ITS News

Senin, 24 Juni 2019
10 Januari 2019, 06:01

Menyampaikan Pesan untuk Kebaikan Bumi melalui Film Fiksi

Oleh : itsmis | | Source : -

Urut dari kiri atas kebawah (Dimas Putra Nanda Waspodo, Aprilia Wahyu Novita Ika Saputri, Priyo Hadi Warodoyo) bawah duduk (Tyjani Robit Syaifunnuwas)

Kampus ITS, ITS News – Mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil merebut juara film terbaik kategori fiksi di ajang Sidoarjo Film Festival (SFF) 2018. Mengambil topik tentang sampah, empat mahasiswa ITS yang tergabung dalam KiPS Films mengemas film bergenre fiksi ilmiah guna menyadarkan masyarakat akan permasalahan sampah.

Sampah sudah menjadi permasalahan pelik di seluruh dunia. Di Indonesia saja ada 65,8 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahunnya. Namun kesadaran masyarakat Indonesia akan masalah ini masih tergolong rendah. Menurut riset Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hanya 20 persen masyarakat yang peduli terhadap isu kebersihan dan kesehatan. Masalah inilah yang menginspirasi empat mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS untuk membuat film fiksi berjudul My Great Grandfather.

Film ini sendiri diproduksi oleh Priyo Hadi Warodoyo, Dimas Putra Nanda Waspodo, Tyjani Robit Syaifunnuwas, dan Aprilia Wahyu Novita Ika Saputri. Dengan hobi yang sama, yakni membuat film, keempatnya membentuk kelompok bernama KiPS Film dan memberanikan diri mengikuti SFF yang sekaligus diselenggarakan sebagai wadah apresiasi sineas dan pelaku film.

Mengambil latar belakang di masa depan, film ini menggambarkan lingkungan masa depan yang sangat memprihatinkan karena banyaknya sampah. Tokoh utama dalam film tersebut digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yatim piatu yang memiliki keinginan mengubah keadaan lingkungannya. Ia pun kemudian membuat sebuah mesin waktu untuk kembali ke masa lalu mencari akar dari permasalahan sampah tersebut.

Di dalam perjalanan tokoh utama di masa lalu, ia menemukan seseorang yang membuang sampah ke sungai sehingga ia langsung menegurnya. Namun tokoh utama justru tertabrak dan kemudian diselamatkan pembuang sampah tadi, yang ternyata kakek buyutnya. Dari sinilah kisah mereka dimulai. “Cerita ini dibuat imajinatif dan memberi pesan bahwa daripada berpangku tangan, masih banyak cara untuk memperbaiki keadaan lingkungan yang dapat kita lakukan,” ujar Hadi.

Tak dapat dipungkiri bahwa permasalahan sampah di dunia belum memiliki jalan keluar yang efektif dan efisien. Melalui film ini tim KiPS Film mengharapkan pesan agar sadar kebersihan lingkungan dapat tersampaikan dengan baik. Cukup dengan membuang sampah pada tempat semestinya sudah menyelamatkan kehidupan yang akan mendatang. (ram/mik)

Berita Terkait