa. “Setelah beliau (BJ Habibie, red) wafat, lantas siapa yang akan meneruskan perjuangan beliau, jika bukan generasi muda seperti kita,” ujar mahasiswa Departemen Teknik Komputer ITS tersebut.

Bergelut dalam bidang robot terbang bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Apalagi, Tim Bayucaraka ITS hampir tidak pernah absen untuk menyabet prestasi setiap ajang lomba yang mereka ikuti. Salah satunya yaitu 2019 Tubitak UAV Competition.

“Hal tersebut tak terlepas dari kerja keras dan ketekunan dari semua anggota tim,” ungkapnya.

Iqbal juga mengungkapkan, meneruskan perjuangan para tokoh bangsa tidak cukup jika hanya berusaha mengembangkan melalui penelitian saja. Menurutnya, penelitian-penelitian tersebut harus diimplementasikan. Salah satunya melalui perlombaan-perlombaan untuk akhirnya menjadi generasi yang prestatif.

Perjuangan dalam 2019 Tubitak UAV Competition

Melirik prestasi Tim Bayucaraka ITS dalam ajang 2019 Tubitak UAV Competition. Pencapaian tersebut bukanlah hal yang biasa. Pasalnya, untuk memperoleh gelar tersebut, mereka harus berlomba dengan 108 finalis yang berasal dari 30 negara yang berbeda.

Iqbal mengaku bahwa pesawat mereka memiliki desain yang sangat sederhana karena dirancang berdasarkan perhitungan dan bahan-bahan yang sangat ekonomis. “Saat tim-tim lainnya memiliki desain pesawat yang super elegan, pesawat milik kami hanya didesain menggunakan triplek, kayu balsa, dan styrofoam saja,” ungkapnya kepada reporter ITS Online.

Meski demikian, pesawat milik Tim Bayucaraka ITS tersebut mampu terbang dengan sangat stabil. Pesawat ini pun hanya memiliki bobot 1,4 kilogram saja dan bisa dibongkar pasang. Hal tersebut yang menjadi keunggulan pesawat mereka.

Walaupun melalui proses yang cukup panjang hingga pada titik ini, Iqbal mengaku bahwa Ia dan tim tak kesulitan membagi fokus antara kuliah dan latihan. Ia menyampaikan, bahwa kuncinya adalah jika ingin menekuni sesuatu, kita harus menjadikannya sebagai hobi dan kesenangan. Dengan begitu, hasil maksimal tak sulit untuk dicapai.

“Kebetulan membuat robot terbang ini merupakan hobi kami (Tim Bayucaraka its, red), jadi kami menikmatinya” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.

Iqbal juga mengimbau seluruh mahasiswa ITS, untuk tidak menjadikan kuliah sebagai alasan untuk berhenti berkarya. “Jangan hanya karena kesibukan di kelas, kita (mahasiswa ITS, red) lupa bahwa banyak kesempatan untuk menorehkan prestasi dan mengharumkan almamater ITS dan Indonesia,” pungkasnya. (ion3/rur)

Berita Terkait