ITS News

Selasa, 22 Oktober 2019
09 Oktober 2019, 17:10

R2SEP Bekali Mahasiswa Tingkat Akhir Perihal Plagiarisme

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Prof Kosuke Heki, salah satu pembicara, ketika menjelaskan tentang publikasi internasional dalam acara Researcher & Researcher Student Enrichment Program (R2SEP)

Kampus ITS, ITS News — Plagiarisme, membajak, maupun menjiplak dapat dianggap sebagai tindak pidana. Demi mengurangi plagiarisme di kalangan mahasiswa, utamanya mahasiswa tingkat akhir, Direktorat Hubungan Internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar acara Researcher & Researcher Student Enrichment Program (R2SEP),  Selasa (8/10).

Dilaksanakan di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS, acara R2SEP dibuka oleh Prof Dr rer nat Irmina Kris Murwani Msi. Ia menjelaskan bahwa plagiarisme, disadari atau tidak, banyak dilakukan. “Plagiarisme bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, kejujuran akademik sangat diperlukan,” ujar Kepala Pusat Pengelola Hak Kekayaan Intelektual ITS itu.

Untuk menghindari plagiarisme, Irmina memaparkan bahwa apabila ide tulisan bukanlah pemikiran pribadi, dapat diterapkan parafrase atau penguraian kembali suatu karangan dalam susunan kata yang lain tanpa melupakan sitasi atau kutipan. Parafrase dengan plagiarisme adalah hal yang berbeda. Parafrase memungkinkan penulis untuk memberi penekanan yang berbeda dengan penulis lain walaupun makna yang dihasilkan sama.

Selain parafrase, Irmina menganjurkan mahasiswa untuk menggunakan piranti lunak yang asli. Menggunakan perangkat bajakan, menurutnya, juga termasuk dalam plagiarisme. “Gunakanlah software asli, apalagi ketika membuat skripsi. ITS sudah sediakan,” terangnya.

Melanjutkan Prof Irmina, Prof Kosuke Heki yang juga didapuk sebagai pembicara, mengibaratkan sitasi seperti buah, di mana informasi yang didapatkan dari sebuah tulisan bisa langsung ‘dikonsumsi’. Sehingga sitasi tidak boleh dilupakan begitu saja.

Profesor dari Hokkaido University ini menjelaskan bahwa jumlah publikasi internasional naik dari tahun ke tahun. Di mana publikasi ilmiah menjadi yang paling banyak dipublikasikan. Penelitian ilmiah harus tetap berlanjut baik satu kali ataupun dua kali tiap tahunnya.

Pria yang telah mempublikasikan 180 karya ini melanjutkan, ada beberapa hal yang dapat memotivasi orang untuk menulis sebuah karya ilmiah. Diantaranya untuk mendapatkan gelar, promosi kenaikan jabatan, dana yang didapat untuk melakukan sebuah riset, dan juga pengakuan dari orang lain.

“Dalam menulis, ikuti saja templat yang sudah ada. Gunakan juga gaya bahasa yang ringkas. Jika diperlukan, gunakanlah aplikasi untuk mengetahui kesalahan tata bahasa jika menulis karya dalam Bahasa Inggris,” pungkasnya memberi pesan. (ion5/id)

Prof Dr rer nat Irmina Kris Murwani MSi ketika mengisi materi untuk mengajak mahasiswa tingkat akhir agar tidak melakukan plagiat

Berita Terkait