ITS News

Selasa, 28 Juni 2022
25 Desember 2018, 02:12

Kasih Sayang Ibu, Tak Terikat Dimensi Waktu

Oleh : itsmis | | Source : -

Kasih sayang ibu tak termakan usia

Opini, ITS News – Sosok ini begitu besar jasanya bagi setiap insan di dunia, bahkan sejak mereka dilahirkan. Kehadirannya bak penenang dalam ruang kebingungan, bak penyemangat dalam keputusasaan, bak penawar kala rindu menyengat. Berlebihan? Bagiku tidak. Malah masih kurang untuk menggambarkan kasih sayangnya. Saking kuatnya kasih sayang itu, sampai-sampai pedang paling tajam di dunia (waktu) tak mampu menebasnya.

Ungkapan kasih ibu sepanjang masa mungkin terdengar klasik, namun memiliki makna yang sangat dalam jika dikaji. Bagaimana tidak, Ia harus berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan gumpalan daging bermuka lucu. Nyawa tak lagi penting baginya asalkan, bisa mendengar tangisan pertama anak mereka.

Ibu adalah orang yang paling pertama marah ketika anaknya berlaku nakal, paling pertama menasihati ketika anaknya berlaku tidak baik. Ibu hanyalah sesosok wanita yang berusaha keras menghindarkan anaknya dari keburukan. Ingatlah juga bahwa ibu lah sosok wanita pertama yang akan sedih, menangis, sekaligus berusaha menguatkan apabila anak-anaknya mengalami kegagalan.

Ibu akan menjadi wanita pertama yang membela mati-matian anaknya di depan orang banyak. Namun tidak lupa untuk mengingatkan jika anaknya lakukan kesalahan. Ibu akan menjadi wanita pertama yang siap mendengarkan keluh kesah anaknya. Namun tidak lupa untuk tetap membangkitkan semangat kepadanya.

Ketika kita alami banyak kesuksesan, keinginan dan cita-cita telah tercapai, banyak prestasi juga sudah dalam genggaman. Ingatlah bahwa ada ibu yang senantiasa mendoakan di rumah. Ingatlah bahwa itu juga hasil dari doa-doa ibumu yang telah lalu. Khususnya bagi para mahasiswa yang berada jauh dari rumah untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, ingat bahwa jangan kecewakan ibu yang berada di rumah yang tidak henti-hentinya berdoa dan berharap kebaikan bagi anaknya.

Sempatkanlah walau sejenak untuk menghubungi ibu di kampung halaman. Selalu ingatlah bahwa suara dan kehadiranmu sangat diharapkan ibumu. Ia akan selalu mengingat bahwa anak yang dulu begitu nyaman ditimangnya sekarang harus berada jauh dari dia. Suka atau tidak suka, memiliki waktu bersama dengan anak walau sedikit akan selalu dihargai.

Tidak lupa doakanlah ibumu. Beri segenap waktu dan usahamu untuk membahagiakan ibumu. Beri kasih sayangmu kepada ibu yang selalu mengharapkanmu. Jangan buat ibumu kesepian di masa tuanya kelak. Jangan hiraukan dia sampai tidak sadar bahwa usia terus bertambah. Jangan menyesal tidak sempat membalas kasih sayangnya hingga ia tiada.

Surga ada di telapak kaki ibu. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa betapa mulianya sosok ibu. Bahkan dalam islam, seorang ibu tetap menjadi tanggung jawab anak laki-lakinya meskipun mereka sudah memiliki keluarga. Setidaknya meskipun belum setimpal, hal itu menjadi momen untuk membalas jasa ibu yang akan semakin lemah dimakan usia.

Dalam perspektif sejarah, 22 Desember ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 sebagai hari ibu. Hal ini karena pada tanggal tersebut pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Yogyakarta tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

Dalam perspektif khusus, ada dua hari di Indonesia yang khusus diperuntukkan bagi perempuan. 4 April sebagai hari Kartini. Menghargai dedikasi sosok Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Dan juga, 22 Desember sebagai hari ibu. Menghargai ibu lebih dari sosok pahlawan bagi setiap insan. Menunjukkan bahwa ibu bukanlah sosok wanita biasa tanpa jasa. Melainkan wanita luar biasa tanpa tanda jasa.

Septian Chandra Susanto
Mahasiswa S1 Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan 2018
Reporter ITS Online

Berita Terkait