ITS News

Selasa, 19 November 2019
17 Agustus 2019, 16:08

DNA ITS

Oleh : itsnews | | Source : -

Cr: ITS Website, Photo Source: 1 2 3

Kampus ITS, Opini – Sabtu, 17 Agustus 2019, Pak Rektor ITS menyampaikan bahwa ITS berada di urutan ke-4 dalam pemeringkatan oleh Kemenristekdikti. Capaian ini lebih baik dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-6. Tiga posisi yang lebih tinggi diduduki oleh ITB, UGM dan IPB. Menurut Pak Rektor, penilaiannya berdasarkan kinerja 3 tahun terakhir dan beberapa aspek bahkan dinilai sejak tahun berdirinya.

Suatu makhluk tumbuh kembang dari unsur-unsur penyusun renik hingga memiliki bentuk wujudnya. Suatu makhluk tersusun dan terbedakan dari makhluk lainnya, apabila dilihat dari gugus DNA(deoxyribonucleic)-nya. DNA akan membentuk materi genetika yang terdapat di dalam tubuh tiap orang. Bahkan, DNA diwariskan dalam generasi dan keturunan selanjutnya. Demikian pula dalam suatu organisasi. Ia didirikan dari gagasan-gagasan dan visi dari para pendirinya. Yang kemudian diteruskan hingga menjadi suatu bentuk organisasi yang memiliki kiprah dan kontribusi.

Adalah menarik untuk memperhatikan awal-awal pendirian suatu perguruan tinggi. Yang dapat dianalogikan sebagai DNA penyusun awal. Yang nantinya akan diwariskan kepada generasi penerus insan civitas akademikanya.

Nama ITB secara resmi diberikan pada 2 Maret 1959. Kampus ini, sebelumnya telah berdiri dengan nama Technische Hoogeschool (THS) te Bandung pada 3 Juli 1920. THS ini merupakan perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda, sebelum masa kemerdekaan. THS ini didirikan atas prakarsa badan swasta Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië.

Universitas Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan pada tanggal 3 Maret 1946. Pendirian kampus ini dibidani oleh Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenario, Dr. Soleiman, dr. Boentaran Martoatmodjodan Dr. Soeharto. Adapun Institut Pertanian Bogor (IPB) didirikan pada 1 September 1963. Cikal bakal IPB sendiri memiliki akar sejarah yang cukup panjang, yakni keberadaan Kebun Raya Bogor yang didirikan pada tahun 1817, dan gagasan untuk mendirikan Landbouwhogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian) dan Veeartsenijkundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan sejak 1918.

Sedangkan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) didirikan pada 10 November 1957 oleh Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT). YPTT adalah badan swasta yang didirikan oleh seorang dokter, dr. Angka Nitisastro pada 17 Agustus 1957. Dan baru pada tahun 1960, ITS berubah status dari swasta menjadi perguruan tinggi negeri. Pendirian ITS dipelopori oleh dr. Angka Nitisastro, Ir. Soedjasmono, dan Kyai Haji Yahya Hasyim. Perjuangan mereka juga didukung oleh pejuang kemerdekaan Ruslan Abdulgani. Pada perkembangan selanjutnya, pembebasan lahan kampus keputih seluas 187 Ha, juga didukung oleh para donatur dan warga kampung keputih yang rela melepas asetnya.

ITS tidak didirikan sepenuhnya oleh akademisi atau ilmuwan. Pendirinya adalah dokter, insinyur, tokoh agama dan didukung donatur dan rakyat pada umumnya. Bahkan dosen-dosen di masa awal adalah para praktisi atau para insinyur. Tidak ada yang bergelar doktor apalagi profesor. Sehingga, bisa dikatakan masih minim dari kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan sebagaimana semestinya. Jika dibandingkan dengan ketiga perguruan tinggi di atas, jelas “initial condition” ITS jauh tertinggal.

Namun, intangible asset yang berupa spirit perjuangan, spirit kebangsaan yang justru melesatkan ITS menjadi perguruan tinggi papan atas. Nama ITS diambilkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, 10 November 1945. YPTT sebagai induk ITS pada waktu itu, didirikan pada tanggal peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Para pendiri ITS sengaja menjadikan ITS sebagai kampus perjuangan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan perjuangan mengisi kemerdekaan. Semangat inilah yang kiranya menjadi salah satu “DNA” penting ITS: semangat perjuangan dan semangat kebangsaan.

Kiranya arwah para pahlawan 10 November tidak “tinggal diam” di alam sana. Kita yakin bahwa mereka mencermati para penerus perjuangannya. Dan kiranya, mereka turut “mendukung” perjuangan ITS. Dan semoga Tuhan YME senantiasa meridhoi dan memberkahi para pejuang dan perjuangan ITS.

Capaian prestasi ITS di masa sekarang ini, bisa jadi tidak dibayangkan sepenuhnya oleh para pendiri ITS. Bahkan juga oleh para senior kita. Namun demikian, capaian hari ini adalah juga hasil jerih payah dan perjuangan para pendiri, para senior, para alumni dan keluarga besar ITS. Sedangkan ikhtiar kita di masa kini, boleh jadi akan dipetik buahnya di masa yang akan datang. Dan bahkan, bisa jadi dengan capaian yang di luar bayangan para pelaku masa kini.

Dengan spirit perjuangan dan kebangsaan, ITS telah mewujud menjadi kampus untuk Indonesia. Saatnya bagi kita untuk memperluas cakrawala perjuangan. Dari ITS untuk Dunia. Semoga. AMH

 

Oleh:

Agus Muhamad Hatta, ST, MSi, PhD

Dosen Teknik Fisika ITS

Fakultas Teknologi Industri

Berita Terkait

ITS Media Center > Opini > DNA ITS