ITS News

Sabtu, 21 September 2019
11 September 2019, 13:09

Diskusi Pakar ITS Mengenai Tantangan Pemimpin Surabaya di Masa Depan

Oleh : itssep | | Source : its online

Para Pakar ITS saat berdiskusi di Ruang Redaksi Jawa Pos

Kampus ITS, ITS News – Masa kepemimpinan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, akan berakhir pada 2020 mendatang. Pertanyaan mulai bermunculan mengenai siapa yang akan memimpin Surabaya serta tantangan apa yang akan dihadapi ke depannya. Memandang akademisi memiliki perspektif paling jujur, Jawa Pos mengundang para pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mendiskusikannya.

Tantangan besar yang akan dihadapi oleh walikota Surabaya ke depannya menurut Prof Dr Ir Johan Silas adalah mengenai kesiapan Kota Surabaya menjadi sentra logistik dalam pembangunan ibukota negara yang baru. Hal itu didukung dengan banyaknya pabrik logistik yang ada di Surabaya dan sekitarnya. “Menjadi tantangan besar walikota Surabaya kedepannya karena posisi sentral Surabaya di Indonesia Timur serta kemungkinan menjadi kota penyokong ibukota yang baru,” ucapnya.

Selain itu, walikota Surabaya ke depannya harus mulai memikirkan agar Surabaya memiliki peran dalam kemajuan beberapa kota di sekitarnya. Hal itu dimaksudkan agar banyak kota di sekitar Surabaya tidak terlalu bergantung pada Kota Surabaya. “Caranya adalah dengan membantu kota sekitar Surabaya untuk tumbuh sehingga ketergantungan dan kepadatan di Surabaya dapat menurun,” ungkap pakar Arsitektur dan Tata Kota ITS ini.

Senada dengan Johan, Dr Dra Agnes Tuti Rumiati MSc mengungkapkan, sejatinya walikota Surabaya sudah seperti setengah gubernur Jawa Timur. Hal itu dikarenakan peran besar Surabaya sebagai tolok ukur kemajuan Jawa Timur. “Perlunya kolaborasi lebih dengan pemerintah provinsi agar daerah sekitar Surabaya dapat berkembang dan tidak menjadi beban ke depannya,” jelasnya.

Tantangan lain yang juga sekaligus menjadi tugas yang belum terselesaikan sejak dulu adalah memperbaiki sistem transportasi di Surabaya. Menurut Pakar Transportasi ITS, Ir Hera Widyastuti, permasalahan transportasi di Surabaya adalah belum terintegrasinya dengan baik semua moda angkutan umum di Surabaya. “Banyak dari mahasiswa saya yang masih bingung ke tengah kota Surabaya harus naik angkutan umum apa saja,” ceritanya.

Hal itulah yang harus menjadi fokus utama pemimpin Surabaya selain menjadi sentra logistik. Menjadi kota penyuplai logistik baik untuk ibukota baru maupun kota di sekitarnya tentu harus memiliki sistem transportasi yang baik untuk mempermudah suplai barang maupun kebutuhan lainnya.

Berbagai tantangan tersebut tidak terlepas dari mulai setaranya Surabaya dengan kota-kota maju di dunia dalam hal pengelolaan birokrasi pemerintahan. Menurut Dr Ir Endroyono DEA, transparansi dalam birokrasi pemerintah Kota Surabaya saat ini sudah baik karena didukung konsep smart city yang sudah dikembangkan sejak lama. “Konsep smart city yang sudah ada menjadikan setiap bidang yang ada di pemerintahan saat ini sudah terintegrasi dengan baik,” ujarnya.

Salah satu dosen Departemen Teknik Elektro ITS ini juga mengungkapkan, walikota baru nanti tidak perlu membuat gagasan atau ide baru mengenai pemerintahan. Cukup dengan melanjutkan konsep smart city yang sudah ada dan menyelesaikan permasalahan lainnya dengan baik. “Tinggal jalankan semua platform yang sudah ada, saat ini Surabaya sudah jauh meninggalkan kota lainnya di Indonesia dalam hal integrasi pemerintahan,” ucapnya.

Pakar Perencanaan Wilayah dan Kota ITS, Ir Putu Rudy Setiawan MSc menjelaskan, figur pemimpin Surabaya ke depannya harus memiliki iman dalam pembangunan. Iman dalam pembangunan ini dimaksudkan bahwa harus meneliti lagi semua rancangan pembangunan yang sudah ada dan mengimplementasikannya. “Mengaculah pada norma pembangunan serta rancangan pembangunan lima tahun yang sudah ada,” tambahnya.

Melanjutkan pernyataan Rudy, Adjie Pamungkas ST MDev Plg PhD mengungkapkan, perlu untuk memperhatikan modernitas dalam pembangunan tanpa menghilangkan warisan lokal yang ada. Warisan lokal berupa perkampungan lama harus dijaga seiring berkembangnya pembangunan gedung tinggi di Surabaya. Selain itu, pencegahan bencana gempa bumi juga harus mulai dipikirkan pemerintah Kota Surabaya sejak dini. “Hal ini seiring ditemukannya dua sesar aktif di sekitar Surabaya yang berpotensi mengakibatkan gempa bumi,” tutupnya. (sep/owi)

Berita Terkait