ITS News

Sabtu, 16 November 2019
13 Juni 2019, 15:06

Bagaimana Industri 4.0 dan Society 5.0 Bantu Ciptakan Kesejahteraan

Oleh : itsmis | | Source : www.its.ac.id

Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan 2007 -2009 saat memberikan materi pada seminar yang diselenggarakan oleh MMT ITS.

Jakarta, ITS News – Revolusi industri 4.0 telah memicu digitalisasi dan otomatisasi di berbagai sektor dalam proses industri. Hal tersebut memungkinkan terjadi perubahan besar dalam model bisnis, sehingga memunculkan usaha baru dan mendisrupsi bisnis mapan konvensional yang telah lama ada. Belum selesai dengan itu, Jepang muncul dengan konsep society 5.0 yang menjadikan manusia berada di pusat perkembangan teknologi. Lantas, mampukah kedua era inovasi itu menciptakan kesejahteraan umat manusia?

Topik itu lah yang mengemuka dalam seminar bertajuk Technology 4.0 and Society 5.0: How Technology Creates Prosperity for All, yang diselenggarakan oleh Departemen Manajaemen Teknologi (MMT), Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Acara yang digelar atas kerja sama dengan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Academy itu berlangsung di Ballroom Ali Sadikin, Graha BKI, Jakarta pada Rabu (22/05).

Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan Indonesia 2007 – 2009 didapuk sebagai pembicara utama dalam acara tersebut. Selain itu, terdapat juga Direktur Utama BKI, Dr. Rudiyanto, serta Chairman PT. Assist Exiqna Persada, Sri Budi Mayaningsih. Seminar tersebut dimoderatori oleh presenter Brigita Manohara.

Dalam seminar itu, para pembicara menyoroti mengenai maraknya perkembangan revolusi industri 4.0 yang telah mengubah proses industri dalam berbagai sektor. Mulai dari proses desain, produksi, penyimpanan, pemindahan barang, pemasaran, hingga transportasi. Menurut mereka, digitalisasi telah memungkinkan terjadinya pemusatan kekuatan ekonomi yang lebih keras dibandingkan model bisnis konvensional.

Tak hanya digitalisasi, otomatisasi juga selain menguntungkan pelaku bisnis, juga membawa beberapa dampak yang signifikan. Penggunaan robot dalam operasional pergudangan dan penggunaan drone untuk pengiriman barang telah menimbulkan ancaman terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan. Labor Institute mencatat, sebanyak 100 ribu warga kehilangan pekerjaan mereka di tahun 2018 akibat digitalisasi dan otomatisasi.

Kepala Departemen Manajemen Teknologi ITS, Prof. Ir. I Nyoman Pujawan., M.Eng., Ph.D., CSCP saat memberikan sambutan.

Di sisi lain, Jepang muncul dengan konsep Society 5.0 yang menjadikan manusia berada di pusat perkembangan teknologi. Konsep Society 5.0 berupaya menciptakan keseimbangan antara teknologi sebagai pemicu perkembangan ekonomi dan sebagai sarana untuk meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan sosial masyarakat.

Implementasi dari Society 5.0 ini meliputi pengolahan data yang masif di ruang maya (cyberspace) yang dikumpulkan dari aktivitas manusia dan benda-benda fisik lainnya. Hasil olahan tersebut akan menjadi dasar dalam keputusan yang menciptakan efisiensi, keamanan, kenyamanan, kesehatan, serta distribusi kesejahteraan yang lebih berimbang.

Para pembicara yang hadir juga mengaitkan perkembangan tersebut dengan kondisi Indonesia saat ini. Sehingga muncul beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku bisnis, perusahaan BUMN, dan juga pemerintah Indonesia. Di antaranya bagaimana institusi di Indonesia dapat mengurangi dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut, seperti mengurangi emisi, mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, meningkatkan partisipasi industri nasional, dan mencegah runtuhnya pranata sosial di masyarakat.

Seminar tersebut selain menjadi sarana bertukar pikiran mengenai perkembangan revolusi industri 4.0 dan society 5.0, juga sarana memperkenalkan program baru dari MMT ITS yang kegiatan belajar mengajarnya digelar di Jakarta. Program tersebut adalah program S2 profesional pada bidang Project Management, Supply Chain Management, dan Business Analytics. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program ini, dapat diakses di its.ac.id/mt.

Beberapa peserta seminar berfoto bersama para pembicara.

Berita Terkait