ITS News

Selasa, 12 November 2019
22 Agustus 2019, 18:08

Panduan Makan untuk Mahasiswa Baru

Oleh : itsowi | | Source : https://www.its.ac.id

Ilustrasi panduan makan mahasiswa baru oleh M Ridha Tantowi

Kampus ITS, Opini – Serangkaian proses penerimaan mahasiswa baru sudah rampung. Begitupun dengan masa orientasi kampus yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Ibarat seorang bayi yang baru terlahir, mahasiswa baru ITS dicekoki berbagai jenis asupan bergizi sebut saja seperti pelatihan spiritual, psikotes, IPITS, Gerigi, hingga OK2BK, dan tidak lupa kaderisasi internal masing-masing departemen. Asupan-asupan ini diyakini akan mampu membentuk pribadi mahasiswa yang lebih tangguh, cekatan, kreatif, yang mengenal lingkungan belajarnya, yang mengenal teman-teman seperjuangannya hingga empat tahun ke depan.

Hanya itu saja? Oh tentu tidak. Di samping manfaat tadi, diyakini masih banyak manfaat tak kasat mata lainnya yang akan sangat berguna bagi mahasiswa baru kelak.

Saya, sebagai yang pernah mengambil peran mahasiswa baru lima tahun silam, pun sepakat. Setelah enam tahun menjadi seorang yang anti sosial ketika di bangku sekolah menengah, saya pun lantas bertransformasi menjadi seorang yang baru, namun tentu saja, masih jauh dari kata baik, alih-alih seorang aktivis.

Berbagai aktivitas di tahun pertama perkuliahan di ITS membuat saya seolah-olah tidak memiliki pilihan. Padahal, ini murni kekeliruan. Sebab, semua keputusan berada di tangan kita masing-masing.

Setelah berbagai jenis orientasi, mahasiswa baru dihadapkan dengan banyak pilihan. Ada berbagai macam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), beraneka ragam latihan kepemimpinan, tidak lupa rupa-rupa komunitas yang mengedepankan jiwa sukarelawan. Dari banyaknya pilihan yang ada, seringkali mahasiswa baru lupa bahwa lambung manusia memiliki kapasitas yang terbatas.

Menurut buku Holt Biology: Visualizing Life (Johnson, 1994), lambung manusia bisa menampung hingga 4 kg makanan. Namun, faktanya, rata-rata lambung manusia hanya bisa menampung hingga 1 kg makanan saja dalam sekali santapan.

Jika dipaksakan makan melebihi angka rata-rata, hasilnya tentu saja membahayakan. Makanya, di usia menuju kedewasaan ini pun, rupanya mahasiswa masih butuh panduan makan yang tepat.

Mahasiswa baru bukanlah robot, bukan pula Tuhan yang bisa melakukan aktivitas banyak dalam waktu yang bersamaan. Belum lagi perkara kesehatan, rasa lelah, dan kemungkinan berujung pada permasalahan kesehatan mental. Saya pun dulunya termasuk salah satu mahasiswa yang ada di kategori ini, berasa dewa, tapi aslinya tidak berdaya.

Sampai suatu ketika saya diserang oleh berbagai macam permasalahan klasik ala mahasiswa. Tugas keteteran, budaya terlambat lambat laun mendarah daging, prinsip dan komitmen digadaikan, tanggung jawab pun seperti remah-remah rempeyek yang berserakan karena harus membelah diri layaknya amoeba. Hingga muncul perasaan bersalah dan hilang arah.

Padahal, mahasiswa baru harusnya sudah menentukan apa yang akan mereka kejar. Dari tujuan yang sudah konkrit tersebut, dibuatlah target-target kecil yang bisa memudahkan langkah menuju tujuan yang besar tadi. Jadi, tidak ada istilahnya ikut ini dan itu hanya karena ajakan teman, gaya-gayaan, atau bahkan sungkan ketika harus menolak dan bilang tidak.

Ketika kita masuk ke sebuah tempat -apapun itu- mau tidak mau, kita harus bisa belajar dan berkontribusi semaksimal mungkin. Seketika kita belajar sesuatu yang baru, tugas kita bukan hanya untuk belajar, melainkan memikirkan pula apa yang akan kita lakukan dengan ilmu yang telah diperoleh tadi.

Selayaknya memikirkan apa yang akan kita lakukan setelah menyantap makanan super enak.

Pilihan yang memungkinkan serupa tidur atau beraktivitas dengan energi yang sudah didapatkan dari ekstraksi makanan tadi?

Saya rasa, mahasiswa sudah bisa bijak menyikapi setiap keputusan yang dihadapinya. Termasuk menyoal keputusan setelah makan seperti ini.

VIVAT!

Ditulis oleh:
Muhammad Ridha Tantowi
Mahasiswa Departemen Arsitektur
Angkatan 2014
Pemimpin Redaksi ITS Online

Berita Terkait