ITS News

Selasa, 28 September 2021
22 April 2019, 01:04

Perubahan Iklim, Ancaman Terbesar Penduduk Bumi

Oleh : itsrur | | Source : ITS Online

Ilustrasi Perubahan Iklim (sumber: shutterstock.com)

Kampus ITS, Opini- Beberapa tahun terakhir, planet kita seolah tak pernah absen dari berbagai musibah. Tak sedikit diantaranya yang memakan korban jiwa, termasuk di Indonesia. Sebagaimana laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan bahwa 90 persen bencana yang terjadi pada tahun 2018 adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca. Hal ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh terjadinya dampak climate change (perubahan iklim).

World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019 juga menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem. Hal ini sesuai laporan New York Times yang mengatakan bahwa 50 persen dari seluruh spesies yang ada di bumi akan mengalami kepunahan pada abad ini.

Ilustrasi Perubahan Iklim (sumber: shutterstock.com)

Tidak hanya itu, perubahan ini juga memberi dampak serius terhadap berbagai sektor, di antaranya sektor kesehatan, pertanian, perekonomian. Selain itu, migrasi terpaksa (involuntary migration) akibat perubahan iklim berujung pada ketidakstabilan sosial dan politik yang mendalam. Berdasarkan pemaparan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahaya perubahan iklim bukan sekedar isapan jempol belaka.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah wadah komunikasi internasional mengenai perubahan iklim menyatakan, penyebab terbesar perubahan iklim ialah peningkatan suhu permukaan bumi (global warming). Global warming sendiri terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.

IPCC pada tahun 2007 mengeluarkan pernyataan bahwa penyebab terbesar global warming adalah hasil kegiatan manusia yang mengeluarkan GRK. Gas yang secara alami didapatkan dari sumber penguapan dan erupsi ini akan mengisi lapisan atmosfer dan akan memantulkan radiasi matahari kembali ke bumi sehingga suhu bumi meningkat.

GRK hampir dihasilkan oleh semua sektor kegiatan berbahan bakar fosil, limbah organik, dan bahan pendingin pada alat elektronik. Kegiatan-kegiatan seperti deforestasi, pengelolaan sampah yang buruk, dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pun menambah produksi emisi GRK. Bagaikan pedang bermata dua, program yang awalnya ditujukan untuk membantu masyarakat mendapatkan akses listrik, justru menuntut harga yang lebih mahal untuk dibayarkan dikemudian hari.

Pemerintah dan masyarakat seharusnya sadar terhadap ancaman yang dapat menyebabkan bencana katastropik ini. Keterlibatan semua pihak terutama aktor non pemerintah sangat dibutuhkan, karena akan membentuk kekuatan bottom-up baru untuk tata kelola iklim. Permasalahan perubahan iklim ini adalah permasalahan setiap orang yang ada di bumi, maka setiap orang harus bertindak.

Sebagai contoh adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi memegang peranan kunci untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset di Indonesia terutama mengenai perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Terlebih lagi, perguruan tinggi sebagai pencetak pemuda-pemuda penerus bangsa, merupakan tempat yang strategis untuk menempa mental penerus bangsa agar mampu memahami dan berani menyuarakan kepeduliannya terhadap perubahan iklim.

Oleh karena itu, tepat di momen Hari Bumi, Senin (22/4) ini, marilah kita bersama-sama menyelamatkan bumi kita dari segala macam malapetaka yang diakibatkan oleh perubahan iklim tersebut. Kita awali dengan menjauhkan segala yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dari diri kita, keluarga, dan lingkungan. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Ditulis oleh:

Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi
Mahasiswa Teknik Biomedik
Angkatan 2017

Berita Terkait